Lembaga Seni Budaya dan Olahraga (LSBO) Pimpinan Daerah Aisyiyah Kota Surabaya mencoba menggali data data sejarah kiprah Aisyiyah kota Surabaya melalui diskusi sinergi dengan Majelis Pustaka, Informasi dan Digitalisasi (MPID) Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya.
Kegiatan tersebit diselenggarakan di Madrasah Ibtidaiyah 25 Sidotopo Wetan I Dalam 18 Surabaya pada hari Ahad (16/11/2025), yang dihadiri perwakilan pimpinan LSBO Cabang se-Kota Surabaya.
Di tengah kesibukannya, baik sebagai pimpinan, ibu rumah tangga, dan berbagai profesi lainnya, mereka antusias belajar dan mengetahui sejarah Muhammadiyah dan Aisyiyah Kota Surabaya sekaligus bagaimana penulisannya.
Demikian disampaikan Tazkiyatun Nafsi El Hawa, anggota divisi budaya LSBO Kota Surabaya, dalam mengantar diskusi.
“Sesuai daftar kehadiran peserta ada 17 perwakilan LSBO Cabang, dan hal ini terus diupayakan agar program penulisan sejarah Aisyiyah Surabaya bisa optimal,” katanya
Fitriyah, ketua LSBO PDA Kota Surabaya menambahkan, penulisan sejarah tokoh lokal Aisyiyah Surabaya sangat penting untuk menemukan keteladanan ibu ibu selama berkiprah di Aisyiyah.
Diskusi ini menghadirkan Ketua MPID Surabaya Andi Hariyadi yang selama ini begitu aktif menulis sejarah dan mendorong untuk penulisan sejarah tokoh lokal Muhammadiyah Surabaya.
Dalam pemaparannya, Andi memberikan apresiasi atas upaya proses penulisan sejarah tokoh lokal Aisyiyah Surabaya.
“Ada banyak Keteladanan yang telah diperankan untuk men-support dakwah Muhammadiyah yang tidak hanya dalam aspek kebangsaan, keagamaan dan kemanusiaan juga dalam aspek penyajian menu makanan,” katanya.
Peserta pun semakin tertarik atas uraian yang disampaikan Andi, bagaimana dari sebuah foto bisa mengungkap nilai sejarah. Bahkan dari obrolan sederhana terungkap partisipasi ibu ibu Aisyiyah dalam dakwah nyatanya.
“Saat Ir. Sukarno Presiden Republik Indonesia datang ke Surabaya menyempatkan bersilaturahmi dengan keluarga KH Mas Mansur di kawasan Ampel, karena mereka berdua seakan dipersaudarakan dalam peran kebangsaan untuk meraih kemerdekaan,” terang Andi.
“Dalam obrolan tersebut terungkap bagaimana Sukarno dimasakkan sayur lodeh tewel tempe busuk, karena paham betul betapa lezatnya masakan tradisional tersebut. Dan Sukarno terlihat lahap sekali dengan menu favoritnya, dan menyampaikan banyak terima kasih atas hidangan yang telah disajikan,” imbuh dia.
Padahal kita ketahui sendiri di kawasan Ampel terkenal menu sate gule dan nasi kebuli makanan khasnya, tetapi Sukarno ternyata lebih menyukai masakan keluarga KH Mas Mansur berupa sayur lodeh tempe busuk.
Dari pemaparan sekilas sejarah Aisyiyah Surabaya tersebut peserta semakin antusias untuk belajar sejarah dengan menggali data data yang sepertinya biasa tetapi ternyata sarat akan makna.
Sesi dialog pun benar benar dimanfaatkan untuk semakin menambah wawasan dan terampil dalam penulisan.
“Maka. LSBO Kota Surabaya hendaknya mampu menggali data sejarah Aisyiyah yang turut berjasa dalam penguatan dakwah Muhammadiyah yang tidak sekedar wacana saja tetapi Aisyiyah melakukan dakwah nyata seperti menyedekahkan uang, perhiasan, mengorbankan waktu, tenaga dan pikiran untuk suksesnya dakwah Muhammadiyah dan Aisyiyah,” jabar Andi.
Dia berharap dari diskusi ini untuk segera ditindaklanjuti melakukan koordinasi, identifikasi tokoh dan menggali kiprah perjuangan dan ditulis, usaha ini juga merupakan bagian dari dakwah dan teruslah berkarya. (*)


0 Tanggapan
Empty Comments