
PWMU.CO – Setiap orang tua pasti bangga jika putra dan putrinya dapat mempelajari al-Qur’an sejak dini. Bukan hanya membaca, tetapi juga menghafal al-Qur’an.
Menjadi seorang hafidz di usia muda bukanlah hal yang mudah. Diperlukan program dan teknik khusus yang dapat membuat anak mencintai al-Qur’an sejak dini. Ditambah dengan dukungan orang tua, lingkungan yang baik, serta dorongan dari sekolah, anak dapat menjadi hafidz al-Qur’an meski masih dalam usia belia.
Evellyn Reginal Valencia Putri, salah satu siswa terbaik SD Muhammadiyah 1 Krian (SD Sakri) Sidoarjo, yang saat ini duduk di kelas VI Umar bin Khattab, berhasil menyelesaikan hafalan al-Qur’an sebanyak 26 juz.
“Alhamdulillah sudah 26 juz. Juz 30, 29, juz 1 sampai juz 24,” ungkapnya saat diwawancarai secara daring pada Sabtu (3/5/2025).
Setiap hari, Evellyn—sapaan akrabnya—menghafal al-Qur’an setelah salat Subuh dan setelah salat Magrib bersama ibundanya. Dilanjutkan di sekolah bersama guru Baca Tulis Quran (BTQ) untuk pembenahan bacaan dan tajwid, kemudian disetorkan kepada Ustazah Susi, yang merupakan tim Tajdied Center PWM Jawa Timur, setiap satu minggu sekali.
Ia mulai menghafal al-Qur’an sejak kelas 1 SD, dan selama kurun waktu kurang lebih enam tahun, Evellyn berhasil menghafalkan al-Qur’an sebanyak 26 juz.
Ketika ditanya motivasi apa yang membuatnya mampu menghafal hingga 26 juz di usia 12 tahun, Evellyn menyampaikan, “Ingin menjadi seperti Ustadz Adi Hidayat,” ungkapnya.

Memiliki putri seorang hafidz al-Qur’an di usia belia merupakan sebuah kebanggaan yang tidak bisa digantikan dengan prestasi lainnya. Di sisi lain, secara akademik Evellyn juga memiliki prestasi yang sangat baik di kelas. Hal ini tentu menjadi kebanggaan yang tak ternilai harganya.
Meskipun begitu, Evellyn tidak mendapatkan prestasinya begitu saja. Banyak perjuangan yang harus ditempuh, di antaranya manajemen waktu yang baik dan merelakan banyak waktu bermainnya untuk menghafal al-Qur’an. Ia juga mengungkapkan hambatan terbesar ketika menghafal adalah munculnya rasa bosan saat badan terasa lelah.
“Kadang kalau di sekolah banyak kegiatan itu rasanya capek, jadi pengennya istirahat saja dan libur hafalan,” tuturnya.
Mujianah, ibunda Evellyn, mengakui bahwa perubahan mood Evellyn adalah hambatan terbesar selama mendampingi putrinya menghafal al-Qur’an. Ia berharap Evellyn tidak hanya menjadi penghafal al-Qur’an, tetapi juga mampu mengamalkan nilai-nilai yang terkandung dalam al-Qur’an di kehidupan sehari-hari.
“Sebagai orang tua, kami berharap Evellyn tidak hanya menjadi penghafal al-Qur’an, tetapi juga mampu memahami dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari,” ungkapnya penuh harap.
Penulis Yanuarti Pangestuningtyas Editor Zahra Putri Pratiwig






0 Tanggapan
Empty Comments