Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku.” (QS. Al-Baqarah: 152)
Ayat ini mengandung pesan yang sangat dalam. Allah memerintahkan kita untuk selalu mengingat-Nya (dzikrullah) sebagai bentuk kesadaran spiritual dan syukur atas segala nikmat yang telah diberikan.
Mengingat Allah bukan sekadar menyebut nama-Nya dengan lisan, tetapi juga dengan hati yang tunduk dan amal yang taat.
Makna Zikir yang Hakiki
Zikir bukan hanya ucapan “Subhanallah”, “Alhamdulillah”, dan “Allahu Akbar”, tetapi juga setiap bentuk ketaatan dan penghindaran dari maksiat.
Seorang yang menahan amarah karena takut kepada Allah, sesungguhnya ia sedang berzikir. Seorang ibu yang sabar mendidik anaknya dengan niat ibadah pun sedang berzikir.
Begitu pula seorang pekerja yang jujur dalam pekerjaannya dan seorang guru yang ikhlas mengajar muridnya demi mencari rida Allah, semuanya adalah bagian dari dzikrullah yang nyata.
Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah menjelaskan dalam Al-Wabil Ash-Shayyib:
“Zikir kepada Allah memiliki kedudukan yang sangat tinggi; ia ibarat air bagi ikan. Bagaimana keadaan ikan bila jauh dari air? Begitulah hati bila jauh dari zikir kepada Allah.”
Hati tanpa zikir akan gersang, mudah gelisah, dan kehilangan arah. Sebaliknya, hati yang selalu berzikir menjadi tenteram dan hidup. Sebagaimana firman Allah: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
Janji Allah bagi Ahli Zikir
Ketahuilah, orang yang senantiasa berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mendapatkan kemuliaan yang luar biasa. Dalam sebuah hadits qudsi, Allah berfirman:
“Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam dirinya, Aku mengingatnya dalam diri-Ku; jika ia mengingat-Ku di hadapan banyak orang, Aku mengingatnya di hadapan (makhluk) yang lebih baik dari mereka (para malaikat).” (HR. Bukhari dan Muslim)
Betapa indahnya janji ini: ketika kita menyebut nama Allah di bumi, Allah menyebut nama kita di langit. Itulah bentuk penghormatan dan kasih sayang Allah kepada hamba-Nya yang senantiasa mengingat-Nya.
Perintah untuk memperbanyak dzikir juga ditegaskan dalam Al-Qur’an: “Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah kepada Allah dengan mengingat (nama-Nya) sebanyak-banyaknya, dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang.” (QS. Al-Ahzab: 41–42)
Zikir dalam Kehidupan Sehari-hari
Zikir tidak mengenal ruang dan waktu. Ia dapat dilakukan kapan pun dan di mana pun. Seorang petani yang mengayunkan cangkul sambil mengucap Subhanallah adalah ahli zikir.
Seorang mahasiswa yang belajar dengan niat mencari ilmu untuk kemaslahatan umat juga sedang berdzikir.
Bahkan seorang pengemudi yang menghindari kata-kata kotor di jalan sambil memohon perlindungan Allah, juga sedang berzikir.
Rasulullah saw sendiri memberikan teladan luar biasa. Dalam setiap keadaan, beliau tidak pernah lupa untuk berzikir kepada Allah. Aisyah ra berkata: “Rasulullah saw senantiasa berzikir kepada Allah dalam setiap keadaannya.” (HR. Muslim)
Ilustrasi sederhana dapat kita lihat dalam kehidupan modern. Banyak orang yang terjebak rutinitas: pekerjaan, media sosial, dan kesibukan duniawi yang membuat hati terasa hampa.
Namun, mereka yang menyelipkan zikir di antara kesibukan itu. Misalnya dengan mengucap Astaghfirullah di tengah perjalanan, atau Alhamdulillah setelah menyelesaikan tugas, akan merasakan kedamaian yang tidak bisa digantikan oleh apa pun.
Keutamaan Zikir di Waktu-Waktu Mustajab
Ada waktu-waktu istimewa di mana zikir memiliki nilai yang lebih besar, antara lain:
1. Sepertiga malam terakhir, saat Allah “turun ke langit dunia” dan menyeru:
“Adakah hamba-Ku yang berdoa, niscaya Aku kabulkan? Adakah yang memohon ampun, niscaya Aku ampuni?” (HR. Bukhari dan Muslim)
Di waktu sunyi itu, zikir dan istighfar akan melembutkan hati dan menenangkan jiwa.
2. Sesudah salat fardhu, ketika lidah masih basah dengan doa dan hati masih hangat dengan ketundukan.
3. Saat pagi dan petang, sebagaimana diperintahkan dalam QS. Al-Ahzab ayat 42, untuk menjaga hati agar selalu terikat dengan Allah sepanjang hari.
Mari kita berdoa agar Allah meneguhkan hati kita untuk selalu mengingat-Nya dalam setiap keadaan — dalam lapang maupun sempit, dalam suka maupun duka.
Semoga kita dan seluruh keluarga senantiasa diberikan keistiqamahan dalam iman, amal saleh, zikir, dan istighfar terutama di akhir sepertiga malam.
“Ya Allah, jadikanlah hati kami senantiasa berzikir kepada-Mu, lisan kami basah menyebut nama-Mu, dan hidup kami selalu berada dalam rida-Mu.”
Aamiin yaa Rabbal ‘Aalamiin. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments