Tidak sedikit manusia yang hari ini sibuk menyusun rencana, strategi, dan hitungan dunia, tetapi lupa bahwa ada satu kekuatan yang sering diabaikan: doa.
Ketika usaha telah mentok dan logika tak lagi menemukan jalan, barulah tangan terangkat—itu pun kadang dengan hati yang ragu.
Padahal, sejak awal Allah telah membuka pintu langit-Nya, terutama di bulan Sya’ban, bulan ketika amal-amal diangkat dan doa-doa mengetuk langit dengan harapan penuh keyakinan.
Bulan Sya’ban bukan sekadar penanda waktu di kalender hijriah. Ia adalah bulan pembersihan diri, peningkatan ibadah, dan pemantapan hati sebelum memasuki bulan suci Ramadan.
Dalam bulan inilah, sebagaimana disebutkan dalam hadits, amal-amal manusia diangkat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Rasulullah saw bersabda: “Itulah bulan Sya’ban, bulan yang sering dilalaikan manusia, antara Rajab dan Ramadhan. Ia adalah bulan diangkatnya amal-amal kepada Rabb semesta alam, dan aku senang ketika amalku diangkat, aku dalam keadaan berpuasa.” (HR. An-Nasa’i)
Selain itu, sejarah Islam mencatat bahwa pada bulan Sya’ban pula terjadi peristiwa besar, yakni perubahan kiblat dari Baitul Maqdis ke Ka’bah di Makkah.
Ini menunjukkan bahwa Sya’ban adalah bulan peralihan besar, bukan hanya secara arah fisik, tetapi juga arah hati dan orientasi hidup seorang mukmin.
Karena itu, para ulama menganjurkan untuk memperbanyak puasa sunnah, doa, istighfar, dan amal kebaikan di bulan ini, terutama menjelang malam Nisfu Sya’ban, yang oleh sebagian ulama disebut sebagai malam maghfirah—malam terbukanya pintu ampunan Allah bagi hamba-hamba-Nya yang kembali dengan hati bersih.
Di tengah kesibukan hidup, tidak jarang doa dipandang sebagai opsi terakhir, bukan pilihan utama. Ketika usaha belum berhasil, barulah seseorang berdoa. Bahkan ada pula yang berdoa sambil menyimpan keraguan di dalam hati: “Entah dikabulkan atau tidak.”
Padahal, para ulama telah lama mengingatkan bahwa doa adalah senjata paling kuat seorang mukmin.
Imam Syafi’i rahimahullah berkata:
“Apakah engkau mengejek dan meremehkan doa?
Engkau tidak tahu apa yang bisa dilakukan oleh doa.
Doa itu ibarat anak panah yang dilepaskan di malam hari;
ia tidak akan meleset.
Hanya saja, anak panah itu membutuhkan waktu untuk mengenai sasaran,
dan setiap waktu pasti ada akhirnya.” (Diwan Imam Syafi’i)
Kata-kata ini mengajarkan satu hal penting: doa tidak pernah sia-sia, tetapi sering kali kita tergesa-gesa menuntut hasil. Padahal, Allah Maha Mengetahui waktu terbaik untuk mengabulkannya.
Betapa sering kita jumpai dalam kehidupan, seseorang yang bertahun-tahun berdoa:
- Seorang suami-istri yang lama menanti keturunan
- Seorang mahasiswa yang berkali-kali gagal sebelum akhirnya lulus
- Seorang pedagang kecil yang jatuh bangun sebelum usahanya stabil
- Seorang hamba yang lama berdoa agar hatinya diberi hidayah
Ketika doa belum terkabul, sebagian orang mulai berkata, “Mungkin doaku tidak didengar.” Padahal, boleh jadi doa itu sedang disimpan, atau diganti dengan sesuatu yang lebih baik, atau ditangguhkan sampai waktunya tepat.
Rasulullah saw bersabda: “Tidaklah seorang Muslim berdoa kepada Allah dengan suatu doa yang tidak mengandung dosa dan tidak memutus silaturahmi, melainkan Allah akan memberinya salah satu dari tiga: (1) Doanya segera dikabulkan, (2) Ditunda untuknya di akhirat, atau (3) Dijauhkan darinya keburukan yang sepadan dengan doanya.” (HR. Ahmad)
Maka, ketika doa kita belum terwujud, bukan berarti Allah menolak, melainkan Allah sedang memilihkan yang terbaik.
Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan dalam Al-Qur’an: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu.” (QS. Al-Mu’min: 60)
Dan dalam ayat yang sangat menenangkan hati, Allah berfirman: “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku.” (QS. Al-Baqarah: 186)
Ayat ini tidak diawali dengan kata “katakanlah” sebagaimana ayat-ayat lain, seakan-akan Allah ingin menunjukkan kedekatan-Nya yang sangat intim dengan hamba-Nya. Tidak ada jarak, tidak ada perantara, tidak ada birokrasi. Cukup angkat tangan dan hadirkan hati.
Yakin dan Husnudzon
Namun, wahai saudaraku, ada satu hal yang tidak boleh diabaikan: keyakinan hati.
Berdoa bukan sekadar mengucapkan kata-kata, tetapi menghadirkan iman dan husnudzon kepada Allah. Doa yang keluar dari hati yang ragu, lalai, dan setengah percaya, ibarat anak panah yang dilepaskan tanpa arah.
Rasulullah saw bersabda: “Berdoalah kepada Allah dalam keadaan yakin bahwa doa tersebut akan dikabulkan. Dan ketahuilah bahwa Allah tidak akan mengabulkan doa dari hati yang lalai.” (HR. Tirmidzi no. 3479)
Hati yang lalai adalah hati yang berdoa, tetapi tidak benar-benar berharap; yang meminta, tetapi tidak yakin; yang memohon, tetapi masih menggantungkan harapannya kepada selain Allah.
Maka, di bulan Sya’ban ini, mari kita perbaiki cara kita berdoa: perbaiki keyakinan, perbaiki keikhlasan, perbaiki husnudzon, perbaiki adab dan kesungguhan.
Jangan remehkan doa, meski tampak sederhana. Jangan putus asa, meski belum terlihat hasilnya. Sebab, doa yang dipanjatkan dengan yakin tidak pernah hilang, ia hanya sedang menunggu waktu terbaik dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Semoga kita termasuk hamba-hamba yang yakin ketika berdoa, khusyuk ketika bermunajat, dan lapang dada ketika menanti takdir-Nya.
Wallahu a’lam bish-shawab. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments