
PWMU.CO – Revolusi digital telah menjadi denyut jantung kehidupan abad 21. Teknologi informasi bukan lagi sekadar alat bantu, melainkan ruang hidup baru yang semua aspek kehidupan manusia saling bersinergi. Pendidikan, sebagai fondasi peradaban, tidak bisa tinggal diam dalam pusaran ini. Ia harus melakukan adaptasi radikal.
Berangkat dari persoalan ini, lahirlah sebuah gagasan yang bernama Edu TechnoNesia—konsep strategis untuk menata ulang sistem pendidikan Indonesia berbasis sains melalui digitalisasi. Ini bukan sekadar jargon futuristik, tapi langkah konkret untuk menjawab tantangan zaman dan menyiapkan generasi unggul menuju Indonesia Emas 2045.
Pendidikan Indonesia masih menghadapi berbagai problematika klasik, mulai dari ketimpangan akses, kualitas pembelajaran yang timpang, hingga minimnya integrasi antara teori dan praktek sains. Menurut laporan World Bank (2023), skor literasi sains siswa Indonesia masih di bawah rata-rata negara ASEAN.
Ini menjadi indikasi bahwa pendidikan kita belum sepenuhnya menyentuh esensi kompetensi abad 21, khususnya dalam sains dan teknologi. Global Education Monitoring Report UNESCO (2022) bahkan menyebutkan bahwa hanya terdapat 17% sekolah menengah di Indonesia yang mampu mengakses pembelajaran sains berbasis digital secara konsisten.
Digitalisasi pendidikan tidak hanya menghadirkan gawai atau jaringan internet di sekolah. Edu TechnoNesia memaknai digitalisasi sebagai transformasi cara berpikir, cara belajar, dan cara mengelola informasi berbasis sains dan teknologi. Konsep ini lahir dari kebutuhan mendesak untuk menggabungkan sains sebagai basis epistemologi dan digitalisasi sebagai medium pedagogi.
Di sinilah peran penting teknologi dalam menghadirkan pengalaman belajar yang kontekstual, kolaboratif, dan berbasis data. Penerapan simulasi laboratorium virtual, AI dalam pembelajaran adaptif, hingga integrasi Internet of Things (IoT) dalam proyek sains menjadi hal yang tak terelakkan.
Sebagai jalan tengah
Meski demikian, transformasi ini tak bisa berjalan tanpa humanisasi. Pendidikan bukan hanya soal efisiensi teknologi, tapi juga penguatan nilai, karakter, dan kemanusiaan. Edu TechnoNesia menekankan pentingnya pembelajaran holistik: menggabungkan kemampuan sains, literasi digital, dan etika dalam satu kesatuan. Peran guru sebagai fasilitator pembelajaran dan penjaga nilai kemanusiaan menjadi sangat penting. Tidak mungkin peran guru diganti dengan mesin. Sebaliknya, guru dapat memperoleh penguatan dari mesin agar mampu menciptakan ruang belajar yang lebih bermakna.
Dalam konteks kebijakan, Indonesia perlu mendorong harmonisasi antara kurikulum Merdeka Belajar dengan digitalisasi sains secara komprehensif. Belajar tak lagi melulu di kelas, tetapi di laboratorium maya, forum diskusi daring, dan proyek berbasis riset kolaboratif antarwilayah. Pemerintah juga perlu mengembangkan ekosistem edutech nasional agar dapat mengikuti arus global dan mampu menyesuaikan dengan kebutuhan lokal dan karakter bangsa.
Edu TechnoNesia hadir sebagai jalan tengah antara globalisasi teknologi dan lokalitas budaya pendidikan Indonesia. Data dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (2024) menunjukkan bahwa program digitalisasi sekolah telah menjangkau 83.217 sekolah, meski hanya 34% di antaranya yang memanfaatkan teknologi untuk pembelajaran sains secara maksimal. Artinya, infrastruktur belum menjamin terjadinya inovasi pendidikan. Dibutuhkan pendekatan berbasis desain pembelajaran yang adaptif, kolaboratif, dan eksploratif.
Muhammadiyah dan Edu TechnoNesia
Muhammadiyah, sebagai gerakan Islam berkemajuan dan pelopor pendidikan, telah mengambil langkah strategis untuk memperkuat literasi digital di kalangan pelajar dan tenaga pendidik. Melalui majelisnya, —yaitu Majelis Dikdasmen dan Majelis Pustaka dan Informasi Digital— Muhammadiyah aktif menyelenggarakan pelatihan teknologi pembelajaran, pendampingan platform digital sekolah, dan penguatan budaya digital yang beretika. Gerakan Cyber Dakwah, Muhammadiyah Education Conference, dan Digital Literacy Muhammadiyah menjadi contoh konkret organisasi dalam menjawab tantangan EduTech. Hal ini membuktikan bahwa Edu TechnoNesia dan nilai-nilai Islam berkemajuan saling menguatkan dalam membentuk generasi emas 2045.
Edu TechnoNesia juga menempatkan siswa sebagai subjek aktif dalam pembelajaran. Dengan dukungan teknologi, mereka bukan hanya menghafal konsep sains, tetapi juga mengkonstruksi pengetahuan melalui eksperimen digital, diskusi global, dan problem solving nyata. Literasi data, keterampilan STEM (Science, Technology, Engineering, Mathematics), dan kemampuan berpikir kritis menjadi kompetensi inti.
Transformasi digital juga harus menyasar seluruh ekosistem pendidikan: dari guru, kepala sekolah, hingga orang tua. Bila perlu ada pelatihan digital literacy bagi guru dan pemangku kepentingan, serta penguatan budaya inovasi di satuan pendidikan. Pendidikan tak bisa lagi berjalan dalam sekat-sekat lama; ia harus menjadi sistem terbuka yang responsif terhadap perubahan. Muhammadiyah telah memulai ini lewat gerakan digitalisasi madrasah dan open access journal untuk memperluas akses terhadap sumber belajar ilmiah.
Menuju 2045, Indonesia juga menghadapi tantangan yang berupa bonus demografi dan kompetisi global. Edu TechnoNesia menjadi jawaban atas kebutuhan strategi pendidikan jangka panjang yang inklusif dan progresif. Ia mengajak semua pihak untuk tidak lagi melihat teknologi sebagai ancaman, tetapi sebagai mitra strategis dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.
Menata ulang pendidikan berbasis sains melalui digitalisasi bukanlah proyek instan. Ia memerlukan visi, komitmen, dan keberanian melampaui zona nyaman. Edu TechnoNesia menjadi mimpi kolektif yang bisa berubah menjadi nyata jika semua elemen bangsa bersinergi. Pemerintah sebagai pengarah kebijakan, guru sebagai agen perubahan, siswa sebagai pusat inovasi, dan masyarakat sebagai pendukung ekosistem belajar. Dengan ini, Indonesia bukan hanya mengejar ketertinggalan, tapi juga siap memimpin peradaban global berbasis ilmu dan nilai—bersama Muhammadiyah, sebagai pelopor literasi digital dan pendidikan berkemajuan.***
Editor Notonegoro






0 Tanggapan
Empty Comments