
Idul Adha bukan hanya tentang penyembelihan hewan kurban, tapi juga tentang ketundukan total seorang hamba pada Sang Pencipta. (Istimewa/PWMU.CO).
Oleh: Nashrul Mu’minin – Content Writer Yogyakarta
PWMU.CO – Di balik gegap gempita penyambutan idul Adha, ada lapisan-lapisan perenungan yang sering terabaikan. Idul Adha bukan hanya tentang penyembelihan hewan kurban, tapi juga tentang ketundukan total seorang hamba pada Sang Pencipta, sebagaimana dipertontonkan Nabi Ibrahim dan Ismail.
Di tengah dunia yang semakin individualistik, momentum ini mengajak kita untuk merenung. Sejauh mana kita masih mampu mengorbankan ego demi nilai-nilai ilahi dan kemanusiaan?
Refleksi Ketakwaan
Idul Adha adalah refleksi ketakwaan yang konkret. Kurban, sebagai simbol utama, bukan sekadar ritual tahunan, melainkan ujian komitmen. Nabi Ibrahim diperintahkan mengorbankan sesuatu yang paling dicintainya—Ismail—dan ia lulus dengan kesetiaan tanpa syarat.
Hari ini, kita mungkin tidak diuji dengan pengorbanan sedahsyat itu, tetapi ujiannya tetap ada: apakah kita masih rela berbagi rezeki kepada yang membutuhkan?
Di tengah kesenjangan ekonomi yang kian melebar, semangat berkurban harusnya menjadi penyeimbang, mengingatkan bahwa sebagian harta kita adalah hak orang lain.
Namun, realitasnya, makna kurban sering terjebak dalam formalitas. Banyak yang berlomba menyembelih hewan termahal, tapi lupa pada esensi berbagi.
Ada yang berkurban untuk prestise, bukan karena kesadaran spiritual. Padahal, Rasulullah SAW mengingatkan bahwa yang sampai kepada Allah bukan daging atau darah hewan, melainkan ketakwaan kita (QS. Al-Hajj: 37).
Ini merupakan tamparan bagi mereka yang menjadikan kurban sebagai ajang pamer, sementara tetangga sebelah rumah kelaparan.
Keindahan Islam dalam Idul Adha
Di samping itu, Idul Adha juga mengajarkan solidaritas tanpa batas. Saat daging kurban dibagikan, tidak ada sekat agama, suku, atau status sosial. Semua berhak merasakan kebahagiaan ini. Di sinilah keindahan Islam terpancar: tidak ada diskriminasi dalam berbuat baik. Sayangnya, di beberapa tempat, politik identitas justru merusak nilai ini.
Ada yang mempertanyakan latar belakang penerima kurban, atau menjadikannya alat propaganda. Ini ironi, karena Idul Adha seharusnya mempersatukan, bukan memecah belah.
Tak kalah penting, kesyahduan Idul Adha terletak pada momen introspeksi. Sebelum menyembelih hewan, kita disunnahkan menyembelih sifat kebinatangan dalam diri: keserakahan, amarah, dan nafsu yang tak terkendali.
Inilah jihad akbar yang sesungguhnya. Di era digital, di mana kebencian mudah disebar dan permusuhan dipicu oleh perbedaan sepele, pesan ini relevan. Kita butuh “penyembelihan” sifat-sifat buruk agar bisa hidup harmonis dalam keberagaman.
Di Yogyakarta, nuansa Idul Adha terasa khas. Tradisi “apitan” (berbagi makanan) dan kerja bakti membersihkan lingkungan menjelang hari raya menunjukkan bahwa spiritualitas tidak terpisah dari sosial kemasyarakatan. Nilai-nilai lokal seperti ini memperkaya makna Idul Adha, membuktikan bahwa agama dan budaya bisa berjalan beriringan.
Maka, di ujung Mei ini, mari jadikan Idul Adha sebagai titik balik. Bukan sekadar hari raya biasa, tapi transformasi spiritual dan sosial. Kurban bukan hanya tentang hewan yang disembelih, tapi juga tentang “menyembelih” keangkuhan kita.
Solidaritas bukan hanya slogan, tapi aksi nyata. Dan kesyahduan bukan hanya dirasakan di masjid, tapi juga di hati setiap insan yang merindukan kedamaian. Selamat menyambut Idul Adha, semoga kita termasuk hamba yang layak dikurbankan—bukan fisiknya, tapi sifat-sifat buruknya.
Editor Danar Trivasya Fikri






0 Tanggapan
Empty Comments