Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Ekonomi Muhammadiyah dalam Era Society 5.0

Iklan Landscape Smamda
Ekonomi Muhammadiyah dalam Era Society 5.0
Oleh : Yanuar Vip Bagas K Ketum Korkom IMM Universitas Muhammadiyah Ponorogo
pwmu.co -

Perkembangan zaman era Society 5.0 membawa dampak besar di berbagai bidang kehidupan, termasuk sektor ekonomi.

Pada era ini, orientasi ekonomi tidak lagi semata-mata berfokus pada efisiensi dan keuntungan. Namun juga pada kesejahteraan serta keberlanjutan hidup manusia.

Society 5.0 menuntut adanya keseimbangan antara kemajuan teknologi dan nilai-nilai kemanusiaan.

Teknologi, terutama kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) telah menjadi mitra kolaborasi dalam menciptakan inovasi dan produk-produk ekonomi baru.

Kondisi ini menuntut para pelaku ekonomi untuk terus beradaptasi, berinovasi, dan mengikuti tren agar usaha mereka mampu bertahan dan berkembang.

Dalam konteks ini, Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah Islam yang memiliki jaringan luas di berbagai sektor kehidupan, turut memberikan kontribusi nyata di bidang ekonomi.

Melalui berbagai amal usahanya—seperti Lembaga Amil Zakat Infaq dan Sedekah Muhammadiyah (Lazismu), rumah sakit, lembaga keuangan syariah, hingga unit usaha ritel—Muhammadiyah berupaya menjadikan aktivitas ekonominya sebagai bagian dari dakwah dan amal sosial.

Namun, agar kontribusi tersebut tetap relevan dan berdaya guna, Muhammadiyah juga perlu beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Transformasi digital, inovasi berbasis teknologi, serta penerapan prinsip ekonomi berkelanjutan menjadi langkah strategis yang harus diambil untuk menghadapi tantangan era Society 5.0.

Dengan semangat dakwah dan pembaharuan yang telah mengakar sejak awal berdirinya, Muhammadiyah diharapkan mampu terus berperan aktif dalam membangun ekonomi umat yang maju, mandiri, dan berkeadilan, tanpa meninggalkan nilai-nilai kemanusiaan dan keislaman yang menjadi landasan gerakannya.

Dalam konteks ini, transformasi dan penyesuaian tentu harus dilakukan agar Muhammadiyah tidak tertinggal oleh perkembangan zaman.

Namun demikian, Muhammadiyah juga tidak boleh sembarangan dalam menentukan arah gerak perekonomiannya.

Sebagai gerakan dakwah Islam yang berorientasi pada terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya, Muhammadiyah harus senantiasa mengedepankan nilai-nilai agama dalam setiap aktivitas dan kebijakan ekonominya.

Bagi Muhammadiyah, ekonomi bukan sekadar urusan duniawi atau pencapaian keuntungan material, tetapi juga merupakan bagian dari ibadah serta wujud nyata penerapan nilai-nilai keadilan sosial sesuai ajaran Islam.

Karena itu, setiap langkah dalam bidang ekonomi harus berlandaskan prinsip-prinsip syariah, kejujuran, keadilan, dan kemaslahatan umat.

Nilai-nilai keagamaan tersebut tidak terpisahkan dari semangat tajdid (pembaruan) yang menjadi akar gerakan Muhammadiyah sejak awal berdirinya.

Tajdid tidak hanya bermakna pembaruan dalam bidang keagamaan dan pemikiran, tetapi juga mencakup pembaruan dalam tata kelola sosial dan ekonomi umat.

Melalui semangat tajdid, Muhammadiyah berupaya mengintegrasikan ajaran Islam dengan tuntutan modernitas. Aktivitas ekonomi yang dijalankan tidak hanya rasional dan efisien, tetapi juga bernilai etik dan spiritual.

Dengan penerapan nilai-nilai intelektual profetik, Muhammadiyah mampu menjaga arah geraknya agar tidak terjebak dalam arus kapitalisme yang individualistis maupun sosialisme yang materialistis.

Nilai intelektual profetik menekankan pentingnya keseimbangan antara aspek rasional, moral, dan transendental dalam pengelolaan ekonomi.

Dengan cara ini, Muhammadiyah tidak hanya berperan sebagai pelaku ekonomi, tetapi juga sebagai pembaharu sosial yang menegakkan keadilan, memberdayakan umat, dan menciptakan kesejahteraan yang berkeadaban.

