Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Dokter UMS Soroti Lonjakan Diabetes Usia Muda: Ini Alarm Serius bagi Indonesia

Iklan Landscape Smamda
Dokter UMS Soroti Lonjakan Diabetes Usia Muda: Ini Alarm Serius bagi Indonesia
Foto: drraghu.com
pwmu.co -

Diabetes adalah penyakit kronis yang sudah pasti menggerogoti tubuh kala kadar gula darah terus berada di atas normal. Penyakit ini tak lagi identik dengan usia lanjut.

Penyakit diabetes kerap menjangkiti kelompok produktif, menyerang tanpa gejala berarti, lalu muncul dalam bentuk komplikasi berat. Banyak orang belum memahami penyebab diabetes secara utuh, sering menyepelekan awal ciri diabetes.

Laporan Tempo menyebutkan, International Diabetes Federation (IDF) memperkirakan jumlah orang dewasa yang menderita penyakit diabates akan meningkat menjadi 853 juta orang atau 13 persen dari populasi global. Sementara jumlah diabates di Indonesia pada 2045 diproyeksikan mencapai 28,57 juta orang.

IDF menempatkan Indonesia di posisi keempat di Asia Tenggara setelah Malaysia, Brunei, dan Singapura sebagai negara penderita diabetes terbanyak. Indonesia mencatat prevalensi 11.3 persen, termasuk kelompok risiko tinggi dengan prevalensi yang telah melampaui 10 persen.

Penyakit diabetes telah terbukti menyebabkan banyak kematian. Meski Laporan IDF menyebutkan, 45,5 persen penduduk usia 20-79 tahun di negara-negara berpendapatan menengah diperkirakan tidak terdeteksi diabetes. Demikian diabetes kerap disebut bom waktu yang dapat menggerogoti kesehatan penderitanya.

Gaya Hidup Sehat yang Terabaikan

Diabetes adalah cerminan dari akumulasi kebiasaan makan yang tidak seimbang, bukan sekadar akibat satu sendok gula.

Dosen Program Studi Ilmu Gizi Universitas Muhammadiyah Surakarta Fitriana Mustikaningrum, S.Gz., M.Sc., Ph.D., perubahan lanskap konsumsi masyarakat dalam satu dekade terakhir menjadi alarm utama.

Makanan instan, minuman berpemanis, dan pangan ultra-proses kini lebih mudah dijangkau ketimbang sayur atau buah segar. Tubuh menerima energi berlebih, tetapi miskin serat dan zat gizi pelindung.

“Makanan dengan kandungan karbohidrat olahan dan gula tambahan umumnya memiliki indeks glikemik tinggi serta kandungan serat yang rendah, sehingga menyebabkan peningkatan glukosa darah yang cepat dan berulang,” jelas Fitriana saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (4/2/2026). Bahkan, peningkatan obesitas di Indonesia berjalan seiring dengan naiknya kasus penyakit tidak menular (PTM), di antaranya diabetes melitus.

Data The Global Burden of Disease 2019 and Injuries Collaborators 2020 yang dipelajari Fitriana menyebutkan, PTM merupakan penyebab dari 80 persen kasus kematian di Indonesia.

Penyebab diabetes bukan hanya rasa manis yang terasa di lidah. Banyak orang merasa aman karena jarang makan kue atau permen, padahal setiap hari mengonsumsi nasi putih dalam porsi besar, mi instan, roti tawar, atau minuman kemasan.

“Karbohidrat olahan seperti itu memiliki indeks glikemik tinggi. Begitu masuk ke tubuh, kadar gula darah melonjak cepat. Jika terjadi berulang, pankreas dipaksa bekerja keras memproduksi insulin, hingga akhirnya kelelahan,” papar dia.

Peningkatan risiko diabetes tak hanya ditentukan oleh jenis makanan yang dikonsumsi, tetapi juga oleh cara makan, termasuk porsi, frekuensi, dan waktu konsumsi. Kedua aspek tersebut, jelas Fitriana, akan saling berinteraksi dan memperkuat dampaknya terhadap regulasi glukosa darah.

“Penyebab diabetes juga bisa diwaspadai dan dilihat dari kebiasaan cara makan kita, kayak porsi berlebihan, kebiasaan ngemil manis di sela waktu, serta makan larut malam membuat gula darah jarang stabil,” imbuhnya memberikan peringatan.

Minuman manis menjadi jebakan tersendiri. Dalam bentuk cair, gula diserap sangat cepat dan tidak memberi rasa kenyang, sehingga asupan energi meningkat tanpa disadari

Di kelas-kelas edukasi gizi, Fitriana kerap menemukan kesalahpahaman klasik. Di mana orang mengira diabetes hanya menyerang mereka yang gemuk. Padahal orang dengan berat badan normal juga berisiko, bila pola makannya buruk dan jarang bergerak.

“Padahal, kualitas pola makan dan beban glikemik total tetap berperan penting terlepas dari status gizi,” kata Fitriana.

Baginya, pencegahan paling efektif memang dari diri sendiri. Selain itu, edukasi membaca label gizi juga penting agar masyarakat tahu berapa banyak gula tersembunyi dalam minuman dan camilan kemasan.

“Tubuh kita sebenarnya memberi sinyal sejak awal. Berat badan naik, lingkar pinggang melebar, cepat mengantuk setelah makan. Itu alarm metabolik,” jelas dia.

Komplikasi karena Keterlambatan Diagnosis

Sementara itu, diabetes jadi penyakit yang sering terlambat disadari di ruang praktik dosen Fakultas Kedokteran UMS, dr. Yogo Pardi Wibowo, Sp.PD. Dalam lima tahun terakhir, ia melihat perubahan pola yang mengkhawatirkan.

Yogo mengaku jarang bertemu pasien yang datang hanya untuk skrining. Kebanyakan pasien sudah membawa keluhan, seperti penglihatan kabur, kesemutan atau kebas kaki, kelelahan ekstrem hingga luka kaki yang tak kunjung kering.

“Karakter pasien berubah signifikan. Sekarang banyak yang usianya 20-40 tahun sudah kena. Kelompok yang seharusnya berada pada puncak produktivitas,” ungkap Yogo dalam wawancara terpisah secara daring, Rabu (4/2/2026).

diabetes adalah, penyebab diabetes, luka diabetes, ciri diabetes, penyakit diabetes, pola makan, minuman manis, gaya hidup sehat
Studi kohort Family Life Survey (IFLS) menunjukkan proporsi diabetes onset dini pada kelompok usia produktif meningkat tajam. Gaya hidup urban, makanan ultra-proses, kurang gerak, obesitas sejak muda menjadi faktor dominan.

Titik kritis pertama, menurut Yogo, adalah kontrol gula darah yang memang sudah buruk sejak awal. Data DISCOVER Indonesia, kata Yogo, menunjukkan pasien memulai terapi lini kedua dengan Hemoglobin A1c (HbA1c) rata-rata 8,4 persen, jauh di atas target ideal.

Tiga tahun kemudian, angkanya tetap tinggi, tak pernah benar-benar terkendali. Studi di Aceh bahkan menemukan lebih dari tiga perempat pasien memiliki kontrol buruk meski sudah terdaftar dalam program pembinaan penyakit kronis.

“Padahal, rekomendasi PERKENI menargetkan HbA1c di bawah 7 persen, selisih kecil yang terbukti menentukan risiko serangan jantung, stroke, gagal ginjal, hingga kematian,” jelasnya.

Titik kritis berikutnya muncul pada intensifikasi terapi. Dalam praktik sehari-hari, waktu konsultasi di layanan primer sering hanya lima sampai sepuluh menit per pasien.

Dokter dan perawat dibebani antrean panjang, administrasi, dan keterbatasan obat. Akibatnya, penyesuaian dosis sering tertunda. Banyak pasien bertahun-tahun hanya mengonsumsi metformin tunggal meskipun HbA1c tetap di atas 9 persen. Mereka baru dirujuk ketika komplikasi sudah nyata.

“Ironisnya, karena merasa masih muda, mereka jarang memeriksakan gula darah. Padahal masalah terbesar adalah keterlambatan diagnosis,” kritiknya.

Komplikasi datang lebih dini dan lebih berat, terutama pada pasien muda dengan kontrol gula buruk. Salah satu yang paling menyita perhatiannya adalah luka diabetes.

Pasien datang dengan ulkus kaki stadium lanjut, infeksi berat, bahkan harus diamputasi. Luka kecil akibat sepatu sempit atau goresan batu bisa membesar karena aliran darah buruk dan saraf tidak sensitif.

Luka diabetes sering kali tak disadari memburuk oleh pasien. Pilihan medis menjadi terbatas. Dalam kondisi tertentu, amputasi pun tak terhindarkan.

Menurut Yogo, kunci utama adalah deteksi dini. Pemeriksaan gula darah seharusnya menjadi rutinitas, terutama bagi usia di atas 40 tahun, obesitas, atau memiliki riwayat keluarga diabetes.

Yang tak kalah penting lainnya adalah edukasi. Menurutnya, program seperti PROLANIS atau Posbindu sebenarnya tersedia di banyak puskesmas, tetapi partisipasi rendah. Pasien datang hanya untuk tes laboratorium gratis, jarang mengikuti kelas edukasi atau aktivitas fisik.

“Padahal diabetes itu penyakit yang sangat bergantung pada self-management. Kalau pasien tidak paham, obat terbaik pun tidak akan efektif,” kata Yogo.

Penyakit diabetes ibarat gunung es. Yang terlihat hanya puncaknya, yakni pasien dengan komplikasi berat. Di bawahnya, jauh lebih banyak orang hidup dengan kadar gula darah tinggi tanpa menyadarinya.

Dari sudut pandang Yogo, tingginya kematian akibat diabetes bukan disebabkan satu faktor tunggal, melainkan rantai kegagalan panjang, di antaranya deteksi terlambat, kontrol gula tak terpantau, terapi tidak ditingkatkan tepat waktu, rujukan terputus, edukasi lemah, lalu berujung komplikasi.

“Kalau satu saja kita perbaiki lebih awal, skrining rutin misalnya, banyak komplikasi bisa dicegah. Tapi kalau semuanya terlambat, kita hanya kebagian merawat akibatnya,” pungkas Yogo. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu