Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Dosen UMY Ungkap Bahaya Burnout yang Kerap Dianggap Kelelahan Biasa

Iklan Landscape Smamda
Dosen UMY Ungkap Bahaya Burnout yang Kerap Dianggap Kelelahan Biasa
Foto: Wikipedia
pwmu.co -

Merasa lelah meski sudah cukup tidur dan beristirahat bukan sekadar tanda kelelahan biasa. Kondisi tersebut bisa menjadi sinyal awal burnout, gangguan stres jangka panjang yang kerap tak disadari namun berdampak serius pada kesehatan mental dan fisik seseorang.

Menurut dr. Rr. Tesaviani Kusumastiwi, Sp.KJ, dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) sekaligus spesialis kedokteran jiwa, burnout merupakan kondisi serius yang dapat mengancam kualitas hidup seseorang, baik secara fisik maupun psikis.

Hal tersebut disampaikan dr. Tesaviani dalam wawancara di Gedung Erwin Santosa UMY, Senin (26/1/2026).

Dia menjelaskan, kelelahan dan burnout memiliki perbedaan mendasar yang kerap luput dikenali oleh masyarakat.

“Kalau kelelahan itu stresnya bersifat sementara dan bisa membaik dengan istirahat. Sementara burnout merupakan stres jangka panjang. Meskipun sudah beristirahat, tubuh tetap merasa lelah,” jelasnya.

Selain dari durasi stres, perbedaan lainnya terletak pada tingkat risikonya. Kelelahan umumnya tidak menimbulkan dampak kesehatan yang serius, sedangkan burnout berpotensi memicu berbagai gangguan fisik maupun psikis.

Beberapa di antaranya adalah gangguan lambung seperti GERD, nyeri kepala, gangguan kecemasan, hingga depresi.

Menurut Tesaviani, tanda-tanda awal burnout sering kali tidak disadari karena individu cenderung menyangkal kondisi psikis yang dialami. Namun, tubuh justru memberikan sinyal melalui berbagai keluhan fisik.

“Bangun tidur tetapi masih merasa lelah, cepat capek meskipun melakukan aktivitas ringan, nyeri kepala atau otot, gangguan pencernaan, hingga gangguan hormonal seperti menstruasi yang tidak teratur, itu bisa menjadi tanda awal burnout,” paparnya.

Dari sisi psikis, burnout ditandai dengan mudah tersinggung, sulit berkonsentrasi, mudah lupa, serta gangguan tidur. Kondisi ini banyak dialami oleh mahasiswa maupun pekerja dengan tuntutan akademik dan beban kerja yang tinggi.

Ia menegaskan bahwa tidur memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan mental. Ancaman burnout ini dapat mengganggu keseimbangan kimia dalam tubuh yang berdampak langsung pada kualitas tidur, sehingga tubuh gagal melakukan proses pemulihan secara optimal.

Sebagai langkah pencegahan, Tesaviani menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara aktivitas dan waktu istirahat, serta antara tuntutan eksternal dan penghargaan terhadap diri sendiri.

“Jika upaya menyeimbangkan aktivitas dan istirahat sudah dilakukan tetapi burnout masih dirasakan, jangan ragu untuk mengomunikasikannya kepada profesional, baik psikolog maupun psikiater, agar sumber burnout dapat dikenali dan ditangani secara tepat,” pungkasnya. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu