Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Di Kampus Islam, Mahasiswi Hindu Ini Jadi Wisudawan Terbaik UMY

Iklan Landscape Smamda
Di Kampus Islam, Mahasiswi Hindu Ini Jadi Wisudawan Terbaik UMY
Kadek Renita Yulia Dewi, mahasiswi asal Bali meraih predikat wisudawan terbaik Program D3 Teknologi Elektromedis. Foto: UMY
pwmu.co -

Sorak sorai memenuhi Sportorium Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) pada Kamis (11/9/2025).

Ribuan mahasiswa berbalut toga berbaris rapi, menandai akhir perjalanan akademik mereka. Dari sekian banyak nama yang dipanggil, satu sosok perempuan muda menarik perhatian.

Kadek Renita Yulia Dewi, mahasiswi asal Bali yang beragama Hindu, berhasil meraih predikat wisudawan terbaik Program D3 Teknologi Elektromedis.

Predikat itu bukan sekadar penghargaan akademik. Lebih jauh, kisah Renita adalah bukti nyata bagaimana toleransi bisa hidup di tengah keberagaman.

Ketika pertama kali menginjakkan kaki di UMY, Renita tak bisa menutupi kecanggungannya. Ia sadar betul bahwa dirinya berbeda dari mayoritas mahasiswa lain yang beragama Islam. Namun rasa ragu itu perlahan hilang setelah ia merasakan suasana hangat yang menyambutnya.

“Jurusan Teknologi Elektromedis di UMY sudah punya akreditasi bagus. Selain itu, meskipun kampus Islam, di sini saya benar-benar merasa dihargai. Itu yang membuat saya nyaman sebagai non-muslim,” katanya dengan senyum lebar, seperti dilansir di laman resmi UMY, Kamis (11/9/2025).

Bahkan, Renita memilih mengenakan hijab selama kuliah. Keputusan yang tak datang dari paksaan, melainkan keinginannya sendiri untuk menghormati lingkungan sekitar.

“Menurut saya menutup aurat itu tidak ada salahnya, malah memberi pengalaman baru. Saya juga merasa lebih nyaman berinteraksi dengan teman-teman, dan mereka sangat menghargai keputusan saya,” tambahnya.

Bagi Renita, salah satu pengalaman paling berkesan adalah saat bulan Ramadan. Kala teman-temannya berpuasa, ia tetap menjalani kesehariannya seperti biasa. Tak ada tatapan aneh, apalagi larangan.

“Saya terharu karena tidak ada yang mempermasalahkan. Justru teman-teman bilang saya punya hak saya sendiri. Itu membuat saya semakin yakin diterima di sini,” ujarnya.

Momen sederhana itu justru membekas dalam ingatannya—sebuah tanda bahwa toleransi bukanlah teori, melainkan tindakan nyata.

Di balik sosok Renita, ada keluarga yang selalu memberi dukungan. Ibunya, Ni Wayan Ayu Sukani, mengaku sempat khawatir ketika putrinya memilih kuliah di kampus Islam.

“Awalnya kami tanya apakah mau pindah kampus setelah semester pertama, tapi dia bilang tetap lanjut karena merasa diterima. Padahal dia minoritas, tapi bisa belajar dengan nyaman. Kami sangat terharu,” kata sang ibu, matanya berkaca-kaca.

Kini, kekhawatiran itu berubah menjadi kebanggaan. Bagi keluarga, prestasi Renita adalah anugerah yang tak ternilai.

Bagi Renita, gelar wisudawan terbaik bukan hanya soal nilai akademik. Lebih dari itu, pencapaiannya adalah simbol bahwa keberagaman bisa dirayakan dengan damai.

“Harapan kami, UMY tetap terbuka pada siapa saja. Pendidikan itu milik semua orang, dan UMY sudah membuktikan itu,” tutup ibunya.

Di tengah tepuk tangan meriah wisuda, Renita berdiri tegak. Ia bukan sekadar lulusan terbaik, melainkan wajah dari toleransi yang hidup di jantung kampus Islam modern.

Ceritanya mengingatkan bahwa pendidikan sejati bukan hanya mencetak sarjana, melainkan juga menumbuhkan kemanusiaan. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu