Kehadiran Menteri Keuangan baru dengan gaya kepemimpinan yang segar memberi harapan munculnya arah ekonomi yang lebih optimistis. Harapannya, pertumbuhan ekonomi bisa melesat dengan koordinasi dua mesin utama: fiskal dan moneter.
Model klasik yang menjelaskan dua mesin tersebut adalah IS-LM. Hicks (1937) merumuskannya sebagai keseimbangan investasi–tabungan dan uang–likuiditas, merujuk pada pemikiran Keynes setahun sebelumnya. Perkembangannya kemudian melahirkan model IS-MP (Monetary Policy) hingga DSGE (Dynamic Stochastic General Equilibrium) yang lebih modern, kompleks, dan matematis. Namun, esensinya tetap sama: ekonomi digerakkan oleh dua mesin pesawat, fiskal dan moneter.
Kelemahan Dua Mesin Pesawat
Apa kelemahan model ini? Ibarat pesawat jet, pertumbuhan bisa melaju cepat, tetapi tidak semua orang ikut terbang. Banyak yang tertinggal di landasan. Sejak era reformasi, pertumbuhan sekitar 5 persen justru memperlebar jurang kesenjangan. Kemiskinan tak banyak berubah, sementara UMKM makin tertinggal. Data menunjukkan, distribusi aset seperti deposito dan tanah sangat timpang.
Fenomena inilah yang sejak lama dikritisi ekonom dunia seperti Joseph Stiglitz dan Amartya Sen. Mereka menawarkan model pertumbuhan inklusif: ekonomi yang tidak hanya tumbuh, tetapi juga merangkul kelompok dhuafa. Pemikiran ini sejalan dengan spirit ekonomi syariah atau religionomics yang menekankan keadilan.
Dari Pesawat ke Drone
Sejak lama, ilmu ekonomi terinspirasi fisika dan mekanika. Jika model IS-LM adalah pesawat jet dengan dua mesin, maka model inklusif lebih mirip drone. Drone digerakkan bukan oleh dua mesin besar, melainkan ribuan bahkan jutaan baling-baling kecil.
Itulah simbol UMKM. Geraknya tidak linear, tetapi menyapu melingkar, adaptif, dan tetap canggih. Didukung teknologi digital, ekonomi model drone ini bisa menjadi kenyataan: pertumbuhan sekaligus pemerataan. Inklusif, karena melibatkan jutaan pelaku kecil yang kini tak kalah gesit. Dan mereka, terutama Gen Z, lahir dalam dunia digital.
Ekonomi Drone ala Gen Z
Menkeu memberi contoh program MBG sebagai instrumen fiskal yang dikombinasikan dengan kredit murah Himbara. Tetapi kapasitas 3.000 pax per hari masih terlalu eksklusif. Bagaimana jika dipecah ke dalam 1 juta kafe milik Gen Z?
Bayangkan, dari 3.000 pax menjadi 200 pax per kafe. Makanan bisa lebih fresh, disajikan tepat waktu, dan memberdayakan kafe-kafe yang kini banyak terseok sejak pandemi Covid-19. Aplikasi digital dapat menghubungkan pemerintah dengan kafe Gen Z. Dengan begitu, bukan hanya satu dapur besar yang bekerja, melainkan jutaan “dapur kecil” yang hidup bersama.
Inilah Drone Economics. Pertumbuhan digerakkan oleh jutaan baling-baling UMKM, bukan hanya mesin besar negara. Lebih inklusif, lebih segar, dan lebih sesuai dengan pola hidup Gen Z.
Jangan Abaikan Drone Economics
Demonstrasi dan kemarahan Gen Z di berbagai negara, bahkan revolusi di Nepal, menunjukkan bahwa eksklusi ekonomi melahirkan kegelisahan sosial. Generasi yang kreatif dan digital native ini justru menunggu ruang untuk diberdayakan.
Karena itu, membangun dapur besar 3.000 pax bisa jadi justru ketinggalan zaman. Sementara jutaan kafe Gen Z megap-megap menunggu kesempatan. Drone Economics hadir sebagai tawaran: ekonomi tumbuh bersama, bukan meninggalkan.





0 Tanggapan
Empty Comments