Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Lamongan (PDM) Lamongan, Fathurrahim Syuhadi SE, MM, M.Pd, hadir dan menyampaikan materi dalam kegiatan di Gedung Dakwah Pimpinan Cabang Muhammadiyah Brondong (PCM) Brondong, Ahad (22/2/2026).
Kegiatan bertajuk Baitul Arqam Guru dan Karyawan Muhammadiyah Cabang Brondong tersebut mengusung tema “Meneguhkan Ideologi, Spirit Islam Berkemajuan, untuk Meningkatkan Loyalitas Guru dan Karyawan terhadap AUM dan Persyarikatan.”
Di hadapan 116 peserta, pemateri yang juga menjabat sebagai Ketua Kwartir Wilayah HW Jawa Timur itu menyampaikan materi dengan penuh semangat. Pria kelahiran Payaman, Solokuro, Lamongan tersebut tampak menguasai dinamika gerakan di tingkat ranting dan cabang di wilayah Lamongan.
“Kekuatan sebuah organisasi tidak hanya ditentukan oleh struktur dan program kerjanya, tetapi terutama oleh kualitas kader yang menggerakkannya. Dalam konteks persyarikatan seperti Muhammadiyah, cabang dan ranting adalah jantung gerakan,” ujarnya mengawali paparan.
“Di sanalah denyut dakwah, pendidikan, dan pelayanan sosial berlangsung secara nyata. Maka, peran kader dalam penguatan kapasitas kelembagaan cabang dan ranting menjadi sangat strategis dan menentukan arah masa depan organisasi,” tegasnya.
Ia kemudian mengutip Al-Qur’an Surat Ali Imran ayat 104 yang menegaskan pentingnya adanya sekelompok orang yang menggerakkan misi kebaikan secara terorganisir.
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
Menurutnya, ayat tersebut menjadi dasar bahwa kerja dakwah bukanlah kerja individual semata, melainkan kerja kolektif yang terstruktur. Cabang dan ranting merupakan wujud nyata dari “segolongan umat” yang terorganisasi.
Ramanda Rahim—sapaan akrabnya—menegaskan bahwa organisasi tidak akan kuat tanpa kader yang militan, berilmu, dan berintegritas.
“Kader memiliki tiga peran utama dalam penguatan kapasitas kelembagaan,” terangnya.
Pertama, sebagai penggerak visi dan ideologi. Kader merupakan penjaga nilai yang memastikan setiap program cabang dan ranting tetap berada pada rel perjuangan. Tanpa pemahaman ideologi yang kuat, cabang dan ranting berpotensi terjebak dalam rutinitas administratif tanpa ruh gerakan.
Ia mengutip hadis riwayat Ahmad, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” Hadis tersebut, menurutnya, menjadi spirit bahwa kader tidak boleh sekadar menjadi pengurus formalitas, melainkan motor manfaat bagi umat. Cabang dan ranting yang kuat adalah yang programnya mampu menjawab kebutuhan masyarakat sekitar.
Kedua, sebagai penguat sistem dan manajemen organisasi. Kapasitas kelembagaan tidak hanya bertumpu pada semangat, tetapi juga tata kelola yang baik. Kader dengan kompetensi manajerial mampu menyusun perencanaan, mengelola administrasi, membangun jejaring, serta memastikan keberlanjutan program.
Ia juga mengutip QS. As-Saff ayat 4, “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur, seakan-akan mereka seperti bangunan yang kokoh.”
Ayat ini, jelasnya, mengajarkan pentingnya kerapian, keteraturan, dan soliditas dalam organisasi. Cabang dan ranting ibarat bangunan; tanpa sistem yang kokoh, ia mudah rapuh. Kaderlah yang menjadi batu bata penguat struktur tersebut.
Ketiga, sebagai agen regenerasi dan kaderisasi berkelanjutan. Organisasi yang besar adalah organisasi yang tidak kehabisan kader. Cabang dan ranting harus menjadi ladang kaderisasi yang hidup, di mana setiap kegiatan mengandung nilai pembinaan.
Ia mengutip hadis riwayat Muslim, “Barang siapa menunjukkan kepada kebaikan, maka ia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang melakukannya.” Hadis ini menegaskan pentingnya peran kader sebagai pembimbing dan mentor yang menyiapkan generasi penerus.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa penguatan kapasitas kelembagaan menuntut kader yang tidak hanya loyal, tetapi juga adaptif terhadap perubahan zaman. Di era digital, kader dituntut melek teknologi, mampu membangun komunikasi publik yang efektif, serta memperluas jejaring kolaborasi. Namun demikian, modernisasi tidak boleh mengikis nilai dasar perjuangan.
Ia menutup dengan penegasan bahwa cabang dan ranting yang kuat lahir dari kader yang berakhlak, kompeten, dan visioner. Jika kader tumbuh, organisasi akan kokoh. Sebaliknya, jika kader melemah, struktur sebesar apa pun akan kehilangan daya hidupnya.
“Penguatan kelembagaan pada hakikatnya adalah penguatan manusia di dalamnya. Organisasi bukan sekadar papan nama dan struktur, melainkan ruh perjuangan yang hidup dalam diri para kadernya,” pungkasnya. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments