Menjadi bagian dari Muhammadiyah bukan sekadar pilihan, melainkan merupakan panggilan hidup. Hal tersebut disampaikan oleh Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Purbalingga, KH. Suparna dalam Pengajian Ahad Pagi PDM Purbalingga yang digelar di Masjid Jami’ Nurul Huda, Desa Pengalusan pada Ahad (5/10/2025).
Dalam tausiyahnya, Ustaz Suparna menjelaskan bahwa hakikat Bermuhammadiyah setidaknya mencakup empat hal. Pertama, Bermuhammadiyah merupakan panggilan hidup yang berkaitan erat dengan ibadah, tugas kekhalifahan, dan upaya meraih rida Allah SWT.
“Secara bahasa, Muhammadiyah berarti pengikut Nabi Muhammad SAW. Muhammadiyah merupakan organisasi Islam, gerakan dakwah amar ma’ruf nahi munkar, serta gerakan tajdid (pembaharuan) yang bersumber pada Al-Qur’an dan Sunnah Ashahihah,” jelasnya di hadapan jamaah yang memadati masjid.
Tujuannya adalah, lanjutnya, untuk menegakkan dan menjunjung tinggi ajaran Islam guna mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.
Menurutnya, Muhammadiyah ibarat alat perjuangan. Oleh karena itu, tidak dibenarkan seseorang bersikap fanatik terhadap organisasinya. Warga Muhammadiyah harus bersikap terbuka dan mampu bekerja sama dengan organisasi atau gerakan lainnya dalam rangka beramal saleh, menegakkan keadilan, serta mewujudkan kemaslahatan bagi bangsa dan negara.
“Hakikat Bermuhammadiyah yang kedua adalah bahwa ia merupakan jalan pengabdian untuk menegakkan agama Islam yang benar dan lurus, sebagaimana diperintahkan Allah SWT dalam Al-Qur’an surat Ar-Rum ayat 30. Sejak awal berdirinya, Muhammadiyah telah berupaya memurnikan ajaran Islam dari berbagai pengaruh takhayul, bid’ah, dan khurafat, dengan cara yang santun dan menggembirakan,” sambungnya.
Ustaz Suparna menegaskan bahwa berdirinya panti asuhan, sekolah, rumah sakit, dan berbagai amal usaha Muhammadiyah lainnya dimaksudkan antara lain untuk memberantas kebodohan serta menjauhkan masyarakat dari praktik atau ajaran yang tidak sesuai dengan tuntunan agama Islam.
Hakikat ketiga, kata Ustaz Suparna, adalah bahwa Bermuhammadiyah merupakan bentuk jihad di jalan Allah SWT. Jihad ini tidak semata-mata dimaknai sebagai perang melawan musuh, tetapi juga sebagai perjuangan yang luas dan penuh kesungguhan untuk menegakkan nilai-nilai Islam yang berkemajuan.
“Jangan menjadi kader Muhammadiyah yang ecek-ecek, ketika diajak pengajian enggan berangkat hanya karena hujan rintik-rintik, tetapi saat diajak ke walimahan, hujan deras pun diterjang dengan semangat,” candanya yang kemudian disambut tawa para jamaah
Adapun hakikat keempat, sambungnya, adalah perjuangan membela dan memperkuat Muhammadiyah yang harus dilakukan melalui sistem organisasi yang baik. Muhammadiyah tidak dapat diperjuangkan secara individual, melainkan harus dilakukan dalam satu barisan, satu sistem, dan satu tujuan.
Di akhir kajian, Ustaz Suparna menegaskan bahwa keempat hal tersebut menjadi pengingat bahwa Bermuhammadiyah bukan sekadar menjadi anggota organisasi, melainkan merupakan komitmen untuk menjalani kehidupan yang lebih bermakna melalui kesadaran beribadah, beramal saleh, berjihad, dan berjuang bersama guna mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments