Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Dua KTI Siswa SDMM Borong Juara 1 dan 2 Festival Faqih Usman

Iklan Landscape Smamda
Dua KTI Siswa SDMM Borong Juara 1 dan 2 Festival Faqih Usman
Dari kiri-kanan Naradi Purbawisesa dan Zhafran Almer (Juara 1) kemudian Khayla Quannika dan Davina Azqiara (Juara 2). Foto: Arif Wahyudi/PWMU.CO
pwmu.co -

Dua karya tulis ilmiah (KTI) siswa SD Muhammadiyah Manyar (SDMM) Gresik berhasil meraih Juara I dan II dalam ajang Festival Faqih Usman (FFU) ke-9 tingkat Kabupaten Gresik yang digelar Majelis Dikdasmen dan PNF Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Gresik, Sabtu (1/11/2025).

Karya berjudul Si Capit Uno menjadi Juara I, hasil kreasi Naradi Purbawisesa (kelas VI Labuan Bajo) dan Zhafran Almer Afarizqi (kelas VI Raja Ampat). Mereka memanfaatkan konsep robot arm (lengan robot) berbasis Arduino Uno dan Pictoblox sebagai bahasa pemrogramannya.

Randi, sapaan akrab Naradi, menjelaskan bahwa alat tersebut merupakan media pembelajaran coding dengan Pictoblox yang terhubung ke perangkat Arduino Uno untuk menggerakkan servo atau aktuator.

“Lengan robot ini memiliki penyapit yang bisa memindahkan objek dari satu tempat ke tempat lain. Biasanya digunakan di pabrik-pabrik otomotif,” jelasnya.

Ia menambahkan, Pictoblox memungkinkan siswa belajar coding robotika sekaligus.

“Biasanya kita belajar coding berbasis blok seperti Scratch yang tidak bisa disambungkan ke perangkat keras. Dengan Pictoblox, kini hal itu sangat memungkinkan,” tambahnya.

Zhafran turut mengembangkan ide dengan menambahkan sensor sentuh untuk menggerakkan lengan dan capit robot tersebut. Semua perintah tersusun dalam deretan coding yang terhubung ke Arduino sebagai microcontroller.

Sensor SEHATI Cegah Keracunan Makanan

Sementara itu, tim kedua yang beranggotakan Devina Azqiara Pramesti (kelas VI Raja Ampat) dan Khayla Quanikka Marlene (kelas VI Labuan Bajo) meraih Juara II lewat karya berjudul SEHATI, akronim dari Sensor Sehat Tepat Informasi.

Pembina KTI SEHATI, Ria Eka Lestari, S.Si., menjelaskan bahwa karya ini lahir dari kepedulian terhadap fenomena Makanan Bergizi Gratis (MBG) di sekolah yang kadang menimbulkan kasus keracunan.

“Program MBG sangat penting untuk tumbuh kembang siswa. Namun, ada kasus keracunan karena makanan basi atau tidak layak konsumsi akibat penyimpanan yang kurang tepat,” terangnya.

Ia menambahkan, keracunan makanan bisa terjadi karena kontaminasi bakteri, jamur, atau zat kimia berbahaya. Gejalanya seperti mual, muntah, dan diare yang dapat mengganggu kegiatan belajar-mengajar.

“Karena itu, diperlukan alat praktis dan cepat bagi guru atau petugas kantin untuk mendeteksi dini kelayakan makanan sebelum dibagikan kepada siswa,” ujarnya.

Melalui penelitian ini, tim SEHATI berupaya menciptakan alat IPA sederhana yang dapat mendeteksi tanda-tanda kerusakan makanan, sehingga dapat meningkatkan kewaspadaan dan menjamin keamanan pangan di sekolah.

 

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu