Sejak berdiri pada 1912, Muhammadiyah telah memantapkan diri sebagai gerakan Islam modernis di Indonesia yang menempatkan pendidikan sebagai poros utama dakwah dan transformasi sosial.
Di tengah akselerasi perubahan global—yang mencakup digitalisasi, kompetisi global, disrupsi teknologi, hingga degradasi moral—diperlukan landasan filosofis pendidikan yang kokoh, relevan, sekaligus adaptif.
Filsafat pendidikan Muhammadiyah menawarkan kerangka normatif dan praktis untuk membangun ekosistem pendidikan holistik yang mampu mencerdaskan, memajukan, dan memanusiakan manusia.
Artikel ini menguraikan secara mendalam esensi filsafat pendidikan Muhammadiyah, nilai-nilai fundamentalnya, serta aktualisasi konsep tersebut dalam menjawab tantangan era modern.
Filsafat pendidikan Muhammadiyah tegak di atas fondasi Islam Berkemajuan.
Nilai ini bersumber dari tauhid, hakikat manusia sebagai makhluk progresif, struktur epistemologi Islam, serta orientasi aksiologis yang menekankan kemaslahatan, keadaban, dan kemanusiaan.
Keempat landasan tersebut menjadi kompas utama dalam seluruh proses pembelajaran, kebijakan pendidikan, dan pengembangan institusi di lingkungan Muhammadiyah.
1. Tauhid Sebagai Dasar Ontologis Pendidikan Muhammadiyah
Tauhid merupakan poros filosofis pendidikan Muhammadiyah yang menegaskan bahwa seluruh aktivitas kependidikan harus berorientasi pada penghambaan kepada Allah dan perluasan kemaslahatan.
Secara ontologis, filsafat pendidikan Muhammadiyah bertumpu pada prinsip monoteisme murni; sebuah keyakinan akan keesaan Allah yang mengonstruksi seluruh dimensi kehidupan manusia.
Bagi Muhammadiyah, tauhid bukanlah sekadar dogma teologis, melainkan spirit peradaban.
Pemikiran Ahmad Dahlan menekankan bahwa tauhid harus memanifestasikan etos kerja, kedisiplinan, tanggung jawab sosial, serta transformasi nyata bagi masyarakat.
Nilai tauhid ini mendekonstruksi sikap pasif dan menggantinya dengan etika kerja, nalar rasional, serta gerakan sosial.
Dalam orientasi kependidikan, tujuan akhirnya adalah membentuk insan kamil bertauhid, yakni pribadi yang mampu mengintegrasikan kecerdasan spiritual, moral, dan intelektual secara harmonis.
2. Manusia Sebagai Makhluk Berkemajuan
Sinergi keempat dimensi inilah yang mengonstruksi konsep Manusia Berkemajuan.
Istilah ‘berkemajuan’ merupakan identitas utama Muhammadiyah.
Dalam ranah pedagogis, hal ini berarti memacu inovasi, kreativitas, dan daya adaptasi; menolak stagnasi nalar; serta menumbuhkan etos ilmiah yang berkelindan dengan etika sosial.
Pendidikan Muhammadiyah membuka diri terhadap sains dan teknologi modern tanpa mencabut akar nilai keislaman.
Visi kependidikannya bertujuan membebaskan peserta didik dari belenggu kemiskinan ilmu, ketergantungan teknologi, polarisasi informasi, dan gaya hidup konsumtif.
Alih-alih sekadar mencetak lulusan berilmu, pendidikan Muhammadiyah berorientasi pada lahirnya para problem solver, inovator, dan motor perubahan.
Manusia berkemajuan adalah produk autentik dari pendidikan dan dakwah tajdid.
Melalui tajdid, dilakukan akselerasi inovasi pedagogis, integrasi epistemologi agama dan sains, serta optimalisasi teknologi digital demi pembelajaran yang bermakna.
Umat diarahkan kembali pada kemurnian ajaran Islam yang dipahami secara rasional, kontekstual, dan ilmiah.
Proses ini mendidik individu untuk menanggalkan takhayul, khurafat, bid’ah, serta sikap anti-intelektualisme, sekaligus membimbing mereka mengembangkan wawasan yang modern dan kritis.
Dari rahim pendidikan inilah lahir Manusia Berkemajuan: pribadi yang religius, berakhlak mulia, berpikiran terbuka, dan progresif.
3. Epistemologi Pendidikan Muhammadiyah Berbasis Al-Qur’an dan Sunnah
Epistemologi pendidikan Muhammadiyah menempatkan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai fundamen moral, parameter kebenaran, serta sumber nilai bagi prinsip dasar kehidupan.
Muhammadiyah mengadopsi paradigma integratif yang meleburkan dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum.
Dalam kerangka ini, Muhammadiyah bersikap adaptif terhadap perkembangan sains, ilmu sosial, teknologi, maupun humaniora.
Pendekatan integrasi-interkoneksi diterapkan untuk menyelaraskan nilai-nilai wahyu dengan temuan ilmiah kontemporer.
Konsekuensinya, ilmu pengetahuan tidak lagi dipandang secara parsial sebagai entitas agama dan non-agama, melainkan sebagai satu kesatuan organik demi mewujudkan kemaslahatan semesta.
Etos ilmiah dan semangat pembaruan (tajdid) Muhammadiyah secara konsisten menekankan aspek rasionalitas, metodologi ilmiah, berpikir kritis, serta optimalisasi ijtihad dalam menjawab tantangan pendidikan.
Transformasi pemikiran inilah yang menjadi landasan bagi perguruan tinggi Muhammadiyah untuk terus mengeksplorasi pusat riset dan inovasi.
4. Aksiologi Pendidikan Muhammadiyah :Keadaban dan Kemanusiaan
Aksiologi pendidikan Muhammadiyah memosisikan pendidikan sebagai instrumen strategis untuk membangun masyarakat berkeadaban (civil society).
Visi ini diaktualisasikan melalui penanaman etika, kesantunan sosial, empati, keteraturan, serta penghormatan terhadap hak asasi manusia.
Dalam pandangan ini, pendidikan melampaui batas pencapaian akademik; ia adalah proses fundamental dalam pembentukan karakter moral.
Sebagai praksis kemanusiaan, nilai-nilai kemanusiaan menjadi inti dari setiap gerak amal usaha Muhammadiyah.
Manifestasi nyata dari nilai tersebut tecermin dalam semangat pembebasan kaum duafa (memihak yang lemah), pelayanan inklusif tanpa diskriminasi, serta pengembangan pilar kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan sosial.
Prinsip pengabdian ini terkristalisasi dalam pesan autentik K.H. Ahmad Dahlan: “Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah.***





0 Tanggapan
Empty Comments