Dengan demikian, gerak ekonomi Muhammadiyah harus senantiasa berlandaskan nilai dakwah dan tajdid, agar setiap aktivitas ekonominya tidak hanya membawa manfaat finansial, tetapi juga memperkuat misi kemanusiaan dan keislaman.

Melalui sinergi antara intelektualitas, spiritualitas, dan gerakan sosial, Muhammadiyah dapat menjadi teladan dalam membangun sistem ekonomi Islam yang berkeadilan dan berkemajuan.

Dalam ranah tajdid inilah, Muhammadiyah dapat menjaga arah geraknya di bidang ekonomi melalui penerapan nilai-nilai intelektual profetik.

Hal ini dapat terjadi karena pada dasarnya, ekonomi di era Society 5.0 yang mengedepankan kesejahteraan dan keberlanjutan manusia sejatinya sejalan dengan tiga pilar utama dalam intelektual profetik, yaitu humanisasi, liberasi, dan transendensi.

Nilai-nilai di antara keduanya dapat diintegrasikan dalam beberapa bentuk berikut:

Pertama, humanisasi bermakna memanusiakan manusia dengan menempatkan sumber daya manusia sebagai pusat pembangunan ekonomi.

Muhammadiyah dapat memanfaatkan keberadaan perguruan tinggi dan lembaga pendidikan di bawah naungannya sebagai wadah strategis untuk mencetak kader-kader yang berkompeten, berintegritas, dan mampu berkolaborasi dengan kemajuan teknologi.

Dengan demikian, perguruan tinggi Muhammadiyah berperan tidak hanya sebagai institusi akademik, tetapi juga sebagai pusat inovasi dan pengembangan ekonomi umat berbasis ilmu pengetahuan dan nilai-nilai keislaman.

Kedua, liberasi bermakna pembebasan umat dari belenggu kemiskinan, ketertinggalan, dan ketidakadilan ekonomi.

Salah satu bentuk konkretnya adalah pengelolaan dana zakat, infak, dan sedekah melalui sistem digital atau platform aplikasi.

Pemanfaatan teknologi ini tidak hanya mempermudah akses dan meningkatkan transparansi, tetapi juga mempercepat penyaluran bantuan kepada masyarakat yang membutuhkan.

Langkah ini sejalan dengan semangat dakwah Muhammadiyah dalam mewujudkan keadilan sosial dan pemberdayaan ekonomi umat.

Ketiga, transendensi merupakan orientasi spiritual yang menempatkan seluruh aktivitas ekonomi sebagai bagian dari ibadah dan upaya mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Melalui nilai ini, Muhammadiyah berusaha membangun sistem ekonomi yang tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan material, tetapi juga pada keberkahan dan keberlanjutan.

Transendensi menjadi puncak dari cita-cita ekonomi Islam berkemajuan yang memadukan aspek moral, sosial, dan spiritual dalam satu kesatuan yang utuh.

Meskipun sistem tersebut telah terstruktur dengan baik, pengawasan tetap diperlukan dalam proses pelaksanaannya.

Oleh karena itu, sudah sepatutnya Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) sebagai bagian dari Ortom Muhammadiyah turut berperan aktif dalam mengawal setiap langkah gerakan ekonomi yang dijalankan oleh Muhammadiyah.

Kita tidak boleh hanya menjadi penonton terhadap berbagai manuver yang dilakukan Muhammadiyah. Kita harus berkontribusi secara langsung—baik melalui kritik konstruktif terhadap potensi penyimpangan, maupun dengan berpartisipasi aktif dalam bidang-bidang yang dapat diisi oleh kader IMM.

Dengan potensi besar yang dimiliki para kadernya, IMM dapat memberikan kontribusi nyata dalam bidang perekonomian. Apalagi sebagian besar anggotanya merupakan generasi muda yang akrab dengan perkembangan teknologi.

Hal ini selaras dengan sistem kepemimpinan Muhammadiyah yang bersifat kolektif-kolegial.

Namun, karena kepemimpinan di IMM juga bersifat kolektif-kolegial, keterlibatan dalam mengawal pergerakan ekonomi Muhammadiyah harus dilakukan secara terarah dan terkoordinasi.

Oleh sebab itu, Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (DPP IMM) memiliki peran penting dalam memastikan jalannya gerakan ekonomi Muhammadiyah.

Peran tersebut dapat dijalankan melalui forum-forum resmi Muhammadiyah, seperti Tanwir dan rapat umum, maupun dengan melakukan audiensi langsung bersama pimpinan Muhammadiyah.

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu