Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Eko Prasetyo di Simposium Ortom Muhammadiyah: Kembali ke Akar Gerakan

Iklan Landscape Smamda
Eko Prasetyo di Simposium Ortom Muhammadiyah: Kembali ke Akar Gerakan
pwmu.co -
Simposium Berseri Ortom Muhammadiyah Kota Malang sesi ketiga. (Idan/PWMU.CO)

PWMU.CO – Simposium Berseri Ortom Muhammadiyah Kota Malang kembali hadir dalam sesi ketiga, Jumat malam (27/6/2025), di Gedung Dakwah Muhammadiyah Kota Malang. Menghadirkan Direktur Social Movement Institute, Eko Prasetyo. Forum ini membuka ruang refleksi tentang arah gerakan Islam hari ini.

Sebelum masuk ke topik utama, Eko membuka dengan cerita tentang para guru dan tokoh Muhammadiyah yang ia temui semasa aktif di Yogyakarta.

Ia menyebutkan nama-nama besar seperti Djazman Al-Kindi, yang ia kagumi karena kesetiaannya terhadap proses kaderisasi. “Beliau-beliau inilah yang berjasa besar membentuk watak gerakan,” kenangnya.

Dalam diskusi kali ini, suasana terasa hidup. Banyak tawa terdengar dari peserta, namun tetap khidmat mendengarkan setiap penuturan dan pemikiran yang disampaikan. Forum ini menjadi ruang bertanya dan bertumbuh bersama.

Eko menyampaikan bahwa banyak aktivis yang dulunya penuh semangat idealis justru “wassalam” setelah masuk ke dunia politik. Ia mengingatkan pentingnya pendidikan nilai sejak dini. “Bangunlah pengajaran sejak kecil agar kebaikan menjadi kebiasaan,” tuturnya.

Ia juga menyoroti potensi oligarki dalam tubuh gerakan. Muhammadiyah, menurutnya, memiliki nilai-nilai besar, namun tantangannya adalah bagaimana nilai itu benar-benar dihayati dan dijalani oleh seluruh kader.

“Kita harus berhati-hati. Jangan sampai merasa paling Muhammadiyah, tapi justru kehilangan arah,” ujarnya.

Direktur Social Movement Institute, Eko Prasetyo. (Riyadh Rasydan Ramadhan/PWMU.CO)

Eko Prasetyo mengajak para kader untuk menempatkan al-Quran sebagai cara pandang yang hidup dalam gerakan. Mengutip Muhammad Iqbal, ia mengatakan, “Jika kau membaca Quran, bacalah seakan-akan Quran itu turun kepadamu”. Menurutnya, agama tidak boleh berhenti sebagai prasasti. Ia harus menjadi kekuatan perubahan.

Dalam sesi diskusi, salah satu peserta menyampaikan kegalauan atas turunnya budaya baca di kalangan kader muda. “Dulu buku dibaca sampai habis, sekarang hanya dicuplik. Kita kehilangan susah payah,” ungkapnya. Hal ini mengarah pada diskusi soal lemahnya iklim intelektual dan minimnya ruang berpikir mendalam.

Sebagai respon atas kegelisahan tersebut, muncul pula gagasan tentang metode tahfidz tematik—menghafal sekaligus memahami al-Quran berdasarkan tema.

Metode ini dinilai lebih membumi dan relevan, karena mengarahkan hafalan bukan sekadar sebagai simbol, tetapi sebagai sumber nilai dan arah gerakan.

Menjelang penutupan, Eko menyampaikan pentingnya membangun relasi yang kuat dalam gerakan. Ia mengangkat analogi relasi orang tua dan anak yang kian renggang di zaman ini.

“Orang tua bekerja seumur hidup, tapi menemani anak hanya sekali. Kedekatan emosional hilang. Ini juga terjadi dalam hubungan pimpinan dan kader,” ungkapnya.

Ia mengajak peserta untuk menghidupkan budaya jamaah—bukan hanya menjalankan struktur organisasi, tetapi menciptakan kehangatan dan keteladanan dalam setiap langkah gerakan.

Simposium ketiga ini kembali menegaskan bahwa Ortom Muhammadiyah bukan hanya wadah teknis atau administratif, tetapi ruang berpikir yang hidup. Di dalamnya, semangat untuk terus bergerak, bertanya, dan membenahi diri terasa nyata.(*)

Penulis Nyardianti Artika Devi Editor Zahrah Khairani Karim

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu