Seoul sore itu dipenuhi hiruk-pikuk wisatawan yang datang silih berganti. Di tengah keramaian, sekelompok mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSurabaya) tampak berbaris rapi memasuki gerbang besar Istana Gyeongbok.
Mereka bukan sekadar pelancong yang hendak berfoto di bangunan ikonik berusia ratusan tahun itu. Kunjungan mereka, pada 30 Agustus 2025 lalu, adalah bagian dari Kuliah Kerja Nyata (KKN) Internasional yang membawa misi lebih dalam, yakni belajar bagaimana sebuah bangsa menjaga sejarah dan merawat memori kolektifnya.
Bagi sebagian mahasiswa, langkah pertama menapaki halaman istana terasa seperti masuk ke mesin waktu. Dari kejauhan, berdiri megah bangunan utama dengan atap melengkung khas arsitektur Dinasti Joseon.
Di balik keindahan itu, tersimpan kisah pilu tentang penjajahan, kebakaran, dan kehancuran. Gyeongbok yang dibangun pada 1395 sempat menjadi pusat pemerintahan Dinasti Joseon, sebelum akhirnya luluh lantak saat invasi Jepang tahun 1592.
Selama berabad-abad ia dibiarkan terbengkalai, bahkan sempat dipakai untuk kepentingan kolonial Jepang pada awal abad ke-20.
“Melihat langsung istana ini membuat saya teringat pada perjuangan bangsa kita,” ujar salah seorang mahasiswa dengan mata berbinar. “Indonesia dan Korea punya luka sejarah yang hampir sama, sama-sama dijajah Jepang, dan sama-sama berjuang untuk merdeka.”
Kebetulan, jarak antara peringatan kemerdekaan dua bangsa ini hanya berselisih dua hari. Korea Selatan merayakan Gwangbokjeol, Hari Pembebasan Nasional, setiap 15 Agustus.
Indonesia merayakan Hari Kemerdekaan pada 17 Agustus. Persamaan itu menambah keintiman pengalaman mahasiswa UM Surabaya saat berkeliling Gyeongbok.
Seakan-akan mereka sedang melihat cermin, bagaimana bangsa lain menuturkan luka, trauma, sekaligus kebanggaan dalam bingkai sejarah.
Bagi mahasiswa, kunjungan ini tidak berhenti pada kekaguman visual. Mereka belajar bagaimana pemugaran istana di tahun 1990-an menjadi simbol tekad bangsa Korea dalam merawat jati dirinya.
Gyeongbok bukan hanya monumen, tetapi bukti nyata bagaimana sejarah bisa dijaga, dipulihkan, lalu diwariskan kepada generasi mendatang.
“Kalau bangsa Korea bisa menjaga warisan sejarahnya dengan begitu serius, kita pun harus lebih peduli pada sejarah dan peninggalan nenek moyang kita,” komentar seorang mahasiswa lainnya. “Jangan sampai generasi muda melupakan akar budayanya.”
Refleksi semacam ini menjadi nilai tambah dari KKN Internasional. Mahasiswa tidak hanya belajar tentang budaya melalui buku atau kelas, tetapi mengalami langsung.
Merasakan atmosfir, mendengar cerita, dan menghubungkannya dengan identitas mereka sebagai anak bangsa Indonesia.
Di akhir kunjungan, beberapa mahasiswa memilih duduk di pelataran sambil menulis catatan kecil di buku harian mereka.
Mereka menuliskan betapa perjalanan ke Gyeongbok telah menumbuhkan rasa bangga sekaligus tanggung jawab.
Bangga karena menyadari bahwa bangsa Indonesia memiliki semangat juang yang tak kalah besar dari Korea.
Tanggung jawab karena mereka, sebagai generasi muda, harus terus melanjutkan perjuangan itu dalam bentuk yang relevan dengan zamannya.
Program KKN Internasional UMSurabaya memang dirancang untuk melahirkan pengalaman semacam ini.
Melalui interaksi lintas budaya, mahasiswa didorong untuk belajar langsung dari praktik bangsa lain, lalu merefleksikannya pada kehidupan di Tanah Air.
Kunjungan ke Gyeongbok menjadi salah satu bukti bahwa pendidikan bisa melampaui ruang kelas, menjangkau ruang-ruang sejarah, bahkan merasuk ke dalam batin generasi muda.
Kisah ini mengingatkan kita semua bahwa merdeka bukan hanya peristiwa sejarah yang diperingati setiap tahun. Merdeka adalah kesadaran kolektif yang terus diperbarui dengan menjaga jati diri, menghargai warisan, dan menyiapkan masa depan.
Dari halaman istana di Seoul, mahasiswa UM Surabaya pulang dengan pelajaran berharga. Bahwa cinta Tanah Air bisa tumbuh subur ketika kita belajar dari bangsa lain yang sama-sama pernah berjuang keluar dari belenggu penjajahan. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments