Tim Dosen Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSurabaya) yang tergabung dalam Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Smart Canting memperkenalkan dan menyerahkan inovasi berupa meja batik ergonomis kepada para perajin di UMKM Batik Bambu Mujur, Desa Sumbermujur, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang, Rabu (08/10/2025).
Inovasi ini lahir dari keprihatinan terhadap kondisi kerja para pembatik yang selama ini bekerja dengan posisi duduk bersila atau di kursi pendek sambil membungkuk.
Sehingga berisiko menimbulkan gangguan kesehatan seperti nyeri punggung, pinggang, dan leher. Selain itu, jarak pandang yang terlalu dekat dengan kain (sekitar 30–40 cm) juga dapat menyebabkan mata lelah.
Sekilas tentang Ergonomi
“Ergonomi adalah ilmu yang mempelajari bagaimana merancang lingkungan dan peralatan kerja agar sesuai dengan kondisi fisik dan psikis manusia. Kami ingin memastikan pembatik dapat bekerja lebih nyaman, sehat, dan produktif” ujar Dr Indah Kurniawati, ketua tim PKM Smart Canting.
Meja batik ergonomis yang terancang tim ini memiliki ukuran 1500 x 600 mm. Kemudian juga dilengkapi dengan penggulung atas dan bawah untuk menggulung kain batik tanpa perlu dipindahkan secara manual.
Meja juga memiliki pengatur sudut kemiringan agar pembatik dapat menyesuaikan posisi kerja dengan postur tubuh yang nyaman.
Konstruksi meja menggunakan rangka besi dengan roda di bagian bawah, sehingga mudah dipindahkan. Meja ini dapat berguna untuk berbagai tahap produksi batik, mulai dari menggambar pola dengan pensil atau canting hingga proses pewarnaan kain.
Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa Teknik Elektro UMSurabaya Abdullah Rasyiid Hariono turut memberikan pelatihan penggunaan meja batik kepada para pembatik di rumah pemilik usaha batik, Nurul Huda.
Selain memperkenalkan alat kerja baru, tim juga memberikan pelatihan tentang tata letak ruang produksi dan efisiensi alur kerja.
Buat Pembatik Lebih Nyaman
Menurut Yessie Ardina Kusuma ST MT, dosen Teknik Sipil sekaligus anggota tim, ruang produksi Batik Bambu Mujur sebelumnya masih memiliki keterbatasan seperti pencahayaan minim, ventilasi kurang baik, dan tata letak peralatan yang tidak teratur.
“Dengan perbaikan tata letak dan pencahayaan, pembatik bisa bekerja lebih nyaman dan produktif. Lingkungan kerja yang ergonomis akan berpengaruh langsung pada kualitas hasil batik” jelas Yessie.
Pemilik UMKM Batik Bambu Mujur, Nurul Huda, menyambut positif inovasi dan pendampingan yang tim UMSurabaya lakukan.
“Sosialisasi dan pelatihan ini sangat bermanfaat. Meja batik ergonomis membuat pekerjaan kami lebih efektif dan hasilnya lebih baik. Kami berterima kasih kepada tim dosen UMSurabaya dan Kemendiktisaintek yang telah mendukung kegiatan ini” ujarnya.
Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Pemberdayaan Masyarakat yang didanai oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) Tahun Anggaran 2025.
Melalui inovasi ini, harapannya para perajin batik di daerah dapat terus meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga kesehatan kerja mereka.





0 Tanggapan
Empty Comments