Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah (UNMUH) Jember kembali menegaskan komitmennya dalam penguatan kesehatan mental remaja melalui kegiatan Pelatihan Konseling bagi Guru dalam Pencegahan Perilaku Berisiko Remaja.
Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Kamis, (15/1/2026) bertempat di SMA Muhammadiyah 1 Watukebo, Jember, dan diikuti oleh guru-guru dari Madrasah Aliyah Muhammadiyah (MAM) 1 Jember.
Pelatihan yang berlangsung pukul 09.00–15.00 WIB ini diikuti oleh 20 guru, terdiri atas wali kelas, guru Bimbingan Konseling (BK), serta guru mata pelajaran.
Kegiatan tersebut menghadirkan empat narasumber dari Fakultas Psikologi, yakni Anggraeni Swastika Sari, S.Psi., M.Si. selaku ketua tim, Nuraini Kusumaningtyas, S.Psi., M.Psi., Psikolog, Rya Wiyatfi Linsiya, S.Psi., M.A., Psikolog, dan Maulana Arif Muhibbin, S.Psi., M.Si. Program ini merupakan bagian dari pengabdian kepada masyarakat yang didukung oleh LPPM.
Pelatihan disusun secara komprehensif melalui tiga materi utama dan satu sesi praktik (role play). Materi etika konselor disampaikan oleh Maulana Arif Muhibbin, dilanjutkan dengan konsep dasar konseling oleh Anggraeni Swastika Sari, serta teknik micro skill konseling oleh Rya Wiyatfi Linsiya. Kegiatan ditutup dengan sesi role play konseling yang dipandu oleh Nuraini Kusumaningtyas.
Pada sesi role play, para guru dibagi ke dalam beberapa kelompok kecil, di mana setiap kelompok terdiri dari peran konselor, konseli, dan observer. Para peserta secara bergantian menjalankan setiap peran, sehingga seluruh guru memperoleh pengalaman yang setara dalam mempraktikkan proses konseling, mengamati dinamika interaksi, serta memberikan umpan balik.
Metode tersebut dinilai efektif untuk meningkatkan pemahaman praktis sekaligus kepercayaan diri guru dalam melakukan pendampingan siswa. Sebelum dan sesudah pelatihan, peserta mengikuti pre-test dan post-test sebagai bentuk evaluasi peningkatan pemahaman dan keterampilan konseling.
Permasalahan Remaja
Ketua tim pengabdian, Anggraeni Swastika Sari, menegaskan bahwa permasalahan remaja saat ini semakin kompleks, mulai dari tekanan akademik, konflik keluarga, krisis identitas, perundungan, hingga risiko perilaku menyimpang dan gangguan kesehatan mental. Oleh karena itu, peran konseling di sekolah menjadi sangat krusial.
“Selama ini konseling sering dianggap hanya menjadi tugas guru BK. Padahal, guru BK saja tidak cukup untuk menjangkau seluruh kebutuhan siswa. Guru mata pelajaran dan wali kelas adalah pihak yang paling sering berinteraksi dengan siswa, sehingga mereka perlu dibekali keterampilan dasar konseling agar dapat membantu guru BK dalam melakukan pendampingan awal,” jelasnya.
Ia menambahkan, apabila guru BK dan guru pendamping sudah berupaya namun permasalahan siswa tidak dapat ditangani secara optimal, maka langkah selanjutnya adalah melakukan rujukan (referral) ke tenaga profesional, seperti psikolog atau layanan kesehatan mental. Pola kolaboratif ini diharapkan mampu menciptakan sistem dukungan yang lebih kuat bagi siswa.
Salah satu peserta pelatihan, Bapak Anang Supriyadi S.Pd wali kelas 10, menyampaikan apresiasinya terhadap kegiatan ini.
“Pelatihan ini sangat membuka wawasan kami. Selama ini kami ragu untuk mendampingi siswa yang bermasalah, takut salah langkah. Setelah mengikuti pelatihan ini, kami jadi lebih paham bagaimana mendengarkan siswa dengan benar dan memberikan respon yang tepat, diteruskan ke guru BK atau profesional,” ungkapnya.
Melalui kegiatan ini, Fakultas Psikologi menegaskan perannya tidak hanya sebagai pusat pendidikan dan keilmuan, tetapi juga sebagai mitra strategis sekolah dalam menciptakan lingkungan belajar yang sehat secara psikologis. Pelatihan ini diharapkan menjadi langkah awal terbangunnya kolaborasi berkelanjutan antara sekolah dan akademisi dalam upaya pencegahan perilaku berisiko serta penguatan kesehatan mental remaja. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments