
PWMU.CO – Ditanya Pelajar Apakah Jadi Dewan Itu Enak, Begini Jawab Anggota DPRD Lamongan. Peristiwa itu terjadi di acara Pelatihan Kepemimpinan Pelajar Muhammadiyah (PKPM) Selasa, (26/10/2021), di Wonosalam Trainning Center (WTC) Mojokerto.
PKPM diikuti 130 aktivis IPM dan Hizbul Wathan pelajar SMK Muhammadiyah se-Kabupaten Lamongan.
Ali Makhfudl, salah satu pamateri membuka materi dengan mengemukakan pentingn niat. Menurutnya, amal besar bisa menjadi kecil karena niat, amal kecil menjadi besar karena juga karena niat. Di amencontohkan stal niat itu dengan kehadirannya di acara ini.
“Saya bersyukur, bertemu dengan para remaja hebat. Saya tadinya agak malas datang, setelah ingat kalau akan berjumpa dengan generasi Muhammadiyah, saya bersemangat hadir,” tutur pria asal Desa Solokuro, Kecamatan Solokuro, Kabupaten Lamongan ini, disambut tepuk tangan meriah.
Mantan Ketua Ranting Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Madrasah Aliyah Muhammadiyah Payaman ini kemudian mengajak kepada 130 peserta untuk bersyukur karena menjadi bagian dari keluarga besar Muhammadiyah.
Karena, menurutnya, Muhammadiyah dalam berislam mendasarkan kepada al-Quran dan sunnah assahihah. Selain itu Muhammadiyah senantiasa hadir dalam segala kehidupan di masyarakat.
“Kalian yang akan melanjutkan perjuangan Persyarikatan. Siapa lagi yang akan merawat amal usaha yang besar ini, kalau bukan kalian? Ada pendidikan, rumah sakit, panti asuhan, dan sebagainya,” kata Anggota Komisi A DPRD Kabupaten Lamongan ini.
Ali lalu membeberkan kisah sukses jihad konstitusi Muhammadiyah, melalui judicial review, di antaranya UU Migas, UU Pertambangan Minerba, dan lainnya.
“Kalau tidak dilakukan, maka akan terjadi kerusakan dan ketimpangan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Inilah bentuk tanggung jawab Muhammadiyah kepada negara ini,” tegas pria kelahiran tahun 1971 ini.
Bangga Menjadi Muhammadiyah
Ali mengkisahkan dirinya sebagai aktivis di hadapan kader Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) dan Hizbul Wathan SMK ini. “Saya dulu merintis berorganisasi mulai dari IPM tingkat ranting sampai tingkat daerah. Selain IPM saya juga aktif di Pemuda Muhammadiyah,” ujarnya.
“Organisasi inilah yang mendewasakan diri saya. Banyak pengalaman yang tidak saya dapatkan di bangku sekolah. Sampai sekarang saya bangga bermuhammadiyah,” tambahnya.
Ali berpesan agar para kader serius dalam meniti organisasi dakwah ini. “Aktif Muhammadiyah di tingkat bawah akan tetap mendapat pahala dari amal kebaikan orang yang ada di atas. Karena kita berjamaah,” tandas lulusan UIN Sunan Ampel Surabaya ini.
Ali meneruskan, hal yang harus menjadi kebanggaan kita lagi, yaitu Muhammadiyah sudah mendunia, bukan hanya di kancah nasional. Berbagai Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah terbentuk di berbagai negara. Di Malaysia juga tekah berdiri Universiti Muhammadiyah Malaysia (UMAM).
“Lihat pula universitas Muhammadiyah di luar Jawa. Ada 70 persen mahasiswa berasal dari non-Muslim. Ini bukti Muhammadiyah rahmatal lil alamin, memberi pencerahan lintas agama dan suku.
Jangan Alergi Politik
Dalam sesi tanya jawab, ada pertanyaan menggelitik dari salah satu peserta. “Apakah menjadi dewan itu enak,” tanya Bagus Saputra, siswa SMK Muhammadiyah 1 Lamongan. Peserta pun heboh. Mereka menyambutnya dengan tepuk tangan panjang.
Tak mau kalah, Ali balik bertanya kepada peserta, “Apakah kalian mau negara kita dikuasai oleh orang-orang yang tidak berpihak kepada Islam? Apakah kalian rela negara dikendalikan oleh mereka yang mementingkan kelompok dan individu?”
Peserta terdiam, sambil menunggu jawaban lanjutan dari anggota dewan ini.
“Kalau Kalian alergi dan tidak peduli politik, maka kekuasaan akan jatuh di tangan orang jahat. Maka terbukalah terhadap politik. Kalian yang memiliki bakat berpolitik, silakan terjunlah untuk kepentingan umat,” tuturnya.
Dia melanjurkan, “Bagi yang tidak selera menjadi aktivis politik, dukunglah teman Anda. Politik itu tidak kotor. Politik itu mulia, selama di tangan orang-orang yang menjunjung tinggi nilai-nilai Islam,” papar mantan Sekretaris Pimpinan Cabang Muhammadiyah Solokuro periode 2010-2015 itu.
Kaji Al-Quran
Di akhir materi, Ali berpesan agar peserta terus belajar, terus membaca, dan membuka cara pandang lebih baik. Para pelajar SMK itu juga didorong mendalami agama.
“Kaji al-Quran agar semakin mantap. Orang Barat beragama berdasarkan pengamatan ayat kauniah dari Allah. Kalian yang sudah beragama sejak lahir jangan kalah dengan para mualaf,” ujarnya.
“Kawal cita-citamu, sering-sering diucapkan berkali-kali agar menjadi kenyataan, itu bagian dari doa,” pesannya. (*)
Penulis Mohamad Su’ud Editor Mohammad Nurfatoni


0 Tanggapan
Empty Comments