Di era digital umat Islam harus cerdas dalam berkomunikasi agar tidak terjadi kesalahpahaman. Oleh karenanya, perlu memperhatikan etika berkomunikasi. Pesan ini disampaikan KH Mulyono AR, PDM Lamongan, pada Kajian Jumat Pagi di Masjid Taqwa Babat, Jumat (12/9/2025).
KH Mulyono AR mengatakan, di era digital komunikasi dengan orang lain perlu mendapat perhatian, sebab media sosial sangat berpengaruh dalam kehidupan. Membekali diri dengan etika berkomunikasi dapat dilakukan dengan enam cara sebagaimana berikut ini.
Enam Etika dalam Berkomunikasi
Pertama, Berkomunikasi atas dasar kebenaran dan Kedabaran. Inspirasi ini diambil dari Al-Qur’an surat Al-‘Ashr ayat 1-3. Allah mengingatkan pentingnya mengingat atas dasar kebenaran dan kesabaran, sebab dalam segala sesuatu yang kita inginkan tidak terlepas dari proses.
Nah, di era digital ini kebenaran dan kesabaran menjadi ukuran dalam interaksi di tengah pergaulan masyarakat.
Kedua, filtrasi dalam menerima informasi. Di era digitalisasi kita harus cerdas menyaring berita yang kita baca, utamanya dari media sosial. Tidak boleh kita telan mentah-mentah. Allah Subhaanahu wa Ta’ala telah mengingatkan dalam surat Al-Hujurat ayat 8.
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu.”
Ketiga, menghindari ujaran kebencian. Ujaran yang berbentuk ejekan, penghinaan, merendahkan, dan yang dilarang Islam. Islam mengajarkan untuk saling menghargai dan saling menghormati perbedaan, baik perbedaan suku, ras, budaya, maupun perbedaan pilihan dan pendapat.
“Inilah yang diperintahkan Islam,” tambah Kiai Mulyono.
Dalam pada itu, lanjutnya, Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman dalam surat Al-Hujurat: 11.
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman, dan barang siapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.”
“Berdasarkan ayat tersebut, semua perbuatan tercela yang berkaitan dengan komunikasi sangat dilarang dalam Islam,” jelas Anggota PDM Lamongan ini.
Keempat, berkomunikasi dengan nilai-nilai kebaikan. Berkaitan dengan komunikasi di tengah masyarakat, hendaknya diperhatikan nilai-nilai kebaikan sebagaimana dianjurkan Islam.
Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman, “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Tuhan Sejatimu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”
Kelima, menjauhi prasangka buruk. Dalam pergaulan hidup kita tidak dapat menilai seseorang yang belum kita kenal dengan baik. Maka kita dilarang berprasangka buruk kepada orang lain. Hal ini disebutkan dalam Al-Qur’an surat Al-Hujurat ayat 12.
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.”
Keenam, menjadikan media sosial ajang amar makruf nahi mungkar. Agama kita memerintah amar makruf nahi mungkar, memerintah yang makruf dan mencegah yang mungkar, kejahatan maupun kemaksiatan.
Sebagaimana firman Allah dalam surat Ali Imran: 110, “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.”
Sebelum mengakhiri kajian ini, Kiai Mulyono menambahkan dalam melakukan nahi mungkar telah dijelaskan hadis dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu.
“Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barang siapa dari kalian melihat kemungkaran, ubahlah dengan tangannya. Jika tidak bisa, ubahlah dengan lisannya. Jika tidak bisa, ingkarilah dengan hatinya, dan itu merupakan selemah-lemahnya iman.’” (HR. Muslim).
Pengajian JumPa (Jumat Pagi) diselenggarakan Majelis Tabligh dan Tajdid Pimpinan Cabang Muhammadiyah Babat. Hadir PCA dan PCM Babat beserta majelisnya, PRM dan PRA se-Cabang Babat, serta pimpinan dan karyawan AUM.





0 Tanggapan
Empty Comments