Waktu boleh singkat, tetapi makna yang ditinggalkan begitu dalam. Itulah kesan yang membekas dari Pelatihan Mubaligh Mahasiswa Muhammadiyah (PM3) yang digelar selama dua hari satu malam, Sabtu–Ahad (27-27/12/2025) di SMA Muhammadiyah 1 Babat.
Sejak awal kegiatan, suasana pelatihan terasa berbeda. Antusiasme para peserta begitu terasa bukan sekadar hadir secara fisik, tetapi terlibat penuh secara pikiran dan perasaan. PM3 bukan hanya ruang belajar, melainkan ruang bertumbuh. Di sanalah excitement, pengalaman, dan proses menempa diri berpadu menjadi kenangan yang sulit dilupakan.
Salah satu momen paling berkesan adalah sesi Focus Group Discussion (FGD). Forum ini menjadi wadah dialektika yang hidup. Para peserta aktif menyampaikan gagasan, menjawab dan menyanggah argumen, hingga belajar menjadi penengah dalam perbedaan pandangan. Diskusi tidak berhenti pada adu pendapat, tetapi berkembang menjadi proses saling memahami dan memperkaya perspektif dakwah.
Lima materi utama yang disajikan: dakwah lintas budaya, tarjih, ideologi Muhammadiyah, dakwah digital, dan manajemen dakwah kampus, menjadi fondasi penting dalam membentuk cara pandang mubaligh mahasiswa. Materi-materi tersebut membuka kesadaran bahwa perubahan zaman dan perkembangan teknologi bukanlah penghalang dakwah, melainkan sarana strategis untuk menyebarkan nilai-nilai Islam yang sesuai dengan syariat.
Bagi para dai muda, calon pendidik, dan mahasiswa, PM3 menegaskan satu pesan penting: dakwah harus adaptif tanpa kehilangan prinsip. Teknologi adalah alat, bukan ancaman. Media digital adalah wadah, bukan pengganti nilai. Di sanalah dakwah Muhammadiyah menemukan relevansinya—berpijak pada manhaj, tetapi responsif terhadap zaman.
Tak hanya soal wawasan, PM3 juga menyentuh aspek praksis ibadah. Para peserta mendapat kesempatan mempelajari tata cara shalat yang benar sesuai tuntunan Rasulullah SAW dan pedoman Muhammadiyah. Sebuah penguatan penting bahwa dakwah harus dimulai dari keteladanan, dari ibadah yang lurus dan pemahaman yang benar.
Bagi saya pribadi, PM3 bukan sekadar pelatihan, tetapi proses pemantapan diri. Harapan saya, ke depan PM3 terus menjadi wadah kaderisasi dakwah yang progresif—mengikuti perkembangan zaman, namun tetap teguh dalam koridor syariat Islam.
Saya, Masitho Rahmania, mengucapkan terima kasih atas pengalaman singkat namun begitu mengena ini. Sampai bertemu pada kesempatan selanjutnya. Sukses selalu untuk PM3, dan semangat untuk kita semua yang sedang berproses menuju dai yang berilmu, berakhlak, dan berkemajuan. (*)


0 Tanggapan
Empty Comments