Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Drum Band Pemuda Muhammadiyah: Irama Dakwah yang Kini Kian Sunyi

Iklan Landscape Smamda
Drum Band Pemuda Muhammadiyah: Irama Dakwah yang Kini Kian Sunyi
Drum Band Pemuda Muhammadiyah Surabaya 1 (Utara) dalam Muktamar Muhammadiyah ke 36 di Bandung (18/07/1965). Foto: Pribadi/PWMU.CO
pwmu.co -

Di balik semarak Muktamar Muhammadiyah ke-36 di Bandung pada Juli 1965, ada satu barisan yang tampil mencuri perhatian sejak langkah pertama memasuki arena: Drum Band Pemuda Muhammadiyah Tjabang Surabaja I (Utara). Dengan seragam rapi, formasi disiplin, dan irama yang menghentak, drum band ini dipercaya menjadi barisan terdepan saat memasuki gerbang Pekan Pameran Industri dan Niaga Muhammadiyah.

Penampilan tersebut bukan sekadar hiburan. Ia menjadi simbol kekuatan pemuda Muhammadiyah pada masanya—terdidik, terorganisasi, dan mampu menyampaikan dakwah melalui bahasa seni dan kedisiplinan. Momentum bersejarah itu bahkan disaksikan langsung oleh tokoh-tokoh nasional, di antaranya Menko Waperdam III Dr. Chairul Saleh dan Menko Kesejahteraan Masyarakat H. Moh. Muljadi Djojomartono, serta jajaran pimpinan Muhammadiyah Pusat.

Cikal bakal drum band ini bermula setahun sebelumnya, tepatnya pada pawai penutupan Muktamar Nasional Tabligh Muhammadiyah seluruh Indonesia di Surabaya, 22 November 1964. Saat itu, bagi masyarakat Surabaya, kehadiran drum band Pemuda Muhammadiyah menjadi pengalaman baru—bahkan menjadi perjumpaan pertama banyak warga dengan seni musik barisan. Tak lama berselang, drum band ini kembali tampil dalam peringatan Hari Lahir Pancasila pada Juni 1964, menandai kiprahnya di ruang publik nasional.

Langkah mereka terus meluas. Drum Band Pemuda Muhammadiyah tercatat tampil dalam Pawai Akbar Idul Fitri 7 Februari 1965, melawat hingga Denpasar (Bali), serta kembali mencatat sejarah dalam rangkaian Muktamar Muhammadiyah ke-36 di Bandung pada 18–24 Juli 1965, termasuk penampilan di Tjiparay. Semua itu menunjukkan bahwa dakwah Muhammadiyah kala itu tidak hanya hidup di mimbar dan pengajian, tetapi juga di jalanan, lapangan, dan ruang publik.

Namun, seiring perubahan zaman, denyut drum band di lingkungan Muhammadiyah—terutama di kalangan Pemuda Muhammadiyah—perlahan meredup. Jika pada era 1960-an drum band menjadi medium dakwah yang prestisius dan sarana kaderisasi yang membanggakan, kini keberadaannya semakin jarang ditemui. Tidak banyak lagi cabang atau ranting Pemuda Muhammadiyah yang memiliki atau mengelola drum band secara aktif.

Perubahan lanskap sosial menjadi salah satu sebabnya. Minat pemuda bergeser ke ruang-ruang baru: media digital, konten kreatif, komunitas isu, hingga gerakan berbasis teknologi. Drum band, yang menuntut latihan rutin, kekompakan tinggi, serta pembinaan jangka panjang, kerap dipandang kurang relevan di tengah budaya serba cepat dan instan.

Padahal, jika ditarik ke akar sejarahnya, drum band bukan sekadar seni musik barisan. Ia adalah sekolah karakter—tempat belajar disiplin, kepemimpinan, kerja kolektif, dan kesetiaan pada organisasi. Nilai-nilai itulah yang justru selalu dibutuhkan oleh Pemuda Muhammadiyah, kapan pun dan dalam bentuk apa pun.

Mungkin hari ini bukan soal menghidupkan kembali drum band dalam bentuk yang sama persis seperti masa lalu. Yang lebih penting adalah membaca ulang warisan itu: bagaimana semangat kolektif, keberanian tampil di ruang publik, dan kreativitas dakwah pemuda Muhammadiyah dapat diterjemahkan ke dalam irama zaman baru. Sebab, sejarah tidak selalu menuntut untuk diulang, tetapi untuk dimaknai dan dilanjutkan.

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu