Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Dosen FAI UMM Tegaskan Bahwa Spirit Jihad Islam Bukan untuk Membunuh Orang Lain

Iklan Landscape Smamda
Dosen FAI UMM Tegaskan Bahwa Spirit Jihad Islam Bukan untuk Membunuh Orang Lain
Dosen FAI UMM, Nafik Muthohirin menyampaikan materi di Webinar Moderasi Beragama PC IMM Malang Raya. (Ahmad Ashim Muttaqin/PWMU.CO)
pwmu.co -

Aksi-aksi terorisme yang menggunakan label Islam semakin menyeruak pasca terjadinya perisiwa 11 September 2001. Menanggapi hal tersebut, Dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Nafik Muthohirin menilai bahwa kemunculan terorisme yang mengatasnamakan Islam tidak hanya muncul akibat tafsir keagamaan dan pemaknaan jihad yang keliru, namun juga dampak dari kondisi geopolitik dan ekonomi yang tidak menguntungkan umat Islam.

“Para sarjana Barat semakin memperkeruh keadaan dengan menyandingkan ideologi terorisme dengan jihadisme, salafisme, wahabisme dan ekstremisme, sehingga masyarakat awam sulit untuk membedakan antara terorisme dan jihad,” katanya dalam Webinar Mengurai Akar Terorisme: Perspektif Sosial, Ekonomi dan Ideologi di Balik Aksi Kekerasan yang diselenggarakan PC IMM Malang Raya pada Rabu (20/8/2025).

Ia menerangkan bahwa dari keseluruhan surat di dalam al-Quran, hanya terdapat 28 surat yang bisa dijadikan rujukan untuk jihad.

Bahkan kata jihad sendiri hanya disebut 4 kali, yakni di dalam surat At-Taubah ayat 24, Al-Hajj ayat 78, Al-Furqon ayat 52 dan Al-Mumtahanah ayat 1.

“Di al-Quran kata jihad tidak secara detail memerintahkan umat Islam untuk berperang. Malah sebaliknya kata jihad dimaksudkan untuk mencintai Allah dan Rasul melebihi kecintaan kita terhadap keluarga dan apapun yang kita miliki,” ujarnya.

Lebih lanjut ia mengutip analisa Bassam Tibbi, bahwa pasca runtuhnya Uni Soviet dan Turki Utsmani, Barat relatif tidak memiliki musuh yang setara. Oleh sebab itu mereka menciptakan musuh baru, yakni komunitas umat Islam.

“Sebagian umat Muslim merasa termarginalisasi, merasa tersubordinasi dalam berbagai bidang, sehingga ideologi yang mengedepankan kekerasan dianggap sebagai alternatif dalam membalikkan kedigdayaan umat Islam seperti pada masa Turki Utsmani dulu,” terangnya.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Ia juga menambahkan bahwa di era sekarang, pemanfaatan media sosial menjadi cara baru bagi kelompok radikal untuk menyebarkan benih-benih ideologi ekstremisme.

Berbagai artikel, gambar dan video yang mengandung pesan intoleran menjadi alat propaganda dan sarana rekrutmen anggota untuk bergabung kelompok radikal.

“Hari ini ideologi ekstremisme bisa menyasar siapapun dan melalui sumber apapun. Baik melalui kajian dan halaqah di masjid, kampus atau kompleks perumahan. Ataupun melalui narasi keagamaan yang dipublikasikan di media sosial,” ucapnya.(*)

 

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu