Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Etika Islam Berkemajuan dalam Dunia Informatika

Iklan Landscape Smamda
Etika Islam Berkemajuan dalam Dunia Informatika
Oleh : Nadia Wati Aprianti Mahasiswa Universitas "Ahmad Dahlan" Yogyakarta
pwmu.co -

Perkembangan teknologi informatika di era digital berlangsung sangat pesat.

Fenomena ini membawa perubahan signifikan dalam berbagai aspek kehidupan.

Teknologi digital telah mempermudah komunikasi, mempercepat akses informasi, serta mengubah cara manusia belajar, bekerja, dan mengambil keputusan.

Namun, kemajuan tersebut juga menghadirkan tantangan serius, khususnya dalam aspek etika digital.

Masyarakat kini menghadapi berbagai persoalan serius seperti penyalahgunaan data pribadi, pelanggaran privasi, dan maraknya informasi hoaks di ruang siber.

Fenomena ini secara nyata menggerus tanggung jawab moral pengguna teknologi sehingga menuntut perhatian kita semua.

Fakta ini menunjukkan bahwa kemajuan teknologi tidak selalu berjalan beriringan dengan nilai dan etika.

Oleh karena itu, perlu adanya perspektif nilai yang mampu mengarahkan pemanfaatan teknologi agar tetap berada dalam koridor kemanusiaan.

Islam Berkemajuan sebagai Landasan Etika Digital

Dalam konteks inilah, Islam Berkemajuan hadir sebagai tawaran nilai yang relevan.

Karena sejatinya Islam tidak memusuhi modernitas, tetapi memberikan kerangka etis agar perkembangan teknologi informatika tetap berorientasi pada kemaslahatan umat dan keadaban manusia.

Bidang Teknik Informatika (TI) memiliki peran strategis dalam membentuk wajah peradaban digital.

Berbagai sistem digital mulai dari media sosial, sistem informasi, kecerdasan buatan, hingga teknologi berbasis data besar

Dalam ajaran Islam, manusia diposisikan sebagai khalifah di muka bumi.

Konsep ini menegaskan bahwa manusia memiliki tanggung jawab moral dalam mengelola seluruh potensi, termasuk teknologi, secara bijaksana dan bertanggung jawab.

Teknologi berfungsi sebagai katalisator, bukan tujuan akhir, demi mewujudkan kesejahteraan kolektif dan keadilan bagi seluruh lapisan masyarakat.

Islam Berkemajuan —dalam pemikiran Muhammadiyah— memandang sains dan teknologi sebagai bagian dari ikhtiar membangun peradaban.

Kendati demikian, akselerasi teknologi wajib berpadu selaras dengan penguatan nilai akhlak serta kedalaman spiritualitas.

Prinsip amanah, misalnya, menuntut kejujuran dalam pengelolaan data dan informasi.

Sedangkan prinsip keadilan secara tegas menolak segala bentuk diskriminasi dalam akses teknologi.

Demikian juga dengan prinsip kemaslahatan yang berfungsi memastikan bahwa inovasi teknologi membawa manfaat nyata bagi masyarakat luas.

Meskipun sistem-sistem canggih ini merupakan hasil karya para praktisi informatika.

Sayangnya, pengembangan teknologi kerap berfokus pada aspek efisiensi, kecepatan, dan keuntungan ekonomi, sementara dimensi etika sering kali terabaikan.

Penerapan nilai-nilai moral memastikan kemajuan teknologi senantiasa membawa kemanfaatan luas, menjaga kerahasiaan data, serta menjamin kejujuran informasi bagi masyarakat.

Tantangan utama dunia informatika saat ini bukan hanya persoalan teknis, namun juga persoalan nilai.

Karena itu, penguatan etika digital menjadi kebutuhan mendesak dalam pengembangan dan pemanfaatan teknologi.

Internalisasi Nilai AIK dalam Praktik Informatika

Nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) dapat menginternalisasi praktik TI pada berbagai level.

Pada level individu, mahasiswa dan praktisi informatika harus memiliki kesadaran etis dalam setiap proses pengembangan dan penggunaan teknologi.

Kejujuran akademik, penghormatan terhadap hak cipta, serta tanggung jawab dalam pengelolaan data merupakan wujud konkret nilai amanah.

Pada level institusi, penerapan nilai AIK melalui tata kelola teknologi informasi yang transparan dan akuntabel.

Sistem informasi di lembaga pendidikan dan organisasi sosial hendaknya dirancang tidak hanya aman secara teknis, tetapi juga adil dan berpihak pada kepentingan publik.

Dengan demikian, teknologi berfungsi sebagai sarana pelayanan dan pemberdayaan, bukan alat eksploitasi.

Literasi Digital dan Budaya Tabayyun

Di tengah kompleksitas era digital, akselerasi diseminasi informasi sering kali diwarnai oleh polusi hoaks dan disinformasi yang sistematis.

Fenomena ini mengonfirmasi bahwa penguatan literasi digital masyarakat tidak boleh sekadar menyentuh aspek kecakapan teknis (technical skill), melainkan harus menyentuh ranah etika (ethical wisdom).

Dalam khazanah Islam, prinsip tabayyun hadir sebagai kompas etis yang mengajarkan signifikansi sikap kritis, skeptisisme yang sehat, serta akurasi dalam memproses informasi.

Prinsip tabayyun menemukan relevansinya yang paling krusial di tengah arus informasi yang serba instan.

Setiap individu mengemban tanggung jawab moral untuk memverifikasi validitas setiap narasi sebelum melanjutkannya ke ruang publik.

Dalam domain TI, nilai teologis ini dapat ditransformasikan ke dalam pengembangan sistem yang mengutamakan transparansi, integritas data, serta mekanisme preventif terhadap segala bentuk manipulasi informasi.

Menuju Peradaban Digital yang Bermartabat

Pada hakikatnya, tantangan fundamental dalam transformasi digital bukanlah keterbatasan inovasi, melainkan krisis orientasi nilai.

Perspektif Islam Berkemajuan hadir memberikan navigasi agar perkembangan teknologi tidak teralienasi dari akar kemanusiaan.

Dengan mengintegrasikan nilai amanah, keadilan, dan kemaslahatan sebagai fondasi aksiologis, teknologi akan bertransformasi menjadi katalisator peradaban digital yang adil, inklusif, dan berkeadaban.

Bagi generasi muda TI, khususnya dalam lingkungan Muhammadiyah, tantangan ini merupakan peluang strategis untuk membuktikan bahwa kecanggihan teknologi dan nilai-nilai Islam dapat berkonvergensi secara harmonis.

Inilah jalan untuk membangun masa depan peradaban yang tidak hanya maju secara material, tetapi juga luhur secara martabat.***

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu