Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Diuji Lewat Manusia, Tanda Allah Ingin Menguatkanmu

Iklan Landscape Smamda
Diuji Lewat Manusia, Tanda Allah Ingin Menguatkanmu
Foto: AI-generated
Oleh : Ferry Is Mirza Jurnalis Senior dan Aktivis Muhammadiyah
pwmu.co -

Sebaik apa pun kita, tidak menutup kemungkinan akan ada pihak yang membenci kita. Bahkan mengucapkan perkataan yang menyakitkan kepada kita.

Kebaikan tidak selalu berbanding lurus dengan penerimaan manusia. Kadang justru ketika kita berusaha lurus, ada saja yang merasa terganggu.

Allah Ta’ala berfirman: “Dan Kami jadikan sebagian kamu sebagai cobaan bagi sebagian yang lain. Maukah kamu bersabar? Dan Rabbmu Maha Melihat.” (QS. Al-Furqan: 20)

Ayat ini begitu dalam maknanya. Ternyata manusia memang diciptakan untuk saling menguji. Ada yang diuji dengan jabatan, ada yang diuji dengan kekurangan.

Ada yang diuji dengan pujian, ada pula yang diuji dengan hinaan. Bahkan orang yang menyakiti kita pun sejatinya sedang menjadi bagian dari skenario Allah untuk menguji kualitas iman kita.

Bayangkan seorang pegawai yang bekerja dengan jujur dan penuh tanggung jawab. Ia datang tepat waktu, menyelesaikan tugas tanpa banyak mengeluh, dan berusaha menjaga amanah.

Namun suatu hari, ia justru difitnah melakukan kesalahan yang tidak pernah ia perbuat. Rekan kerja yang iri mulai menyebarkan kabar buruk tentangnya. Namanya tercoreng. Hatinya terluka.

Atau seorang ibu yang sudah bersungguh-sungguh mendidik anak-anaknya dengan penuh cinta. Namun ada saja tetangga yang mencibir, mengomentari caranya mendidik, bahkan menyebarkan cerita yang dilebih-lebihkan. Hatinya mungkin perih, merasa tidak dihargai.

Atau seorang aktivis dakwah yang ikhlas bergerak di jalan kebaikan. Ia mengorbankan waktu, tenaga, bahkan materi. Namun justru ia menjadi sasaran ghibah dan tuduhan yang tidak berdasar. Niatnya dipertanyakan, keikhlasannya diragukan.

Dalam situasi seperti itu, hati manusiawi kita tentu ingin membalas. Ingin menjelaskan. Ingin melawan. Bahkan mungkin ingin menyerah.

Namun di titik itulah Allah sedang melihat. Bukan melihat siapa yang benar di mata manusia, tetapi siapa yang paling sabar di sisi-Nya.

Kalau sudah demikian, jangan lantas menurun semangat kita. Hanya karena dicurangi, dicaci-maki, dighibahi, difitnahi, dan segala bentuk kezaliman seseorang.

Karena Allah telah mengabarkan bahwa itu semua adalah cobaan untuk menguji kesabaran serta keimanan kita.

Sering kali kita mengira musuh terbesar adalah orang yang menyakiti kita. Padahal musuh terbesar adalah nafsu kita sendiri: amarah, dendam, dan keinginan membalas.

Ingatlah untuk selalu menguatkan diri ketika terluka dengan berkata: “Mereka belum tentu sepenuhnya bersalah. Allah hanya meminjam raga mereka untuk mengujiku, mendidikku, agar aku menjadi lebih baik.”

Kalimat ini bukan untuk membenarkan kezaliman, tetapi untuk menenangkan hati. Karena hati yang tenang lebih dekat kepada pertolongan Allah.

Ketahuilah, kebenaran tidak akan rusak hanya karena fitnah. Kehormatan tidak akan hilang hanya karena hinaan. “Berlian akan tetap bercahaya walau ditimbun oleh sampah.”

Justru terkadang ujian itu yang membuat cahaya kita semakin kuat. Seperti emas yang dimurnikan dengan api. Seperti pohon yang akarnya semakin kokoh setelah diterpa badai.

Orang yang sabar bukan berarti lemah. Ia hanya memilih cara yang lebih tinggi: menyerahkan urusan kepada Allah.

Allah SWT berfirman: “Ya Rabb kami, limpahkanlah kesabaran atas diri kami, kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir.” (QS. Al-Baqarah: 250)

Doa ini bukan hanya untuk peperangan fisik, tetapi juga untuk peperangan batin—melawan amarah, melawan kekecewaan, melawan rasa ingin membalas.

Mungkin hari ini kita sedang terluka. Mungkin nama kita sedang diperbincangkan dengan tidak adil. Mungkin usaha kita sedang diremehkan.

Tetapi percayalah, Allah Maha Melihat. Tidak ada satu air mata pun yang jatuh sia-sia. Tidak ada satu kesabaran pun yang luput dari balasan-Nya.

Jika hari ini kita diuji oleh manusia, bisa jadi Allah sedang menaikkan derajat kita. Maka bersabarlah. Berdoalah. Tetaplah berbuat baik.

Karena pada akhirnya, yang menentukan nilai kita bukanlah penilaian manusia, tetapi pandangan Allah Ta’ala. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu