Peringatan Nuzulul Qur’an pada bulan Ramadan tidak hanya dimaknai sebagai tradisi keagamaan semata, tetapi juga menjadi momentum refleksi bagi umat Islam untuk kembali menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman dalam kehidupan.
Momentum tersebut dinilai penting untuk meneguhkan kembali peran Al-Qur’an dalam membimbing kehidupan spiritual sekaligus sosial umat, terutama di tengah berbagai tantangan moral yang dihadapi masyarakat modern.
Nuzulul Qur’an Bukan Sekadar Seremonial
Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Arab Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. Ahmad Fatoni, Lc., M.Ag., menegaskan bahwa peringatan Nuzulul Qur’an seharusnya tidak berhenti pada aspek seremonial saja.
Menurutnya, peristiwa turunnya wahyu pertama justru menjadi pengingat bagi umat Islam untuk terus menghidupkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.
“Nilai-nilai Qur’ani memiliki potensi transformatif dalam membangun kehidupan yang lebih adil, beretika, dan berkeadaban,” ujarnya.
Makna Nuzulul Qur’an
Secara etimologis, Fatoni menjelaskan bahwa istilah Nuzulul Qur’an berasal dari kata Arab nazala yang berarti “turun”, sedangkan Al-Qur’an berasal dari kata qara’a yang bermakna “bacaan”.
Istilah tersebut merujuk pada peristiwa turunnya wahyu Allah kepada Nabi Muhammad SAW sebagai petunjuk bagi umat manusia.
Peristiwa tersebut dimulai dengan turunnya wahyu pertama berupa Surah Al-‘Alaq ayat 1–5 kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantara Malaikat Jibril.
Dalam kajian Ulumul Qur’an, turunnya wahyu dipahami sebagai proses penyampaian firman Allah kepada Nabi Muhammad SAW, baik secara sekaligus maupun bertahap sesuai kebutuhan dakwah pada masa itu.
“Peristiwa ini menandai dimulainya risalah kenabian Nabi Muhammad SAW,” jelasnya.
Peristiwa Turunnya Wahyu
Mayoritas ulama tafsir juga berpendapat bahwa Nuzulul Qur’an terjadi pada malam 17 Ramadan, sekitar tahun ke-13 sebelum Hijrah, ketika Nabi Muhammad SAW berusia 40 tahun.
Peristiwa tersebut berlangsung di Gua Hira, Makkah, tempat Nabi melakukan perenungan spiritual sebelum menerima wahyu pertama.
Fatoni menambahkan bahwa turunnya Al-Qur’an secara bertahap memiliki hikmah besar, salah satunya untuk memperkuat spiritualitas Nabi Muhammad SAW dalam menjalankan misi kenabian.
Selain itu, proses tersebut juga memudahkan umat Islam dalam memahami ajaran Al-Qur’an secara kontekstual sesuai kondisi sosial masyarakat pada masa itu.
“Proses turunnya wahyu yang bertahap memudahkan umat Islam memahami, menghayati, dan mengamalkan ajaran Al-Qur’an,” katanya.
Menghidupkan Nilai Al-Qur’an
Karena itu, ia mengajak umat Islam menjadikan momentum Nuzulul Qur’an sebagai sarana untuk memperkuat hubungan spiritual dengan Allah.
Hal tersebut dapat dilakukan melalui peningkatan kualitas ibadah, memperbanyak tilawah, memahami tafsir Al-Qur’an, serta mengamalkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan demikian, Nuzulul Qur’an tidak hanya dipahami sebagai peristiwa historis dalam perjalanan dakwah Nabi Muhammad SAW.
Lebih dari itu, peringatan tersebut juga menjadi pengingat bagi umat Islam untuk terus menghidupkan nilai-nilai Al-Qur’an di tengah berbagai tantangan kehidupan modern.






0 Tanggapan
Empty Comments