Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Dosen Umsura Ungkap Bahaya Terlalu Sering Mengonsumsi Makanan Berkemasan Plastik

Iklan Landscape Smamda
Dosen Umsura Ungkap Bahaya Terlalu Sering Mengonsumsi Makanan Berkemasan Plastik
Ilustrasi AI
pwmu.co -

Kenaikan harga produk plastik belakangan ini menjadi sorotan publik, terutama akibat terganggunya impor bahan baku plastik yang dipicu konflik antara Amerika Serikat dan Iran.

Di balik penggunaannya yang praktis dan ekonomis, plastik ternyata menyimpan potensi bahaya bagi kesehatan jika digunakan secara berlebihan, terutama pada kemasan makanan.

Dosen Teknologi Laboratorium Medik (TLM) Universitas Muhammadiyah Surabaya, Baterun Kunsah, menegaskan pentingnya pemahaman masyarakat terhadap jenis-jenis plastik yang digunakan sehari-hari.

“Cara sederhana untuk menghindari bahaya plastik adalah dengan mengetahui jenis plastik yang digunakan, khususnya pada kemasan makanan dan minuman,” ujarnya, Senin (6/4/2026).

Kunsah menjelaskan bahwa kemasan plastik memiliki tujuh jenis utama berdasarkan kode internasional yang dikeluarkan oleh The Society of the Plastic Industry dan diadopsi oleh International Organization for Standardization.

Salah satu yang paling umum adalah PET (Polyethylene Terephthalate), yang banyak digunakan pada botol air mineral dan minuman.

“Botol jenis ini hanya direkomendasikan untuk sekali pakai. Jika digunakan berulang, lapisan polimernya bisa terurai dan berpotensi bersifat karsinogenik,” jelasnya.

Jenis lain adalah LDPE (Low Density Polyethylene) yang relatif lebih aman karena sulit bereaksi dengan makanan, meski tetap berdampak pada lingkungan karena sulit terurai.

Sementara itu, PS (Polystyrene) yang sering digunakan pada styrofoam dan wadah makanan sekali pakai dinilai lebih berbahaya.

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

“Polystyrene dapat melepaskan zat styrene saat terkena makanan panas, yang berpotensi mengganggu fungsi otak, hormon, dan sistem saraf,” ungkapnya.

Kunsah juga mengingatkan bahaya plastik dengan kode 7, seperti polycarbonate (PC), yang sering digunakan pada galon air dan botol susu bayi.

Saat dipanaskan, plastik ini dapat melepaskan zat bisphenol-A (BPA) yang berisiko mengganggu sistem hormon dan kekebalan tubuh.

“Botol susu bayi dari bahan ini dapat mengeluarkan BPA saat dipanaskan, yang berbahaya bagi kesehatan,” tegasnya.

Untuk mengurangi paparan zat berbahaya dari plastik, masyarakat disarankan mulai mengurangi penggunaan kemasan plastik.

Beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan antara lain:

  • Menggunakan wadah makanan sendiri berbahan kaca atau logam
  • Menghindari penggunaan ulang botol plastik sekali pakai
  • Menggunakan wadah kaca saat memanaskan makanan di microwave
  • Memilih plastik berlabel polyethylene jika terpaksa digunakan

“Langkah kecil ini penting untuk menjaga kesehatan jangka panjang sekaligus mengurangi risiko paparan zat berbahaya,” tutupnya.

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