Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Doa di Balik Jendela Tsukuba: Saat Salju Menjemput Impian yang Hampir Gugur

Iklan Landscape Smamda
Doa di Balik Jendela Tsukuba: Saat Salju Menjemput Impian yang Hampir Gugur
Ria Pusvita Sari menikmati salju yang turun di Tokyo, Jepang. Foto: Dok/Pri
pwmu.co -

Catatan perjalanan belajar di Tsukuba University, Tokyo Campus, Japan oleh guru SD Muhammadiyah Manyar (SDMM) Gresik, Ria Pusvita Sari MPd.

Ada satu kutipan yang selalu saya pegang: “Manusia merencanakan dengan logika, namun Allah menyempurnakannya dengan keajaiban.”

Perjalanan saya ke Jepang pada awal Februari 2026 ini menjadi saksi hidup betapa kekuatan doa mampu menembus dinginnya ramalan cuaca.

Sebagai guru yang baru pertama kali menginjakkan kaki di Negeri Sakura, ada satu mimpi sederhana yang amat saya dambakan: melihat salju.

Namun, informasi yang saya terima sebelum berangkat cukup mematahkan semangat. Tokyo dikabarkan kering dari salju sepanjang 1 hingga 9 Februari.

Sejujurnya, ada sesak kecewa di dada. Mengingat ini adalah kesempatan langka yang belum tentu datang dua kali, saya hanya bisa mengetuk pintu langit. S

Sepanjang perjalanan, di sela-sela kepadatan agenda, saya tak henti berbisik, “Ya Allah, izinkan hamba merasakan sedikit saja anugerah-Mu di tanah ini.”

Penantian di Ambang Batas

Satu pekan berlalu di Tsukuba University, Tokyo Campus. Dingin memang terasa menusuk hingga ke tulang—suhu konsisten di angka 3 derajat hingga 5 derajat—namun langit tetap bersih tanpa kristal putih.

Hingga tiba di hari keenam, hari-hari terakhir saya di Jepang. Saya bergumam dalam hati, “Tinggal dua hari lagi, akankah salju tetap tidak menyapa?”

Iklan Landscape UM SURABAYA

Pagi itu terasa berbeda, Sabtu (7/2/2026). Udara jauh lebih menggigit, angin berhembus kencang, dan langit tampak lebih pekat. Saat saya menyusuri trotoar menuju SMP Laboratorium Tsukuba University, rasa optimis itu muncul kembali di tengah kedinginan yang luar biasa.

Doa di Balik Jendela Tsukuba: Saat Salju Menjemput Impian yang Hampir Gugur
Foto: Dok/Pri

Sekitar pukul 10.00 pagi, di tengah keriuhan proses diskusi kami di dalam kelas, mata saya tak sengaja melirik ke arah jendela. Di sana, di balik kaca yang mulai berembun, tampak butiran putih halus jatuh perlahan. Tipis, sedikit, namun nyata.

Hati saya berdegup kencang. Rasanya ingin segera berlari keluar! Begitu kelas usai, saya bergegas menuju halaman.

Benar saja, salju mulai turun menari-nari ditiup angin. Meski dinginnya terasa sangat ekstrem, rasa syukur saya jauh lebih hangat. Allah menjawab doa saya tepat di saat saya mulai pasrah.

Angka, Doa, dan Kristal Putih

Menjelang sore, salju justru turun semakin lebat, menyelimuti jalanan dengan karpet putih yang tebal. Saya berdiri di sana, di antara kepingan salju yang jatuh di telapak tangan, sembari terus melafalkan asma Allah.

Keajaiban ini bertahan hingga keesokan harinya, hari terakhir saya di Jepang. Dua hari penuh salju yang “mustahil” menurut ramalan, namun “sangat mungkin” bagi Sang Pencipta.

Terima kasih, Ya Allah. Perjalanan ini bukan sekadar tentang Lesson Study atau simposium internasional, melainkan tentang pelajaran iman bahwa tidak ada doa yang sia-sia jika kita percaya. Ini adalah kisah saya—tentang angka, tentang usaha, dan tentang salju yang turun tepat pada waktunya. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu