Ada sebuah pemandangan yang menenteramkan ketika menjelang magrib di sebuah masjid kecil di sudut kampung. Anak-anak duduk bersila dengan mushaf di pangkuan, para orang tua perlahan berdatangan, dan suara lantunan ayat-ayat suci terdengar bergantian.
Tidak ada kemewahan di sana. Hanya Al-Qur’an, hati-hati yang merendah, dan harapan akan keberkahan. Namun justru dalam kesederhanaan seperti itulah rahmat Allah turun, ketenangan menjelma, malaikat menghadiri, dan nama-nama mereka disebut di sisi Allah.
Inilah keutamaan besar dari membaca, mempelajari, dan berkumpul untuk mendalami Al-Qur’an, sebagaimana telah disampaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah, membaca Kitab Allah dan mempelajarinya bersama, melainkan ketenangan (sakīnah) akan turun kepada mereka, rahmat akan meliputi mereka, para malaikat akan mengelilingi mereka, dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di hadapan makhluk yang berada di sisi-Nya.” (HR. Muslim)
Hadis ini bukan sekadar penjelasan keutamaan, tetapi juga gambaran betapa agungnya majelis Qur’an. Banyak dari kita mungkin pernah merasakan suasana itu: saat berkumpul setelah salat, ketika kajian ba’da subuh, atau saat murajaah bersama anak-anak di rumah.
Terkadang kita datang dengan hati yang lelah, pikiran penuh beban, tetapi pulang dengan hati yang lebih ringan, seakan ada sesuatu yang ditenangkan oleh Allah. Itulah sakinah yang dijanjikan dalam hadits.
Pelajaran Penting dalam Hadis
1. Keutamaan berkumpul di masjid
Masjid bukan hanya tempat untuk melaksanakan shalat. Ia adalah pusat peradaban umat, tempat tanya jawab, belajar, berdiskusi, dan menuntut ilmu. Di banyak kampung, masjid menjadi ruang aman bagi anak-anak untuk memulai perjalanan mengenal Allah melalui Al-Qur’an.
Bayangkan seorang ayah yang setiap malam mengajak putranya ke masjid untuk belajar membaca Al-Qur’an. Sang anak tumbuh dengan kenangan indah: bau karpet masjid, suara imam, dan kebersamaan yang melekat seumur hidup. Itulah keberkahan dari menjadikan masjid sebagai tempat berkumpul dalam ketaatan.
2. Membaca dan mempelajari Al-Qur’an berjamaah memiliki keutamaan besar
Tidak hanya membaca, tetapi menelaah, memahami, dan mendalaminya. Ketika seseorang membaca sendiri, manfaatnya besar. Namun ketika membaca bersama, keutamaannya berlipat: ada diskusi, ada koreksi bacaan, ada saling mengingatkan, dan ada energi spiritual yang saling menguatkan.
3. Turunnya sakinah: ketenangan hati
Banyak orang menceritakan bahwa ketika hatinya gundah, ia memilih membuka mushaf dan membaca Al-Qur’an. Entah bagaimana, dadanya terasa lebih lapang. Itulah sakinah. Ia bukan teori, tetapi pengalaman batin yang nyata.
4. Diliputi rahmat Allah
Majelis Al-Qur’an adalah tempat berkumpulnya rahmat. Di zaman modern yang penuh hiruk-pikuk, majelis seperti ini menjadi oase yang menyembuhkan.
5. Dikelilingi malaikat
Para malaikat menghadiri majelis ilmu dan dzikir. Ketika seseorang duduk belajar Al-Qur’an, ia tidak hanya ditemani manusia, tetapi juga makhluk mulia yang Allah ciptakan untuk membawa kebaikan.
6. Allah memuji mereka di hadapan makhluk-Nya yang mulia
Bayangkan jika nama kita disebut oleh Allah di hadapan para malaikat. Ini bukan sekadar kehormatan, tetapi karunia yang menunjukkan betapa tingginya derajat ahli Al-Qur’an.
7. Dorongan untuk menghidupkan majelis ilmu
Hadis ini mengajak kaum muslimin untuk memakmurkan masjid dengan aktivitas baik: membaca Qur’an, halaqah tafsir, kajian hadis, atau sekadar murajaah bersama.
Tema Al-Qur’an yang Berkaitan
1. Keutamaan membaca Al-Qur’an
Allah menegaskan bahwa orang yang membaca Al-Qur’an, mendirikan salat, dan bersedekah dengan ikhlas ibarat melakukan perdagangan yang tidak pernah merugi.” (QS. Fatir: 29–30)
Ini adalah jaminan Allah: setiap ayat yang dibaca adalah investasi akhirat.
2. Keberkahan majelis ilmu dan zikir
Allah meninggikan derajat orang beriman dan berilmu. (QS. Al-Mujadilah: 11)
Majelis Al-Qur’an termasuk di dalamnya—tempat ilmu disebarkan dan iman ditumbuhkan.
3. Janji ketenangan bagi hati yang berdzikir
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
Di dunia yang semakin bising, Al-Qur’an memberikan keheningan batin yang tidak dapat diberikan oleh apapun.
Setiap kita bisa mulai dari hal sederhana: membuka mushaf lima menit sehari, ikut halaqah kecil di masjid, mengajak keluarga bertadarus, atau membaca satu halaman sebelum tidur. Dari hal-hal kecil itu, Allah turunkan sakinah, bukakan rahmat, hadirkan malaikat, dan sebut nama kita di sisi-Nya.
Semoga Allah menjadikan kita bagian dari ahli Al-Qur’an—khāssatuLlāh—kelompok istimewa yang dicintai-Nya. Aamiin. (*)


0 Tanggapan
Empty Comments