
PWMU.CO – Sebanyak 100 lebih santri dari kelas 7 hingga 9 SMP Muhammadiyah 4 Boarding School Porong (Mudipat Porong) diberangkatkan menuju Bumi Perkemahan Claket, Pacet, Mojokerto dalam rangka mengikuti Survival Camp Pandu Hizbul Wathan pada (26-27/5/2025).
Perkemahan ini bukan sekadar aktivitas luar ruangan, melainkan latihan ketangguhan fisik, mental, dan spiritual yang mengusung tema “Nature as Teacher, Faith as Guide.”
Apel pelepasan dilakukan di halaman sekolah oleh Kepala SMP Mudipat Porong, Rozaq Akbar SFilI. MPd, yang menyampaikan pesan penuh semangat.
“Anak-anakku, ini bukan sekadar nge-camp atau tidur di tenda, tapi ini uji nyali, uji akhlak, uji kerja sama, dan uji kedewasaan! Karena hidup ini bukan soal siapa yang paling nyaman,tapi siapa yang paling siap menghadapi tantangan,” ujarnya.
Keistimewaan Survival Camp tahun ini terlihat sejak awal. Para peserta dan guru dijemput langsung oleh armada milik TNI Angkatan Laut.
Kehadiran armada tersebut bukan hanya menjadi bentuk kolaborasi antar lembaga, tetapi juga memberikan kesan kuat tentang kedisiplinan, keberanian, dan kesiapan menghadapi kondisi lapangan yang nyata.
Lokasi Survival Camp terletak di Bumi Perkemahan Claket, kawasan dataran tinggi Pacet, Mojokerto, yang dikenal dengan keindahan alam dan suhu sejuk pegunungan. Di sinilah para santri belajar membaca arah, mengolah makanan, mendirikan tenda, menjaga salat, dan saling bekerja sama dalam kondisi penuh keterbatasan.

Kegiatan ini mengasah akhlak, kepemimpinan, dan semangat ukhuwah. Di tengah keterbatasan fasilitas, karakter sejati peserta diuji. Siapa yang sabar saat tersesat, siapa yang siap bangun dini hari, dan siapa yang tetap santun meski lelah—semua itu bagian dari pelatihan menjadi pemuda tangguh.
Kegiatan ini menjadi ruang belajar yang otentik dan transformatif. Di alam terbuka, siswa tidak dimanjakan oleh kenyamanan rumah: tak ada kasur empuk, tak ada sinyal kuat, tak ada makanan cepat saji. Yang ada hanyalah alam, teman seperjuangan, dan akal sehat.
Selama dua hari, peserta akan berlatih orientasi alam, mendirikan tenda, mengatur logistik sendiri, hingga menjaga ibadah dalam kondisi medan terbuka. Tantangan demi tantangan bukan untuk ditakuti, tetapi untuk dihadapi sebagai latihan menuju kedewasaan sejati.
“Ini bukan liburan. Ini latihan menjadi manusia yang kuat lahir batin. Latihan jadi pemuda yang nggak manja, yang bisa hidup tanpa Google Maps dan tahu cara bertahan di dunia nyata,” ujar salah satu pembina HW, Khusnul Abidin.
Kegiatan ini juga dilandasi nilai-nilai Islam. Rasulullah SAW bersabda: “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah.” (HR. Muslim).
Seperti kisah Ashabul Kahfi yang bersembunyi di gua demi menjaga iman, para peserta juga belajar bahwa ketangguhan adalah bagian dari iman. Latihan fisik, orientasi medan, dan keterampilan survival bukan sekadar petualangan, melainkan tarbiyah jiwa.
“Islam sangat mendorong umatnya menjadi pribadi tangguh — bukan hanya kuat secara otot, tapi juga sabar, ikhlas, dan siap menghadapi ujian tanpa mengeluh,” tambahnya.
Survival Camp ini juga menjadi pengantar bagi para pelajar untuk memahami arti menjadi dewasa. Dewasa bukan tentang kehilangan kesenangan, tapi menemukan makna. Bahwa hidup bukan soal fasilitas, tapi keteguhan hati.
“Menjadi dewasa bukan akhir dari keceriaan, tapi awal dari kebijaksanaan. Jangan takut tumbuh. Takutlah jika usia bertambah, tapi jiwa tetap kanak-kanak,” tegasnya.
Di akhir pelepasan, Rozaq Akbar berpesan sambil mengutip doa dari Rasulullah SAW: “Barangsiapa singgah di suatu tempat lalu membaca: أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ, maka tidak akan ada sesuatu pun yang membahayakannya hingga ia meninggalkan tempat itu.” (HR. Muslim).
Survival Camp bukan tujuan akhir, tapi langkah awal. Dari Claket Pacet, para santri pulang dengan tubuh lelah namun jiwa menyala. Mereka tidak hanya belajar bertahan hidup di alam, tetapi juga belajar bertahan dalam prinsip, iman, dan kerja sama.
Penulis Rozaq Akbar Editor ‘Aalimah Qurrata A’yun


0 Tanggapan
Empty Comments