Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Emas Mahal? Ini Alasan Tetap Harus Nabung Emas dari Sekarang!

Iklan Landscape Smamda
pwmu.co -
Oleh M Ainul Yaqin Ahsan, MPd – Anggota MTT PDM Lamongan

PWMU.CO – Ketika kondisi ekonomi, baik nasional maupun global, berada dalam ketidakpastian, keputusan finansial pribadi seperti “apakah sebaiknya menabung emas sekarang atau menunggu nilai tukar rupiah membaik” menjadi semakin kompleks. Dari pembahasan panjang mengenai kondisi fiskal Indonesia, kebijakan proteksionisme Amerika Serikat, hingga dampaknya terhadap pasar global, terlihat bahwa permasalahan ini tidak sekadar menyangkut angka nilai tukar. Lebih dari itu, hal ini mencerminkan kerentanan struktur ekonomi kita sendiri serta turbulensi geopolitik yang mengancam stabilitas finansial global.

Krisis global yang menggema

Kebijakan Donald Trump “Make America Great Again” melalui perang tarif dan nasionalisme ekonomi pada akhirnya membalikkan arah globalisasi yang sudah bertahun-tahun berjalan. Dengan menaikkan tarif impor dan memaksa konsumsi produk domestik, Trump berharap memacu manufaktur Amerika dan memperkecil defisit perdagangan. Namun, ia mengabaikan realitas fundamental bahwa biaya produksi di Amerika jauh lebih mahal daripada di negara lain seperti Tiongkok, India, maupun Indonesia.

Prediksi dari lembaga keuangan ternama seperti JP Morgan dan Goldman Sachs mengindikasikan kemungkinan besar bahwa kebijakan ini justru mempercepat krisis internal Amerika. Sebagai efek domino, negara-negara mitra dagang seperti Kanada, Meksiko, hingga negara-negara BRICS (Brasil, Rusia, India, Cina, dan Afrika Selatan) semakin menguatkan kerja sama non-Amerika. Dalam dunia yang semakin multipolar, dominasi ekonomi Amerika tidak lagi absolut.

Dampaknya terhadap Indonesia sangat terasa. Permintaan ekspor ke Amerika berkurang karena tarif yang tinggi. Akibatnya, menyebabkan berkurangnya produksi, potensi PHK massal, dan pelemahan pertumbuhan ekonomi.

Di Indonesia,persoalannya tidak sekedar karena efek global. Indonesia mengalami akumulasi masalah dalam negeri yang telah berlangsung lama, diantaranya faktor: birokrasi yang lamban, korupsi dalam proses perizinan, penegakan hukum yang lemah serta infrastruktur yang belum merata. Indonesia memang demokratis, tapi seperti kritik Jeffrey Winters, “rule of law” kita kalah oleh kekuatan politik.

Bahkan dalam indeks kemudahan berbisnis, Indonesia masih tertinggal dari Vietnam, negara yang baru pulih dari perang berkepanjangan. Fakta ini tentu menjadi sebuah ironi yang menyakitkan.

Dengan lemahnya legalitas, sulitnya perizinan dan biaya tinggi membuka usaha, investasi di Indonesia menjadi kurang menarik. Bahkan para investor justru lebih memilih untuk berinvestasi di negeri tetangga.

Simpan emas atau menunggu rupiah menguat?

Di tengah gejolak global, nilai tukar rupiah kembali menembus rekor terendah dalam sejarah. Melemahnya kepercayaan terhadap perekonomian domestik mendorong investor asing menarik modalnya, yang pada akhirnya memperbesar tekanan terhadap rupiah.

Jika mempertimbangkan seluruh faktor tersebut, jelas bahwa tingkat ketidakpastian ke depan masih sangat tinggi. Menunda investasi emas sambil menunggu penguatan rupiah justru merupakan langkah yang berisiko. Sejarah membuktikan bahwa dalam situasi krisis global, emas seringkali berperan sebagai “safe haven” atau penyelamat nilai kekayaan.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Pada masa pemerintahan Presiden Habibie, nilai rupiah sempat anjlok hingga Rp16.500 per dolar AS, sebelum akhirnya berhasil dipulihkan menjadi sekitar Rp6.500. Namun perlu diingat, konteks saat itu berbeda: dunia tengah mengalami fase globalisasi yang positif dan beban fiskal Indonesia belum seberat saat ini. Saat ini, kondisi fiskal jauh lebih rapuh—bahkan pembayaran bunga utang pun mengandalkan utang baru. Oleh karena itu, skenario pemulihan cepat seperti era Habibie tampak semakin tidak realistis.

Dengan mempertimbangkan kondisi geopolitik global yang semakin mengarah pada “deglobalisasi” serta kerentanan dalam negeri, menunggu rupiah melemah lebih jauh untuk mulai berinvestasi emas justru bisa menjadi bentuk spekulasi yang berbahaya. Sebaliknya, langkah yang lebih bijak adalah mulai menyimpan emas sejak sekarang—secara perlahan namun konsisten—sebagai bentuk perlindungan nilai jangka panjang.

Menimbang risiko dan peluang

Menabung emas memang bukan jawaban tunggal. Diversifikasi aset juga penting, seperti tetap mempertahankan simpanan tunai, investasi di sektor riil, atau bahkan mulai berinvestasi dalam bentuk produktif seperti usaha kecil atau bisnis berbasis komunitas. Yang perlu dihindari adalah menyimpan seluruh kekayaan dalam bentuk rupiah yang terus tergerus inflasi dan depresiasi.

Di balik krisis, selalu ada peluang. Jika Indonesia mampu membenahi birokrasi, mempercepat reformasi hukum, dan membangun infrastruktur yang merata, kita berpotensi menjadi kekuatan baru di tengah pergeseran pusat ekonomi global dari Barat ke Asia.

Namun, semua itu membutuhkan waktu. Untuk saat ini, langkah paling bijak bagi individu adalah melindungi kondisi finansial pribadi, sembari terus mendorong perubahan di tingkat nasional.

Dalam dunia yang penuh ketidakpastian, menunda keputusan bisa sama buruknya dengan membuat keputusan yang keliru. Saat negara masih berjuang memperbaiki struktur dasarnya, dan dunia memasuki babak baru rivalitas ekonomi, setiap individu perlu bersikap lebih cerdas dalam menjaga nilai kekayaannya.

Menabung emas hari ini merupakan salah satu cara untuk bertahan di tengah badai. Menunggu nilai tukar rupiah membaik, khawatirnya justru yang datang adalah gelombang yang justru lebih besar lagi.

Editor Notonegoro

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu