
PWMU.CO – Simposium Ortom Muhammadiyah berlanjut pada Jumat malam (4/7/2025) selepas Isya dalam suasana santai dan reflektif. Meski dihadiri oleh beberapa perwakilan ortom, kajian ini sarat makna—mengajak peserta menengok ulang arah perjuangan hidup.
Diskusi diawali dengan persoalan sehari-hari: bagaimana menghargai orang tua di tengah perbedaan pandangan. Salah satu peserta menyampaikan, “Terkadang, orang tua hanya ingin dihargai. Bukan selalu disetujui”.
Pada sesi keempat ini bertemakan “Dakwah sebagai Gerakan Kultural-dari Struktur ke Ruang Simbolik Populer” yang dipantik oleh Dr Ahmad Shobrun Jamil SSi MP
Refleksi ini membuka kesadaran bahwa kedewasaan tidak selalu harus dibuktikan lewat penolakan, tetapi lewat penghormatan.
Pertanyaan tentang kapan harus terus berjuang dan kapan merelakan pun mencuat. Jika langkah kita tak membawa manfaat atau justru mendatangkan mudarat bagi sekitar, bisa jadi saatnya mundur. Namun, selama perjuangan memberi perubahan, maka ia layak dilanjutkan.
Salah satu gagasan yang turut mewarnai forum adalah kritik terhadap jargon menyeimbangkan dunia dan akhirat. “Kenapa harus diseimbangkan, kalau orientasi kita seharusnya jelas, akhirat sebagai tujuan, dunia hanya fasilitas?,” ungkap salah satu peserta.

Ahmad Shobrun Jamil kemudian menyampaikan materi utama. Ia menyoroti bagaimana generasi hari ini dibentuk oleh dunia digital. Riset menunjukkan rata-rata screen time masyarakat Indonesia mencapai lebih dari 7 jam per hari, 77 persennya untuk hiburan.
“Tapi ironisnya, banyak yang tidak merasa terhibur. Ini gejala kekosongan makna,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa ledakan kesenangan instan melalui media sosial memicu lonjakan dopamine yang mengacaukan keseimbangan otak. “Anak muda jadi mudah cemas, sulit fokus, dan enggan berproses. Inilah tantangan dakwah kita hari ini,” ujar Shobrun Jamil.
Sebagai penutup, Ustadz Shobul merekomendasikan video pendek The Meaning of Life karya kreator Australia. Video berdurasi enam menit itu mengajukan pertanyaan mendalam: Apa yang sedang kita lakukan di dunia ini? Dan ke mana arah hidup kita?
Pertemuan kecil malam itu ditutup dengan tawa, namun menyisakan tanya. Tentang arah, tentang makna, dan tentang pilihan hidup yang tak bisa terus ditunda.(*)
Penulis Nyardianti Artika Devi Editor Zahrah Khairani Karim





0 Tanggapan
Empty Comments