Nama daerah ini dikenal dengan Karangmenjangan. Dulu, orang seringkali menyebutnya Rumah Sakit (RS) Karangmenjangan. Namun, seiring dengan maraknya rumah sakit, kini nama RS-lah yang lebih diingat.
Dan, di Karangmenjangan ini, tepatnya di Jl. Mayjend Prof Dr. Moestopo No 6-8. Namanya Dokter Soetomo, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) milik pemerintah Provinsi Jawa Timur. RSUD ini adalah rumah sakit Tipe A. Pusat Rujukan Nasional (Top Referral) serta rujukan tertinggi untuk wilayah Jawa Timur dan Indonesia bagian Timur.
Dokter Soetomo yang dijadikan nama RSUD ini memang tokoh sembarang. Bersama Wahidin Soedirohoesodo dan Goenawan Mangoenkoesoemo, ia menjadi sebagai salah pendiri organisasi Budi Utomo pada 20 Mei 1908. Penanggalan yang setiap tahun diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional.
Pria kelahiran Nganjuk 30 Juli 1888 ini juga dikenal sebagai pendiri Partai Bangsa Indonesia (PBI). Termasuk pada tahun 1935, Soetomo mendirikan Partai Indonesia Raya (Parindra). Namun, saat bersamaan juga tokoh Muhammadiyah dalam bidang kesehatan.
Sejak tahun 1925 hingga akhir hayatnya 30 Mei 1938, ia adalah medisch adviseur (penasehat urusan kesehatan) Pengurus Besar (saat ini– Pimpinan Pusat) Muhammadiyah.
Pertemuan Dokter Soetomo dengan Muhammadiyah terjadi pada 1923 melalui perantara KH Mas Mansur. Pada tahun itu, Soetomo baru menyelesaikan ilmu spesialis penyakit kulit di Amsterdam. Pulang ke Indonesia, dia menetap di Surabaya. Sebab, saat itu dia mendapat tugas medis sebagai dokter sekaligus mengajar di NIAS (Nederlaandsch Indisch Artsen School). Perguruan tinggi yang kini menjadi fakultas kedokteran universitas Airlangga.
Mas Mansur menyatakan kenal dengan Soetomo yang saat itu bertempat tinggal di Palmelaan, Surabaya. Keduanya sering bertemu untuk berdiskusi hingga larut malam. Bahkan hingga dini hari. Sampai jam 2, kadang 3 dinihari. Kedua pemuda yang terpaut 8 tahun itu saling mengagumi, meski tidak selamanya harus bersepakat dalam semua masalah.
Dokter Soetomo mengagumi Mas Mansur sebagai sahabat yang dapat diajak berdiskusi berbagai hal secara mendalam. Termasuk dalam masalah filsafat dan konsep Ketuhanan. Sedangkan Mas Mansur terkesan dengan pandangan dan cara Soetomo memperlakukan sesama manusia yang penuh kemuliaan. Tanpa memandang status, Soetomo memanggil orang di sekelilingnya dengan penuh kehormatan.
Salah satu buah penting hasil percakapan Mas Mansur-Soetomo adalah pentingnya sebuah klinik untuk mengobati kaum miskin. Ide itu direalisasikan pada 14 September 1924. Soetomo diberi amanah sebagai penanggung jawab Poliklinik Muhammadiyah dibuka di Jl Sidodadi No 57. Poliklinik itulah yang hari ini menjadi Rumah Sakit PKU Muhammadiyah, Jl. KH Mas Mansyur No. 180-182.
Dalam acara resepsi peresmian poliklinik itu, Soetomo juga berpidato untuk memperkenalkan organisasi Muhammadiyah kepada khalayak yang hadir. “Nyonya-nyonya dan tuan-tuan. Atas nama Persyarikatan kita yang namanya Muhammadiyah, yakni untuk memperingati Nabi kita, Nabi Moehammad saw, kami mengucapkan selamat datang dan terima kasih untuk perhatian tuan-tuan yang tampak pada hari ini,” pidato Soetomo saat pembukaan.
“…haraplah kami hendak menerangkan Persyarikatan kami pada tuan-tuan …” pidato Soetomo di acara yang dihadiri perwakilan Pengurus Besar Muhammadiyah, Hadji Soedja’ dan Hadji Hadikoesoemo.
“Kita mendirikan sekolahan. Kita ada mendirikan Hizbul Wathan untuk memajukan badan kita. Anak yatim pun dapat pemeliharaan dari kita. Banyaklah jalan yang hendak kita jalani. Tetapi haruslah disebutkan di sini. Bahwa syarat kita ada sempit,” lanjut Soetomo.
“Besuk pagi akan kita buka Poliklinik ini. Siapa juga, baik orang Eropa, baik orang Jawa (orang bumi), baik China atau bangsa Arab, boleh kemari, akan ditolong dengan cuma-cuma, asalkan betul miskin. Kami mengharap tuan-tuan dan nyonya-nyonya, hendaknya luluslah poliklinik ini berdirinya, juga oleh bantuan tuan-tuan sekaliannya. Pekerjaan poliklinik yang penuh dengan kurban dan kemanusiaan,” jelas dr Soetomo menjelaskan singkat tentang Muhammadiyah.
Soetomo dan kawan-kawannya menyatakan kesanggupan untuk memberikan bantuan tenaga kepada PKU Muhammadiyah. Dokter-dokter itu antara lain Soetopo, Sardjono, Heerdjan, Soewarno, Soeratman, Soehardjo, Soerjatin, Soekardi, Irsan, Muwaladi, Saleh, Djojohusodo, J.W. Grootings, Aziz, P.H.F. Neynhoff, A.J.F. Tilung, dan Rabain.
Para dokter itu memberikan bantuan tenaga menurut giliran waktu dan keahliannya. Kemudian Soedjono-lah yang dalam kesehariannya menjadi dokter tetap sesuai kesepakatan para dokter tersebut. 3,5 bulan setelah berdiri, Poliklinik ini telah memberikan pertolongan pengobatan 3.975-an pasien.
Selain di Budi Utomo dan Muhammadiyah, Soetomo juga aktif menggerakkan kaum muda. Salah satunya adalah pendiri Perkumpulan Intelektual (Intellectueelenbond), yang kemudian diubah menjadi Indonesische Studieclub pada 1924. Indonesische Studieclub merupakan organisasi pertama lintas ideologi dan aliran politik.
Di antara tujuan utama Indonesische Studieclub adalah mengenalkan dan mempropagandakan persatuan nasional. Termasuk menumbuhkan kesadaran masyarakat pribumi, serta mempromosikan pembangunan masyarakat secara material maupun spiritual.
“Meskipun kemerdekaan sudah tercapai, kita masih harus berjuang dan masih harus berkorban –dan bahkan mungkin lebih sukar– untuk memperoleh kemuliaan, memperbaiki keadaan rakyat, membangun rakyat pribumi, memperbaiki keadaan ekonomi dan sosial kita,” tulis Soetomo soal mengisi kemerdekaan. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments