Sakit dan sehat adalah dua sifat yang ada pada manusia, yang membuat manusia sedih dan ada kalanya senang serta bahagia. Kebahagiaan memang tidak terukur karena kebahagiaan dapat dimiliki siapa saja, baik orang miskin maupun orang kaya, pejabat atau rakyat biasa, petani maupun pengusaha.
Kesehatan adalah nikmat yang sangat mahal harganya. Hal ini dapat dibuktikan ketika seorang yang kaya raya jatuh sakit; ia harus mengeluarkan biaya berobat jutaan rupiah, bahkan harus menjual harta berupa tanah dan perhiasan yang berharga sampai ludes.
Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda, “Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang.” (HR. Bukhari dari Ibnu ‘Abbas)
Ibnu Baththol mengatakan, “Seseorang tidaklah dikatakan memiliki waktu luang hingga badannya juga sehat. Barang siapa yang memiliki dua nikmat ini, hendaklah ia bersemangat dan jangan sampai ia tertipu dengan meninggalkan syukur kepada Allah atas nikmat yang diberikan. Bersyukur adalah dengan melaksanakan setiap perintah dan menjauhi setiap larangan Allah Subhaanahu wa Ta’ala. Barang siapa yang luput dari syukur semacam ini, maka dialah yang tertipu. Kesyukuran pasti berbalas dengan nikmat yang melebihi amal kita. Di sinilah kesempatan ketika sehat dan memiliki peluang.”
Menjadikan Sehat untuk Beramal
Ketika sehat, sangat cerdas bila dimanfaatkan untuk menebarkan kebaikan, baik dengan meningkatkan keimanan kepada Allah Subhaanahu wa Ta’ala maupun meningkatkan kepedulian kepada sesama manusia. Karena sehat juga merupakan kesempatan emas untuk mengukir amal saleh sebagai bekal akhirat dan langkah menuju surga.
Oleh karena itu, setiap mukmin yang sehat wal afiat wajib memanfaatkan dirinya untuk menabur kebaikan di mana-mana sebelum datang waktu sakit yang tak dapat diterka kedatangannya.
Sakit bagi Mukmin sebagai Pengampunan Dosa
Sakit yang menimpa orang mukmin merupakan penghapus dosa dan sebab mendapatkan ampunan dari Allah Subhaanahu wa Ta’ala, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang didengar Aisyah Radhiyallahu ‘anha:
“Tiada suatu apa pun yang menimpa seorang mukmin walau duri sekalipun, kecuali Allah akan menuliskannya sebagai suatu kebaikan dan dihapus-Nya kesalahan.” (HR. Bukhari-Muslim)
Dalam hadis yang lain, berbagai macam derita, kesusahan, dan penyakit yang menimpa seseorang dapat menghapuskan kesalahan-kesalahan. Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Tidak menimpa seorang mukmin rasa capai, sakit, gelisah, sedih, susah, sampai duri yang menusuknya, kecuali Allah akan menghapuskan karenanya kesalahan-kesalahannya.” (HR. Bukhari)
Hadis ini menyemangati kita agar ketika sakit tetap melaksanakan ibadah, tetapi tidak mendorong kita untuk mengharapkan sakit. Bagi seorang mukmin yang sakit, ia tetap mendapatkan penghargaan berupa pahala atas amal yang diterimanya.





0 Tanggapan
Empty Comments