Tak ada yang menyangka, perjalanan ke Banjarmasin pada 13–16 November 2025 dalam rangka CRM Award VI, ajang tahunan LPCRPM PP Muhammadiyah akan menjadi jejak terakhir seorang pendekar besar Tapak Suci.
KH Ahmad Kasuwi Thorif MA PBr, atau yang akrab disapa Abah Wi, wafat pada 18 November 2025 pukul 22.10 WIB, tepat di hari Milad Muhammadiyah ke-113. Dan sebelum hari itu tiba, beliau meninggalkan rangkaian kisah perjalanan yang sarat pelajaran, keteladanan, dan kehangatan.
Berangkat dengan Semangat Muda di Usia Senja
Sebagai Wakil Ketua PDM Lamongan yang membidangi LPCRPM, Abah Wi berangkat mendampingi PRM, PCM, dan masjid yang menjadi finalis CRM Award VI. Dalam rombongan PRM Godog, beliau ditemani Nastainul Hasan, Nasih Muhtarom, dan Fahmi.
Meski usia telah menginjak 72 tahun, semangatnya tak pernah meredup. Hari Rabu pukul 11.00 WIB, dengan batik dan jas IPSI kesayangannya sambil membawa tasbih, ia melangkah meninggalkan rumah. Rombongan sempat singgah di Masjid Maskumambang, Gresik untuk salat Zuhur, sebelum melanjutkan perjalanan.
Di tengah perjalanan, Abah Wi meminta makan soto Lamongan, menu favorit yang seakan mengisi kembali energinya. Namun setibanya di Bandara Juanda, terlihat jelas ia sangat lelah. Sebelumnya Abahwi Roadshow menguji Ujian Kader Pimwil II Tapak Suci Jawa Timur di Lumajang pada 7–9 November memang menguras tenaga.
Melihat kondisi itu, Nastainul Hasan mengajukan permintaan kursi roda ke pihak maskapai. Permohonan dikabulkan. Para petugas dengan sigap membantu, termasuk setibanya di Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin. Layanan penuh hormat untuk seorang pendekar—entah disadari atau tidak—serasa menjadi bentuk takzim terakhir untuk pengabdiannya.
Semangat yang Tak Mau Tumbang
Meski langkahnya berat, Abah Wi enggan tampak lemah. Ia tetap ingin langsung menuju Masjid Al-Jihad, lokasi acara CRM Award VI, dan… kembali meminta soto.
Selama empat hari di Banjarmasin, ia rutin meminta sarapan nasi Padang setiap pagi. “Itu yang membuatnya semangat,” kenang rombongan. Bahkan saat hendak pulang pada Ahad malam, ia kembali mengajak mencari nasi Padang. Seolah tubuhnya sudah mulai memberi tanda sebelum benar-benar berpulang.
Di Masjid Al-Jihad, sebuah peristiwa kecil justru menyisakan senyum bagi banyak peserta. Pada Sholat Subuh pertamanya, setelah imam mengucap salam, Abah Wi langsung bersuara lantang:
“Selesai salat sebaiknya ada kultum Subuh! Ayo panitia, diadakan kultum!”
Suasana masjid sontak menoleh ke arahnya. Panitia akhirnya menunjuk peserta dari Ketua PRM Klaten untuk mengisi kultum. Gaya lantang khas pendekar itu muncul kembali ketika ia mengingatkan takmir untuk segera iqomah. Begitulah Abah Wi—tegas, spontan, tulus.
Jarak hotel menuju masjid sekitar dua kilometer. Namun selama acara, meski tubuhnya jelas letih, ia tetap memilih salat berjamaah di masjid. Semangat mudanya seperti mengalahkan usia. Meskipun sempat mau terjatuh di lift hotel.
Kopi Tengah Malam dan Cerita Perjuangan
Di sela padatnya agenda, ada satu momen yang kini dikenang sebagai percakapan terakhir yang penuh makna. Suatu malam pukul 23.30 WITA, Abah Wi memaksa naik ojek ke Stand Expo PRM Godog yang dijaga Alfain Jalaluddin Ramadlan, Aiqon Farih Habiballah, dan Wisnu.
“Cong, Abah buatkan yang segar-segar,” pintanya.
Aiqon menawarkan menu yang ada, dan Abah memilih es kopi susu. Sambil menyeruput kopi, beliau bercerita panjang lebar—tentang masa mudanya dalam memberantas kemaksiatan, kisah melawan begal sendirian, hingga perjuangan membesarkan Tapak Suci di Lamongan.
Tepat pukul 00.25 WITA, ia pamit pulang ke Hotel Barito, sambil menyelipkan selembar uang seratus ribu. Aiqon menolak, tapi Abah memaksa:
“Diterima. Buat beli jajan.”
Ketika hendak memakai sandal pun, geraknya tampak sangat berat. Namun hatinya tetap ringan.
Beberapa kali ia kembali mendatangi stand hanya untuk minum kopi. Banyak peserta—terutama anggota Tapak Suci menghampiri untuk bersalaman dan berfoto. Mereka tahu, di hadapan mereka duduk seorang pendekar besar, pendiri Tapak Suci Lamongan.

Pertanyaan yang Seolah Menyiapkan Perpisahan
Di suatu malam di kamar hotel, Nastainul Hasan bertanya lirih:
“Bah… misal Abah meninggal, nanti di Godog siapa yang jadi panutan?”
Abah menjawab dengan tenang,
“Memang tinggal Abah yang paling tua yang tahu sejarah dan perjuangan para pendahulu.”
Seakan ia sudah tahu waktunya semakin dekat.
Telepon terakhirnya pun bukan keluhan, bukan permintaan, melainkan amanah:
“Tolong diselesaikan keuangan saat di Banjarmasin.”
Tekad pengabdian itu tak pernah putus, bahkan di ujung perjalanan hidup.
Pulang di Hari Milad
Dua hari setelah kembali dari Banjarmasin, pada Selasa malam pukul 22.10 WIB, 18 November 2025 tepat Milad Muhammadiyah ke-113 Abah Wi berpulang ke rahmatullah.
Kepergiannya meninggalkan duka, namun juga jejak tentang keberanian, ilmu, dan keteguhan yang tak mudah dicari gantinya.
Tapi lebih dari itu, banyak yang merasa telah belajar sesuatu dari perjalanan terakhirnya, bahwa pengabdian tidak mengenal usia, dan ketulusan selalu menemukan jalannya untuk dikenang. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments