Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menunjukkan kepeduliannya terhadap pemberdayaan masyarakat, termasuk di balik jeruji penjara. Melalui Lembaga Kebudayaan (LK), UMM berkolaborasi dengan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Perempuan Kelas IIA Malang dengan meluncurkan dan membedah buku antologi cerpen berjudul “Liku Luka di Aksara Besi Bisu”, Rabu (3/9/2025).
Buku setebal 416 halaman ini lahir dari tangan 38 Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP). Karya mereka dibedah oleh dua dosen sastra, yaitu Dr Tengsoe Tjahjono MPd dan Dr Purwati Anggraini SS MHum, di hadapan akademisi, mahasiswa, dan komunitas sastrawan.
Tengsoe, dosen Sastra UMM yang akrab disapa Tengsoe, menyebut karya para warga binaan ini sebagai masterpiece yang lahir dari keterbatasan ruang dan waktu. Ia terkesan dengan prolog yang disusun dengan diksi sastra indah, serta ragam cerita yang menyuarakan perjalanan hidup warga binaan di balik jeruji.
“Lebih dari sekadar fiksi, saya menemukan aspek kemanusiaan, psikologi, hingga sosiologis dalam buku ini. Bahkan bisa dikaji dengan pendekatan antropologi Lapas,” ujarnya. Ia menambahkan, judul buku merupakan perpaduan dua cerpen, yakni “Liku Luka” dan “Aksara Besi Bisu” yang melukiskan keluh kesah para penulis di balik besi penjara.
Senada, Purwati mengaku emosional membaca karya tersebut. Menurutnya, antologi ini menjadi bukti bahwa perempuan di dalam penjara tetap mampu menulis sebagai cara menyembuhkan luka dan menyalakan kembali harapan.
“Buku ini bukan hanya refleksi diri, tapi juga bahan akademik yang bisa dikaji dari banyak disiplin ilmu,” ungkapnya.
Kepala Lapas Perempuan Kelas IIA Malang, Yunengsih BcIP SSos MH, menyampaikan apresiasi kepada UMM atas pendampingan yang sudah berjalan.
“Kami berharap sinergi ini terus berlanjut, sehingga lahir buku-buku hebat lainnya. Warga binaan kami bisa menyalurkan kegelisahan, penyesalan, dan harapan melalui karya sastra,” tuturnya.
Sementara itu, Kepala Pusat Studi Kebudayaan UMM, Dr Daroe Iswatiningsih MSi, menegaskan bahwa program ini adalah wujud nyata kontribusi akademisi dalam penguatan literasi masyarakat.
“Semoga buku ini bukan hanya menjadi dokumen pribadi, tetapi juga informasi luas bagi publik. Selamat untuk 38 penulis yang berhasil menerbitkan buku penuh makna ini,” tandasnya.
Buku “Liku Luka di Aksara Besi Bisu” menjadi karya keempat hasil kolaborasi UMM dan Lapas Perempuan Malang, membuktikan bahwa keterbatasan ruang tak menghalangi lahirnya karya literasi bernilai tinggi.






0 Tanggapan
Empty Comments