Pemandangan berbeda terlihat di area Kantin Sakri SD Muhammadiyah 1 Krian (Sakri) pada Jumat pagi (30/1/2026). Puluhan siswi kelas 4 dan 5 berkumpul dengan penuh antusias untuk mengikuti kegiatan Keputrian.
Mengusung tema yang relevan dengan kesehatan masa kini, yakni “Jaga Imun dengan Minuman Sehat dari Kebun”, para siswi diajak untuk mengenal kembali kekayaan rempah nusantara melalui praktik pembuatan jamu kunyit.
Kegiatan ini menghadirkan narasumber yang merupakan ahli di bidangnya sekaligus anggota aktif Komite Sakri, Resti Asmarani. Dalam sesi tersebut, Resti membimbing langsung para siswi dalam praktik pembuatan jamu, mulai dari pemilihan rimpang kunyit yang berkualitas hingga proses pengolahan yang benar.
Mengubah Paradigma Gen Z terhadap Jamu
Sebagai narasumber, Resti Asmarani menekankan pentingnya memperkenalkan minuman tradisional kepada generasi muda dengan cara yang menyenangkan. Beliau ingin mematahkan stigma bahwa jamu adalah minuman yang pahit atau kuno.
”Tujuan utama kami adalah memberikan pengetahuan, pelajaran, dan pengalaman baru untuk anak-anak sholihah ini agar mereka tahu bahwa jamu itu tidak semenyeramkan yang mereka bayangkan. Kita ingin mengubah paradigma anak-anak Gen Z tentang minuman tradisional,” ungkap Resti penuh semangat.
Menurutnya, di tengah kepungan tren minuman kekinian yang tinggi gula, anak-anak perlu kembali melirik kekayaan alam.
“Jamu kunyit memiliki banyak sekali manfaat bagi tubuh, khususnya bagi perempuan. Kami mengajarkan cara membuat minuman herbal yang kaya manfaat tapi dengan bahan yang sangat mudah didapat di sekitar kita. Harapannya, mereka tidak hanya mengenal dan mengonsumsi minuman kekinian saja, tapi juga mulai mengenal dan merasakan manfaat nyata dari minuman herbal,” tambahnya.
Apresiasi dan Harapan Sekolah
Nurul Hidayati, selaku Ketua Pelaksana kegiatan Keputrian, memberikan apresiasi yang tinggi atas kolaborasi ini. Beliau menekankan bahwa kegiatan ini adalah upaya sekolah untuk membentuk karakter siswi yang peduli pada kesehatan dan mencintai budaya lokal.
”Kami ingin menanamkan kesadaran sejak dini bahwa alam kita menyediakan segalanya untuk kesehatan. Di tengah gempuran minuman modern, jamu adalah alternatif yang murah dan menyehatkan,” ujar Nurul Hidayati.
Ia pun menaruh harapan besar agar keterampilan ini terus dibawa hingga ke lingkungan keluarga.
“Harapan saya, setelah kegiatan ini, anak-anak tidak lagi asing dengan empon-empon. Semoga mereka bisa mempraktikkannya di rumah bersama orang tua, sehingga kebiasaan minum jamu ini kembali menjadi gaya hidup. Dengan imun yang kuat dari bahan alami, prestasi belajar pun tentu akan lebih optimal,” pungkasnya.
Acara yang berlangsung hingga menjelang siang tersebut ditutup dengan sesi tanya jawab yang dinamis dan sesi foto bersama. Para siswi pulang tidak hanya membawa ilmu, tetapi juga membawa perspektif baru bahwa sehat bisa dimulai dari segelas jamu hasil racikan sendiri. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments