Bagi Ardian Dwi Ananta, S.Kep.Ns, banjir dan longsor Aceh Tamiang bukan hanya bencana alam, tetapi krisis kemanusiaan yang menyisakan luka—fisik dan batin, jumat (6/2/2026).
Sebagai Perawat Pelaksana Instalasi Rawat Jalan RSA Bojonegoro, Ardian terjun langsung memberikan layanan kesehatan mobile kepada para penyintas. Dari tenda ke tenda, dari desa ke desa, ia menyaksikan sendiri bagaimana bencana mengubah kehidupan warga dalam sekejap.
“Banyak yang kehilangan rumah, hidup di tenda berlumpur, dengan kondisi hujan yang masih sering turun. Itu berat sekali,” ungkapnya.
Pelayanan medis dilakukan dengan segala keterbatasan. Peralatan sederhana, akses sulit, dan kondisi geografis ekstrem tak menyurutkan langkahnya. Untuk menjangkau Desa Tanjung Gelumpang, Ardian dan tim harus menyusuri sungai menggunakan perahu.
Sementara di Dusun Alur Hitam, mereka berjalan kaki melewati jalur terjal dan licin menuju tenda-tenda penyintas di bukit. Yang paling menggetarkan hati Ardian justru bukan medan, melainkan keteguhan para penyintas.
“Mereka tetap ramah, tersenyum, bahkan mendoakan kami. Padahal merekalah yang sedang kehilangan,” katanya lirih.
Anak-anak tetap berlari di jalur berbahaya, lansia bertahan dalam kondisi bedrest di tenda darurat, dan keluarga-keluarga berusaha tegar di tengah ketidakpastian. Dalam situasi itu, kehadiran layanan kesehatan—meski sederhana—menjadi harapan besar.
Momen paling berkesan terjadi di malam terakhir penyaluran bantuan LazisMu dan MDMC Jawa Timur. Dalam gelap dan lumpur, warga justru menuntun relawan menuju tenda-tenda penyintas.
“Salah satu keluarga lansia bahkan mendoakan kami satu per satu. Itu membuat kami merasa, tugas ini bukan sekadar kerja, tapi ibadah,” ujarnya.
Bagi Ardian, respon bencana ini adalah pelajaran hidup yang tak akan pernah ia lupakan. Ia belajar bahwa merawat bukan hanya soal obat dan perban, tapi juga soal empati dan kehadiran.
“Mereka orang-orang hebat. Semoga Allah menguatkan Aceh Tamiang untuk bangkit dan pulih kembali,” pungkasnya.






0 Tanggapan
Empty Comments