The 10th Healthcare Management Outlook Series yang digelar Program Studi Profesi Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surabaya (FK UMSURA), Sabtu (14/2/2026) pagi, dr. M. Asroh Abdih Y., Sp.U., Direktur RS Muhammadiyah Lamongan turut hadir sebagai narasumber.
Dalam forum nasional yang diikuti 798 peserta dari berbagai daerah di Indonesia tersebut, dr. Asro membawakan materi berjudul “Resiliensi Rumah Sakit dalam Menghadapi Krisis Global dan Disrupsi.”
Ia menegaskan bahwa krisis global maupun nasional saat ini bersifat VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity). Kondisi ini tercermin dari pengalaman lonjakan pasien saat pandemi, gangguan sistem kesehatan akibat bencana, disrupsi rantai pasok obat dan alat kesehatan, hingga tekanan finansial yang berat bagi rumah sakit.
Menurutnya, resiliensi rumah sakit adalah kemampuan untuk mengantisipasi, menyerap, beradaptasi, dan pulih dari krisis. Ia menjabarkan lima fase utama resiliensi, yakni anticipate, absorb, adapt, restore, dan learn. Rumah sakit yang tangguh bukan hanya mampu bertahan, tetapi juga belajar dari krisis untuk memperkuat sistem ke depan.
dr. Asro juga menjelaskan konsep cycle shocks, mulai dari tahap kesiapsiagaan (preparedness), identifikasi awal krisis, pengelolaan dampak, hingga pemulihan dan pembelajaran. Dampak guncangan, jelasnya, sangat dipengaruhi oleh kekuatan sistem kesehatan itu sendiri—semakin baik kinerja sistem, semakin kecil dampak krisis yang ditimbulkan.
Berbagai potensi krisis di rumah sakit turut diulas, seperti overcrowding di IGD dan ICU, burnout tenaga kesehatan, ketidakseimbangan layanan emergensi dan elektif, gangguan logistik, hingga financial distress akibat peningkatan biaya operasional.
Sebagai solusi, ia memaparkan lima pilar utama resiliensi rumah sakit, meliputi aspek klinis, sumber daya manusia, operasional, finansial, serta teknologi dan digitalisasi. Transformasi digital, pemanfaatan telemedicine, serta pengambilan keputusan berbasis data real-time menjadi kunci dalam memperkuat daya tahan sistem layanan.
Dalam kerangka evaluasi kinerja, ia juga menyinggung pendekatan Health System Performance Assessment (HSPA) yang dikembangkan oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) sebagai alat ukur komprehensif untuk memastikan sistem kesehatan tetap berkualitas, adil, efisien, dan resilien, baik dalam kondisi normal maupun saat menghadapi krisis. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments