Masa Ta’aruf (Masta) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Pondok Hajjah Nuriyah Shabran 2025 resmi dibuka Rabu (20/8/2025) di Ruang Meeting Besar Gedung Griya Mahasiswa Lt 3 Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Kegiatan ini mengangkat tema “Sintesa Ikatan, Merajut Masa Depan” yang dimaknai sebagai upaya membangun ikatan intelektual sekaligus spiritual bagi mahasiswa baru.
Dalam sambutan pembuka, Ketua Umum PK IMM Pondok Hajjah Nuriyah Shabran, Muhammad Fikri Azka, menekankan pentingnya sintesa ikatan dalam kehidupan berorganisasi. Ia menjelaskan bahwa tema ini sejalan dengan dialektika filsuf Jerman, Georg Wilhelm Friedrich Hegel, yang mengenal konsep tesis, antitesis, dan sintesis.
“Begitu pula dalam organisasi IMM, terutama dalam konteks Pondok Hajjah Nuriyah Shabran. Sistem Shabran yang dahulu menjunjung tinggi slogan ‘bebas bertanggung jawab’, kemudian muncullah masa di mana Shabran dipenuhi dengan berbagai macam peraturan yang sudah tidak lagi mengenal bebas bertanggung jawab. Nah, kita adalah sintesa dari dua hal tersebut. Kita adalah kader yang taat serta ikut mengindahkan segala macam peraturan yang ada, tetapi kita juga tetap bebas bertanggung jawab dalam segala hal tindak tanduk kita sebagai kader umat, bangsa, dan persyarikatan,” ujarnya di hadapan peserta.
Pernyataan Fikri mendapat sambutan hangat dari mahasiswa baru. Ia menambahkan, IMM Shabran mengajarkan bahwa kader harus menjadi ulama intelek dan intelek ulama yang tidak mendikotomikan ilmu agama dan ilmu sains. “IMM mendidik kita untuk terus berpikir dan bergerak dalam perjuangan,” katanya.
Sementara itu, Sekretaris Direktur Pondok Hajjah Nuriyah Shabran, Muk Andhim SPd MPd menekankan urgensi berorganisasi dalam kerangka sosial dan pengetahuan. Ia mengutip pemikiran filsuf Inggris, Francis Bacon, yang mengatakan knowledge is power, bahwa pengetahuanlah yang menentukan seseorang itu berkuasa atau tidak. Kemudian perkataan tersebut diubah maknanya oleh filsuf Prancis, Michel Foucault pada tahun 1900-an.
“Foucault pun mengatakan hal yang sama, knowledge is power, tetapi ia mengganti maknanya, bahwa yang berkuasalah yang membangun serta mengatur pengetahuan. Karena itu, organisasi menjadi penting. Dan itu adalah jawaban apabila ditanya kenapa kita harus berorganisasi. Sehingga sangat tidak cukup dengan hanya menjadi mahasiswa kupu-kupu (kuliah pulang-kuliah pulang), tetapi harus menjadi mahasiswa kura-kura (kuliah rapat-kuliah rapat) dengan aktif dalam berorganisasi,” jelasnya.
Ia menambahkan, berorganisasi di IMM tidak hanya memberi ruang ekspresi, tetapi juga membentuk kesadaran kritis mahasiswa agar tidak terjebak dalam hegemoni tunggal. “IMM harus melahirkan insan akademis yang berdaya saing sekaligus berdaya kritis,” ujarnya.
Ketua Panitia Masta IMM, Gandi Teguh Ardiansyah, menyampaikan kegiatan ini dirancang tidak hanya sebagai forum pengenalan, tetapi juga ruang pembelajaran kolektif. “Kami ingin Masta IMM 2025 menjadi ruang berproses, tempat mahasiswa baru belajar memadukan nilai akademik, spiritual, dan sosial,” ucapnya.
Selain rangkaian diskusi tematik, pembekalan ideologi, hingga praktik kepemimpinan sederhana, kegiatan ini juga menjadi sarana penguatan kebersamaan antar mahasiswa baru. Kehadiran puluhan peserta menunjukkan antusiasme tinggi untuk mengenal IMM lebih dekat.
Dengan semangat sintesa yang diusung, panitia berharap mahasiswa baru tidak hanya menjadikan Masta sebagai agenda seremonial, tetapi benar-benar sebagai pijakan awal dalam proses pengkaderan di IMM. Harapan tersebut sejalan dengan tujuan besar IMM untuk melahirkan kader berintegritas, berdaya pikir kritis, sekaligus berakar kuat pada nilai-nilai Islam berkemajuan. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments