Darul Arqam Nasyiatul Aisyiyah (DANA) II yang digelar Pimpinan Daerah Nasyiatul Aisyiyah (PDNA) Lamongan Wilayah Kerja (Wilker) II berlangsung di Pondok Pesantren An-Nur Muhammadiyah Karanggeneng pada Sabtu–Ahad (27–28/12/2025). Wilker II meliputi PCNA Karanggeneng, Turi, Glagah, dan Kalitengah.
Salah satu pemateri dalam kegiatan tersebut adalah Dr. Tatag Satria Praja, S.Pd.I., M.Pd. Ia merupakan dosen S2 Program Studi Administrasi Kesehatan Universitas Muhammadiyah Lamongan (Umla), anggota Majelis Tabligh PDM Lamongan, Sekretaris Majelis Tarjih PCM Kalitengah, Ketua Kantor Layanan Lazismu (KLL) Umla, serta sedang menempuh pendidikan doktoral (S3) di UIN Sunan Ampel Surabaya.
Dalam materinya bertajuk Analisis Problem Sosial dan Penyelesaian Masalah, Dr. Tatag menegaskan bahwa kemampuan menganalisis persoalan sosial menjadi bekal penting bagi organisasi perempuan seperti Nasyiatul Aisyiyah.
Menurutnya, pemahaman problem sosial diperlukan agar kader mampu memberikan solusi yang aplikatif dan berkelanjutan, mengembangkan dakwah Islam berkemajuan yang kontekstual, serta melindungi generasi muda dari berbagai dampak negatif persoalan sosial.
Ia juga menyoroti peran strategis kader Nasyiatul Aisyiyah sebagai agen perubahan sosial. Beberapa langkah konkret yang telah dilakukan PDNA Lamongan, menurutnya, patut diapresiasi. Di antaranya adalah penyelenggaraan lomba jingle Cegah Pernikahan Anak (Cepak) sebagai media sosialisasi pencegahan pernikahan usia anak melalui karya seni.
“Selain itu, pendirian rumah aduan yang baru saja diresmikan menjadi bentuk nyata kehadiran Nasyiatul Aisyiyah dalam membantu menyelesaikan persoalan sosial, khususnya yang berkaitan dengan perempuan dan anak,” ujarnya.
Dr. Tatag juga menyampaikan bahwa Gerakan Pashmina (Pelayanan Remaja Sehat milik Nasyiatul Aisyiyah) merupakan inovasi penting dalam memberikan ruang aman bagi remaja. Melalui gerakan ini, remaja tidak hanya memperoleh informasi kesehatan, tetapi juga dapat menyampaikan permasalahan yang dihadapi melalui pos konsultasi psikologi.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa kader Nasyiatul Aisyiyah harus mampu menjadi teladan, baik dari sisi akhlak maupun intelektual, dalam kehidupan sehari-hari. Keteladanan tersebut menjadi kekuatan utama dalam dakwah dan pengabdian sosial di tengah masyarakat.
Peran strategis kader selanjutnya adalah sebagai penggerak dakwah. Oleh karena itu, PDNA Lamongan membekali kader-kadernya melalui Sekolah Muballighat dan Pelatihan Muballighat Dasar agar mampu tampil percaya diri dan berkompeten di ruang dakwah.
Menutup materinya, Dr. Tatag menyampaikan bahwa kader Nasyiatul Aisyiyah perlu memiliki empat kompetensi utama agar mampu tampil sebagai solusi atas problem sosial. Kompetensi tersebut meliputi pemahaman Islam yang mendalam, kemampuan kepemimpinan dan manajemen, keterampilan komunikasi yang efektif, serta empati dan kepedulian sosial yang tinggi.
“Kader Nasyiatul Aisyiyah bukan hanya dituntut aktif berorganisasi, tetapi juga hadir sebagai jawaban atas persoalan umat dan masyarakat,” pungkasnya.





0 Tanggapan
Empty Comments