Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Di Kuartal Terakhir Kehidupan: Menyulam Syukur, Menebar Makna

Iklan Landscape Smamda
Di Kuartal Terakhir Kehidupan: Menyulam Syukur, Menebar Makna
Foto: Pinterest
pwmu.co -

Insya Allah kita semua sehat wal afiyaah dan dapat dipertemukan dengan bulan suci penuh barakah, Ramadan, empat hari lagi. Āamīin.

Banyak di antara kita kini telah berada di kuartal terakhir perjalanan hidup. Usia yang oleh orang-orang disebut U-70-an, masa lansia.

Izinkan saya berbagi renungan sederhana, tanpa politik, tanpa perdebatan, tanpa hiruk-pikuk perbedaan. Hanya santapan jiwa, dari hati ke hati.

Waktu punya cara yang unik untuk bergerak—diam-diam, tapi pasti. Ia tidak pernah berisik, namun tiba-tiba membuat kita terdiam ketika sadar betapa cepatnya tahun-tahun berlalu.

Rasanya baru kemarin kita berdiri gagah sebagai pemuda, dengan sepatu penuh debu perjuangan, dada penuh mimpi, dan kepala penuh rencana.

Bangun pagi tanpa pegal, berlari tanpa pikir panjang, bekerja tanpa kenal lelah. Dunia terasa luas dan waktu terasa panjang.

Namun kini, ketika bercermin, yang tampak adalah rambut memutih dan wajah yang dipahat pengalaman. Tangan yang dulu kuat mengangkat beban kini lebih sering memegang tasbih. Langkah yang dulu cepat kini lebih hati-hati.

Kadang kita bertanya dalam hati, “Kemana perginya semua tahun itu?”

Kita tahu kita telah menjalaninya. Kita masih ingat serpihan kenangan: tawa anak-anak saat pertama kali belajar berjalan, malam-malam begadang mencari nafkah, doa-doa panjang dalam sujud memohon masa depan yang lebih baik.

Tiba-tiba saja… kita sadar telah berada di kuartal terakhir.

Dulu, saat melihat orang tua berjalan perlahan dengan tongkat, kita berkata dalam hati, “Ah, itu masih lama sekali.” Kita merasa jaraknya jauh, seperti cakrawala yang tak terjangkau.

Nyatanya, tanpa terasa, kita kini berdiri di titik itu.

Sahabat-sahabat sebaya sudah pensiun. Obrolan yang dulu tentang cita-cita kini berganti tentang gula darah, tekanan darah, dan jadwal kontrol dokter. Ada yang masih sehat, ada yang mulai rapuh. Bahkan tak sedikit yang telah lebih dulu “pulang kampung” menghadap Allah.

Suatu hari kita menghadiri takziah seorang sahabat lama. Saat berdiri di samping liang lahat, kita sadar: dulu kami sama-sama berlari di lapangan sekolah, kini ia telah lebih dulu menyelesaikan perlombaan hidupnya.

Ilustrasi kehidupan ini begitu nyata. Hidup seperti lomba lari estafet—satu per satu tongkat itu berpindah tangan. Tidak ada yang tahu siapa yang lebih dulu mencapai garis akhir.

Kini, target sederhana seperti mandi pagi terasa seperti pencapaian. Bangun tidur tanpa rasa nyeri adalah nikmat yang dulu tak pernah kita syukuri.

Tidur siang bukan lagi kemewahan, melainkan kebutuhan. Jika tidak, mata akan terpejam sendiri di kursi dengan televisi menyala—dan kita menyebutnya “pre-sleep”.

Dulu kita bangga pulang malam karena sibuk bekerja. Kini kita merasa bahagia bisa pulang sebelum magrib dan duduk tenang di ruang tamu.

Pergi keluar memang menyenangkan, tapi pulang ke rumah terasa jauh lebih menenangkan. Rumah bukan lagi sekadar tempat singgah, melainkan tempat beristirahat dari perjalanan panjang bernama kehidupan.

Kita mulai lupa nama seseorang, dan itu tidak lagi membuat panik. Kita tersenyum saja—mungkin mereka pun lupa pernah mengenal kita. Kita sadar, tidak semua harus diingat, tidak semua harus dikejar.

Kita tahu kita tak akan pernah jadi ahli golf, tapi tetap menikmati udara pagi dan tawa ringan bersama teman lama.

Kita punya banyak baju di lemari—setengahnya tak pernah dipakai, tapi tetap disimpan “jaga-jaga”. Seperti kita menyimpan kenangan—tidak selalu dibuka, tapi tak rela dibuang.

Kita rindu masa ketika semua alat hanya punya tombol “On” dan “Off”. Hidup terasa lebih sederhana, tidak seribet sekarang.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Namun di balik semua perubahan itu, ada satu hal yang justru semakin jernih: rasa syukur.

Kita mungkin menyesali beberapa hal. Kata-kata yang seharusnya tidak diucapkan. Kesempatan yang terlewat. Waktu yang kurang diberikan untuk keluarga.

Tapi ada juga banyak hal yang patut kita syukuri—anak-anak yang tumbuh baik, cucu-cucu yang menjadi pelipur lara, pasangan yang setia menemani. Semua itu satu paket bernama kehidupan.

Kuartal terakhir ini mungkin tak tahu kapan berakhir. Tapi kita tahu, ketika selesai… petualangan baru akan dimulai. Perjalanan menuju kehidupan abadi.

Karena itu, jika Anda belum berada di kuartal terakhir, ingatlah: waktunya akan tiba lebih cepat dari yang Anda sangka.

Seorang teman pernah berkata, “Nanti saja.”
Ternyata “nanti” itu tidak pernah datang.

Apa pun yang ingin Anda lakukan—meminta maaf, memeluk orang tua, menulis buku, bersedekah, memperbaiki shalat, memperbanyak tahajud—lakukan sekarang. Jangan menunggu waktu lapang, karena waktu tidak pernah benar-benar lapang.

Kehidupan bergerak cepat. Kerjakan yang bisa Anda kerjakan hari ini. Kita tidak pernah tahu di kuartal mana sebenarnya kita berada.

Tidak ada jaminan kita akan melihat semua musim hidup. Maka hiduplah untuk hari ini.

Ucapkan kata-kata baik kepada orang-orang terkasih. Katakan terima kasih. Katakan maaf. Katakan cinta. Agar ketika suatu hari kita dipanggil pulang, yang tertinggal adalah kenangan yang hangat.

Ingatlah, kesehatan adalah harta yang sesungguhnya—bukan emas, bukan jabatan, bukan tabungan berlimpah. Betapa banyak orang kaya rela menukar hartanya demi satu malam tanpa rasa sakit.

Dan pada akhirnya, kita menyadari:

  • Tua itu indah.
  • Tua itu nyaman.
  • Tua itu aman.
  • Lagu-lagu lama terasa lebih bermakna.
  • Film-film lama lebih menyentuh hati.

Dan yang terbaik… sahabat-sahabat lama, yang masih setia tertawa bersama meski langkah tak lagi secepat dulu.

Jaga kesehatan, sahabat lamaku. Nikmati hari ini. Nikmati kuartal yang sedang Anda jalani—apa pun itu.

Karena pada akhirnya… bukan tentang apa yang kita kumpulkan, tapi tentang apa yang kita sebarkan.

Apakah kita menyebarkan kebaikan?
Apakah kita menebar senyum?
Apakah kita meninggalkan jejak amal jariyah?

Itulah yang kelak bercerita tentang seperti apa hidup yang kita jalani.

Istikamahlah dalam ibadah. Perbanyak sedekah. Ringankan langkah dengan olahraga ringan. Lunakkan hati dengan dzikir. Terangi malam dengan tahajud.

Dan sambutlah Ramadan dengan jiwa yang lebih matang, lebih tenang, dan lebih siap pulang kapan pun Allah memanggil.

Semoga kita semua diberi umur yang berkah, penutup hidup yang husnul khatimah, dan dipertemukan kembali dalam keabadian yang penuh rahmat.

Āamīin ya Rabbal ‘Alamīn. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu