
PWMU.CO – Siapa sangka, eksperimen sederhana mendestilasi kulit jeruk di ruang riset SMA Muhammadiyah 8 (SMAM 8) Cerme, Gresik, berhasil mengharumkan nama sekolah hingga ke tingkat nasional.
Parfum buatan para siswa yang diberi merek Eight-Blue kini telah resmi mendapatkan sertifikat Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia (Kemenkumham).
Sertifikat bernomor IDM001241016 ini memberikan perlindungan hak merek kepada SMAM 8 Cerme selama 10 tahun, terhitung sejak Rabu (17/1/2024) hingga Selasa (17/1/2034) mendatang.
Pembina Kelas Riset SMAM 8 Cerme, Diana Ekowati SSi, menjelaskan bahwa Eight-Blue lahir dari hasil penelitian para siswa sejak tahun 2022.
“Awalnya, anak-anak hanya mencoba mendestilasi kulit jeruk. Hasilnya kemudian mereka gunakan sebagai bahan dasar parfum yang dijual di kalangan internal,” ujarnya saat ditemui oleh kontributor PWMU.CO pada Sabtu (24/5/2025).
Sampai saat ini, Eight-Blue telah berkembang dengan tujuh varian aroma, yaitu Citrus, Baccarat, Coffee, Vanilla Rose, Baby, Popcorn, dan Bubblegum.
Diana juga menyebut bahwa penjualan parfum dilakukan melalui sistem Pre-Order (PO), dengan rata-rata penjualan sebanyak 20 botol per varian setiap bulan. Pemesanan dapat dilakukan melalui WhatsApp resmi atau melalui TikTok Shop di akun @m8officialshop.

Menariknya, proyek ini telah berjalan lintas generasi. Generasi pertama pengembang Eight-Blue antara lain Dian Saputri, Naurah, dan Tyara Gadiz. Kini, pengembangan diteruskan oleh generasi ketiga, yaitu Rada Dewi Sinta, Monica, Shirly, dan Fitri.
Mereka tidak hanya fokus pada bidang riset, tetapi juga terlibat dalam pengembangan desain kemasan bersama siswa ekstrakurikuler Desain Komunikasi Visual (DKV).
Perjalanan yang Tidak Selalu Berjalan Mulus
“Anak-anak pernah mengalami berbagai kendala, mulai dari aroma parfum yang kurang tahan lama, kemasan yang bocor, hingga strategi pemasaran yang kurang efektif,” ungkap Bu Diana.
Namun, menurutnya, setiap kegagalan adalah kesempatan untuk belajar.
“Siswa diajak menganalisis penyebab masalah, mencari alternatif solusi, dan memperbaiki langkah-langkah selanjutnya. Prinsip utamanya adalah berani mencoba, berani gagal, dan terus memperbaiki diri,” tambahnya.
Sementara itu, salah satu siswa dari generasi pertama, Tyara, mengungkapkan rasa bangganya.
“Kami sangat bangga karena parfum Eight-Blue akhirnya mendapatkan sertifikat resmi. Rasanya seperti mimpi, mengingat awalnya ini hanyalah proyek kecil di kelas riset,” tuturnya dengan antusias.
Mimpi Memperluas Pasar
Dengan adanya perlindungan merek resmi, Eight-Blue kini memiliki peluang lebih besar untuk memperluas jangkauan pasar.
Tak hanya parfum, siswa kelas riset juga sedang mengembangkan merek Atheera untuk produk lilin aromaterapi dan Arum untuk sabun handmade. Kedua merek ini pun direncanakan akan didaftarkan hak patennya.
Langkah ini sejalan dengan semangat Muhammadiyah dalam melahirkan kader-kader yang kreatif, inovatif, dan mandiri.
“Saya bangga melihat anak-anak berani mengeksplorasi potensi mereka. Ini membuktikan bahwa riset di sekolah bukan sekadar teori, tetapi benar-benar bisa memberikan dampak nyata,” tegas Diana.
Ke depan, bukan tidak mungkin produk buatan siswa Muhammadiyah lainnya juga dapat bersaing di pasar nasional, bahkan menembus pasar internasional.
Harapannya, semakin banyak sekolah Muhammadiyah yang terinspirasi untuk mengembangkan riset kreatif dan menjadikannya bagian dari gerakan dakwah yang berkemajuan. (*)
Penulis Liset Ayuni Editor Ni’matul Faizah






0 Tanggapan
Empty Comments