Hari terakhir Pelatihan Manajemen Reputasi Digital Organisasi Zona II Pimpinan Pusat Muhammadiyah ditutup dengan suasana berbeda.
Jika dua hari sebelumnya para peserta serius menyimak materi di ruang pertemuan, maka Ahad (31/8/2025) pagi, mereka diajak bergerak lebih bebas melalui outbound yang digelar di pelataran parkir Hotel Narita, Tangerang.
Udara pagi yang segar berpadu dengan tawa dan sorak-sorai peserta membuat kegiatan terasa meriah. Outbound ini bukan sekadar permainan, tetapi menjadi ruang untuk menguji fokus, konsentrasi, sekaligus membangun kekompakan antarpeserta.
Instruktur memulai dengan permainan sederhana. Di mana peserta diminta mengikuti instruksi langkah maju, mundur, ke kanan, atau ke kiri.
Mereka dibagi ke dalam empat grup, lalu secara bergiliran mengikutinya. Di sesi ini hampir semua peserta bisa melakukannya dengan baik.
“Ternyata gampang sekali, yang penting fokus,” celetuk salah seorang peserta disambut tawa dari kelompok lain.
Namun keseruan mulai terasa saat instruksi diubah. Peserta tidak lagi diminta mengikuti arahan, melainkan melakukan kebalikannya.
Jika instruktur berkata “maju”, maka mereka harus mundur. Begitu pula saat terdengar kata “kanan”, peserta mesti melangkah ke kiri.
Di sinilah kekacauan kecil terjadi. Beberapa kelompok tampak kebingungan, bahkan ada yang nyaris bertabrakan. Sorakan dan gelak tawa pun pecah, menambah riuh suasana.
Meski hanya permainan, outbound ini menyimpan pesan penting. Peserta belajar bahwa dalam organisasi, mengikuti instruksi tidak sekadar soal taat, tetapi juga soal konsentrasi dan kesiapan berpikir cepat ketika situasi berubah.
“Kalau tadi salah langkah, bisa tabrakan. Sama seperti di organisasi, kalau salah ambil keputusan, bisa berakibat fatal,” ujar Dr. KH Sholihin Fanani, Wakil Ketua PWM Jatim, memberi refleksi.

***
Jika permainan pertama dipenuhi tawa dan sorak, maka sesi berikutnya menghadirkan suasana berbeda. Masing-masing kelompok peserta outbound diberi segenggam sedotan plastik.
Tugasnya sederhana namun menantang: membuat jembatan dan menara setinggi mungkin hanya dengan bahan ringan itu.
Sejak instruksi diberikan, suasana mendadak berubah. Riuh tawa yang sebelumnya bergema di pelataran parkir Hotel Narita perlahan hilang. Digantikan hening penuh konsentrasi.
Setiap peserta tampak serius. Berembuk dan mengotak-atik sedotan. Ada yang mencoba menyusun model segitiga, ada yang melilitkan sedotan satu sama lain, bahkan ada yang langsung merangkai tanpa banyak bicara.
“Kita buat rangka dulu, nanti baru ditinggikan,” ujar salah satu peserta memberi instruksi pada timnya. Sementara di kelompok lain, peserta tampak asyik mengukur panjang sedotan agar simetris.
Waktu terus berjalan. Tak lebih dari 30 menit, satu per satu menara mulai berdiri. Ada yang ramping menjulang, ada pula yang kokoh meski pendek.
Kreativitas tiap kelompok benar-benar diuji. Tidak ada lagi canda berlebihan, semua larut dalam keseriusan merangkai sedotan.
Momen paling mendebarkan datang saat panitia menguji hasil karya. Dengan selembar potongan kardus, panitia mengipasi menara dan jembatan yang telah berdiri. Angin buatan itu menjadi ujian ketahanan.
Sorak peserta kembali pecah ketika menara rapuh mulai bergoyang, lalu roboh. Sebaliknya, tepuk tangan meriah menggema saat ada menara yang tetap tegak, seolah menantang angin.
Kelompok peserta yang hasil karyanya roboh mendapat punishment unik: pipinya dilaburi bedak putih. Begitu satu per satu anggota tim maju, gelak tawa pun kembali pecah.
Ada yang tertawa sambil pasrah ketika wajahnya dipoles bedak tebal, ada pula yang berusaha menghindar namun akhirnya tetap kena sentuhan tangan panitia.
Alih-alih membuat suasana tegang karena “kalah”, hukuman ini justru mencairkan atmosfer. Wajah-wajah peserta yang semula serius membangun menara, kini berubah jenaka.
Bedak yang menempel di pipi menjadi simbol bahwa dalam permainan ini, kalah pun tetap menyenangkan. Justru lewat canda dan hukuman ringan inilah, kebersamaan antar peserta semakin erat.
Tiba giliran menguji hasil karya berupa jembatan. Dari sekian kelompok, tim yang dimotori Kiai Sholihin Fanani akhirnya terpilih sebagai yang terbaik.
“Jembatan ini kami buat dengan empat pilar. Ada filosofinya, yakni kejujuran, komitmen, kolaborasi, dan konsistensi,” ujar Kiai Sholihin sambil menunjuk hasil karya timnya.
Outbound yang penuh keceriaan ini sekaligus menjadi penutup manis rangkaian pelatihan. Para peserta pulang membawa bekal berharga, yakni manajemen reputasi yang melatih diri untuk tetap fokus, sigap, dan mampu bekerja sama di segala situasi. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments