Memasuki pekan pertama Ramadan 1447 H, Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Kota Batu melalui Majelis Tabligh dan Ketarjihan sukses menggelar agenda tahunan Kajian Nyai Walidah bertema “Menebar Kebaikan Ramadhan 1447 H Untuk Kehidupan Lebih Bermakna”. Selama empat hari berturut-turut, (18-21/2/2026), Masjid At-Taqwa Batu menjadi saksi hadirnya ribuan jamaah yang haus akan siraman rohani.
Keempat sesi kajian menghadirkan pemateri berkualitas dengan tema-tema strategis yang mengupas tuntas peran perempuan dalam perspektif Islam, kesehatan mental, kesetaraan gender, hingga kedudukan ibu dalam Al-Qur’an.
Perempuan Adalah Kunci Peradaban
Kajian perdana dibuka dengan tema besar “Peran Perempuan dalam Pembangunan Ummat”. Prof. Dr. Candra Fajri Ananda, SE., M.Sc. tampil memukau dengan memaparkan fondasi teologis tentang bagaimana Islam memuliakan perempuan.
Mengawali materi, beliau membacakan ayat-ayat suci Al-Qur’an yang menegaskan bahwa hak pendidikan bagi perempuan adalah keniscayaan, karena rumah pertama bagi seorang anak adalah perempuan itu sendiri.
“Kunci pendidikan terletak pada ibu di rumah. Kebiasaan belajar dimulai dari ibu. Perempuan adalah dasar dan keteladanan,” tegas Prof. Candra di hadapan jamaah yang memadati Masjid At-Taqwa.
Ia juga mengingatkan bahwa dalam hadits qudsi, ketika orang tua meninggal, yang dinantikan hanyalah doa anak-anaknya. Ini menunjukkan betapa besar investasi akhirat yang ditanamkan melalui rahim pendidikan ibu.
Menurutnya Ibu adalah pusat keteladanan dalam keseharian keluarga, pondasi pertama perkembangan anak ada di pangkuan ibu, kunci kesuksesan pendidikan anak terletak pada ibu.
Selanjutnya, jika ingin anak mudah menerima ilmu, didiklah dari hati. Di balik kesuksesan suami, ada istri yang luar biasa. Perempuan memiliki otot kuat, tulang besi (fisik dan mental tangguh).
Ekonomi yang kuat bisa menguatkan ibadah, tauhid dan akhlak adalah pondasi utama, peran besar perempuan dalam menjaga moralitas rumah tangga. Pengetahuan bagus, fisik kuat harus seiring sejalan, keikhlasan dan niat tulus ibu adalah energi tak terbatas.
Prof. Candra mengingatkan para ibu untuk tidak mengukur kesuksesan dari capaian materi semata.
“Kesuksesan sejati adalah keteladanan dalam tauhid, akhlak, dan adab,” pesannya.
Ia juga menekankan bahwa ibu memiliki peran sosial dalam dakwah, ekonomi, dan menjaga moralitas rumah tangga. Di akhir sesi, ia mengutip hadits: Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain.” dan “Ilmu kalau diajarkan akan terus bertambah. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments