Kemudahan sistem pembayaran nontunai berbasis QRIS kini menjadi pilihan utama di kalangan mahasiswa Generasi Z.
Meski menawarkan kepraktisan dalam bertransaksi, penggunaan QRIS juga menyimpan risiko finansial berupa ilusi digital yang kerap luput disadari penggunanya.
Fenomena ini mendapat perhatian dari Dosen Manajemen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Ainur Rifqi Almahdani Rahmat, M.M., yang menilai bahwa kebiasaan tersebut dapat menggerus kesadaran finansial anak muda.
Rifqi menjelaskan bahwa dari sisi psikologis, transaksi menggunakan QRIS memberikan pengalaman yang berbeda dibandingkan pembayaran tunai.
Saat membayar dengan uang fisik, individu cenderung merasakan secara langsung berkurangnya uang yang dimiliki.
Sebaliknya, transaksi digital berlangsung cepat dan instan sehingga menurunkan hambatan psikologis dalam membelanjakan uang.
Situasi ini memicu munculnya fenomena latte factor, yakni akumulasi pengeluaran kecil yang dilakukan secara rutin—seperti membeli kopi atau camilan—yang terlihat sepele namun berdampak besar terhadap kondisi keuangan di akhir bulan.
Ia menuturkan bahwa rasa “kehilangan” uang jauh lebih terasa ketika seseorang mengeluarkan uang tunai, sementara pada pembayaran digital sensasi tersebut semakin samar karena proses transaksi yang singkat, cukup dengan memindai kode dan menekan tombol konfirmasi.
Di sisi lain, Rifqi mengakui bahwa QRIS memiliki banyak keunggulan, mulai dari kemudahan transaksi tanpa uang kembalian hingga pencatatan otomatis dalam aplikasi.
Namun, tantangan utama terletak pada melemahnya kontrol diri, terutama akibat tawaran promo dan cashback.
Menurutnya, strategi tersebut dirancang untuk mendorong konsumen melakukan pembelian berulang, sehingga barang yang awalnya bukan kebutuhan berubah menjadi keinginan semata karena tergiur potongan harga.
Dalam jangka panjang, kebiasaan ini dapat meningkatkan perilaku konsumtif dan membentuk pola belanja baru yang berulang. Akibatnya, konsumen cenderung terus bertransaksi meskipun tidak memiliki kebutuhan mendesak.
Lebih lanjut, Rifqi mengingatkan bahwa ilusi saldo digital berpotensi menumbuhkan pola pengelolaan keuangan yang kurang disiplin.
Nilai uang yang terasa semakin abstrak membuat sebagian mahasiswa, khususnya Gen Z, berisiko mengalami defisit anggaran karena merasa saldo masih aman, padahal pengeluaran harian telah melampaui batas yang direncanakan.
Sebagai langkah pencegahan, ia menyarankan agar pengguna membatasi transaksi QRIS hanya melalui satu aplikasi pembayaran.
Dengan demikian, proses pencatatan dan evaluasi pengeluaran bulanan dapat dilakukan secara lebih mudah dan terkontrol.
Melalui langkah tersebut, mahasiswa diharapkan tetap dapat memanfaatkan kemudahan teknologi pembayaran digital tanpa kehilangan kendali atas kondisi keuangan pribadi.
Perencanaan yang tepat akan membantu Generasi Z menjalani gaya hidup nontunai secara bijak dan terhindar dari perilaku konsumtif berlebihan.(*)






0 Tanggapan
Empty Comments