Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menciptakan tujuh jalan untuk kita lalui sebagai “jalan pulang”. Jalan pulang menuju kampung hakiki, tempat setiap jiwa akan kembali setelah perjalanan panjang di dunia ini berakhir.
Kita bisa melalui salah satunya. Bahkan, jika Allah menghendaki dan kita bersungguh-sungguh, kita bisa menapaki lebih dari satu jalan sekaligus. Sebab hidup ini sejatinya adalah perjalanan mencari arah, agar ketika ajal tiba, kita tidak tersesat.
1. Jalan Keikhlasan
Jalan pertama diciptakan bagi hamba-hamba-Nya yang ikhlas. Ikhlas adalah melakukan sesuatu bukan karena ingin dipuji, bukan karena ingin dilihat, bukan pula karena ingin dihargai, tetapi semata-mata karena Allah.
Betapa banyak orang yang tampak beramal, tetapi letih karena manusia. Sebaliknya, ada orang yang bekerja diam-diam, membantu tanpa disebut namanya, memberi tanpa diketahui siapa pun. Hatinya tenang, karena ia tahu Allah melihat.
Seorang ibu yang bangun sebelum subuh, menyiapkan sarapan untuk keluarganya tanpa pernah menuntut ucapan terima kasih, sedang berjalan di atas jalan ikhlas.
Seorang guru yang mengajar sepenuh hati meski gajinya sederhana, tetapi tetap tersenyum dan mendoakan murid-muridnya, sedang menapaki jalan pulang itu.
Ikhlas mungkin tak terlihat manusia, tetapi di langit, ia bercahaya.
2. Jalan Kesabaran
Jalan kedua diciptakan bagi hamba-hamba-Nya yang sabar. Sabar bukan berarti pasrah tanpa usaha. Sabar adalah tetap taat saat sulit, tetap jujur saat terhimpit, tetap lembut saat disakiti.
Seorang ayah yang kehilangan pekerjaan, tetapi tetap berikhtiar dan menjaga keluarganya dari keluh kesah berlebihan—itulah sabar.
Seorang mahasiswa yang gagal ujian, namun bangkit kembali tanpa menyalahkan takdir—itulah sabar.
Seorang yang difitnah, tetapi memilih diam dan menyerahkan pembelaannya kepada Allah—itulah sabar yang berat, tetapi mulia.
Allah menjanjikan, “Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” Dan kebersamaan Allah adalah bekal paling kokoh dalam perjalanan pulang.
3. Jalan Tawakal
Jalan ketiga diciptakan bagi hamba-hamba-Nya yang tawakal. Tawakal adalah menyerahkan hasil kepada Allah setelah usaha maksimal dilakukan. Ia bukan alasan untuk bermalas-malasan, melainkan puncak dari keyakinan.
Petani yang menanam benih, menyirami, merawat, lalu berdoa agar hujan turun tepat waktu. Itulah tawakal.
Seorang dokter yang sudah berusaha semaksimal mungkin menyembuhkan pasiennya, lalu berdoa agar Allah yang menyempurnakan kesembuhan—itulah tawakal.
Tawakal membuat hati tidak mudah hancur oleh kegagalan dan tidak sombong oleh keberhasilan. Karena ia tahu, semua ada dalam genggaman-Nya.
4. Jalan Takwa
Jalan keempat diciptakan bagi hamba-hamba-Nya yang takwa. Takwa adalah menjaga diri dari apa yang Allah larang, meski tak ada manusia yang melihat. Ia adalah benteng batin.
Di zaman ketika peluang berbuat curang terbuka lebar, orang yang menolak korupsi meski tidak ada yang tahu, sedang menapaki jalan takwa.
Di saat gawai menawarkan tontonan yang tak layak, tetapi ia memilih memalingkan pandangan, itu adalah takwa.
Di tengah kesempatan untuk mengambil yang bukan haknya, tetapi ia mengurungkan niat karena takut kepada Allah, itu juga takwa.
Allah berjanji, “Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberinya jalan keluar dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.”
5. Jalan Syukur
Jalan kelima diciptakan bagi hamba-hamba-Nya yang banyak bersyukur. Syukur bukan hanya ucapan “Alhamdulillah”, tetapi kesadaran bahwa semua nikmat berasal dari Allah, lalu menggunakan nikmat itu untuk kebaikan.
Orang yang sehat lalu memanfaatkan kesehatannya untuk beribadah—itulah syukur. Orang yang diberi ilmu lalu mengajarkannya—itulah syukur. Orang yang diberi harta lalu berbagi—itulah syukur.
Syukur menjadikan yang sedikit terasa cukup. Sebaliknya, kufur menjadikan yang banyak terasa kurang.
6. Jalan Kebaikan
Jalan keenam diciptakan bagi hamba-hamba-Nya yang banyak berbuat kebaikan. Kebaikan tidak selalu besar. Tersenyum kepada saudara, menyingkirkan duri dari jalan, menenangkan hati orang yang gelisah—itu semua adalah kebaikan.
Ada orang yang mungkin tak dikenal luas, tetapi setiap hari membantu tetangga, menjenguk yang sakit, menyumbang tanpa publikasi. Ia mungkin tak viral di dunia, tetapi namanya harum di sisi Allah.
Rasulullah saw bersabda bahwa sekecil apa pun kebaikan, akan diperlihatkan balasannya. Tidak ada amal yang sia-sia.
7. Jalan Bakti kepada Orang Tua
Jalan ketujuh diciptakan bagi hamba-hamba-Nya yang berbakti kepada orang tua.
Ridha Allah tergantung pada ridha orang tua. Doa seorang ibu bisa menembus langit tanpa penghalang.
Seorang anak yang sabar merawat ibunya yang sudah renta, membersihkan tubuhnya, menyuapinya makan—itulah jalan yang sangat terang menuju akhirat.
Seorang anak yang tetap lembut kepada ayahnya meski pernah keras di masa kecilnya, sedang membuka pintu langit dengan baktinya.
Betapa banyak orang yang hidupnya dimudahkan karena doa orang tua. Dan betapa banyak pula yang hidupnya terasa sempit karena melupakan mereka.
Laluilah salah satu dari jalan itu, maka pintu langit insyaAllah akan terbuka untuk kita. Dan kita akan mengerti, bagaimana caranya pulang.
Namun jika kita tak juga menggapainya, berarti ada sesuatu yang salah dalam diri kita. Mungkin niat yang tercampur riya.
Mungkin hati yang keras. Mungkin dosa yang belum kita tobati. Yang utama bagi kita adalah banyak mengintrospeksi diri.
Duduk sejenak di malam hari, bertanya kepada hati: Sudahkah aku ikhlas? Sudahkah aku sabar? Sudahkah aku bersyukur? Sudahkah aku membahagiakan orang tuaku?
Karena waktu tidak pernah berhenti. Usia terus berkurang. Dunia hanyalah persinggahan. Jika waktu kita habis dan jalan pulang tak juga kita temukan, maka tempat kembali adalah Neraka Sijjin—na’udzubillahi min dzalik.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Kallā inna kitābal-fujjāri lafī sijjīn.”
“Sekali-kali jangan begitu! Sesungguhnya catatan orang-orang yang durhaka benar-benar tersimpan dalam Sijjin.” (QS. Al-Muthaffifin: 7)
Semoga Allah membimbing langkah kita di salah satu dari tujuh jalan itu. Agar ketika dipanggil pulang, kita tidak dalam keadaan tersesat, melainkan dalam keadaan siap kembali kepada-Nya. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments