Muhasabah diri dan saling mengingatkan dalam kebaikan adalah bentuk kasih sayang sesama mukmin. Luruskan niat karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala, bukan karena ingin dipuji, bukan karena riya, pamer, atau ujub.
Sebab dunia ini seringkali memabukkan pandangan hati. Apa yang tampak indah, gemerlap, dan memikat — sesungguhnya hanyalah ujian yang bisa menjerumuskan siapa pun yang lengah.
Semua yang ada di dunia ini bisa membuat manusia terlena, hingga lupa bahwa semuanya hanya sebentar saja. Rumah megah, kendaraan mewah, jabatan tinggi, dan kekuasaan besar — semuanya akan sirna bersama waktu.
Kita bisa melihat banyak contoh nyata di sekitar kita. Ada orang yang dulunya sederhana dan bersahaja, rajin ke masjid, hidupnya penuh syukur. Namun setelah memiliki harta melimpah, hatinya berubah.
Salat mulai ditinggalkan, sedekah terasa berat, bahkan teman-teman lamanya pun dijauhi. Dunia yang dulu ia cari dengan keringat dan doa, kini justru menjadi penguasa atas dirinya.
Ada pula pejabat yang awalnya berjuang dengan idealisme tinggi, ingin menolong rakyat kecil. Tapi setelah kekuasaan diraih, kursi jabatan terasa begitu nikmat untuk dilepaskan. Ia lupa bahwa jabatan hanyalah amanah, bukan warisan turun-temurun.
Maka dimulailah upaya mempertahankan kekuasaan dengan segala cara — bahkan tak jarang keluarganya ikut disiapkan menduduki jabatan yang sama. Padahal kemampuan belum tentu sepadan. Dan akhirnya, semua itu berakhir dengan kehinaan dan penyesalan.
Yang sudah kaya, ingin semakin kaya.
Yang sudah tinggi jabatannya, ingin lebih tinggi lagi.
Yang sudah berkuasa, ingin berkuasa selamanya.
Inilah wajah kerakusan manusia yang lupa bahwa dunia hanya sementara.
Maka itulah perlunya kita senantiasa menjaga keimanan dan ketakwaan.
Agar selamat dari bahaya cinta dunia yang menipu.
Pernahkah kita melihat seseorang yang begitu sibuk mengejar dunia hingga lupa pada anak dan keluarganya?
Setiap hari dikejar waktu, rapat ke rapat, proyek ke proyek. Namun ketika ajal datang menjemput, semua jabatan, semua harta, semua pujian — tak lagi berarti apa-apa. Yang tersisa hanyalah kain kafan dan amal kebaikan.
Hidup di dunia ini hanya sekali dan sebentar saja, sementara hidup di akhirat kekal selamanya.
Sungguh merugi bila kita lupa akan hakikat hidup yang sebenarnya.
Hakikat hidup kita adalah menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Itulah jalan keselamatan.
Saudara dan sahabatku,
Jangan sampai kita tertipu oleh gemerlap dunia. Dunia ini ibarat bayangan: ketika kita kejar, ia menjauh. Tapi ketika kita berpaling kepada Allah, dunia akan mengikuti di belakang tanpa kita sadari.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, kalau mereka mengetahui.” (QS. Al-Ankabut: 64)
Dalam firman-Nya yang lain:
“Ketahuilah oleh kalian, kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan, perhiasan, serta tempat bermegah-megahan dan berbangga-bangga akan banyaknya harta dan anak. Permisalannya seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya menguning kemudian hancur. Dan di akhirat kelak ada azab yang pedih dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Al-Hadid: 20)
Ibnu Katsir rahimahullah menggambarkan dunia ini sebagai perhiasan yang akan binasa — tipuan bagi siapa pun yang terlalu mencintainya. Dunia ini kecil dan hina dibandingkan dengan kehidupan akhirat yang kekal abadi.
Mari kita bayangkan: seseorang tengah berada di padang pasir yang luas, haus dan kelelahan. Di kejauhan tampak fatamorgana — seolah air menggenang, padahal hanya pantulan cahaya.
Ia berlari mengejarnya, namun tak pernah sampai. Begitulah dunia bagi orang yang mencintainya secara berlebihan: menipu pandangan, melelahkan hati, dan akhirnya membawa kecewa.
Karena itu, jangan biarkan hati kita dipenuhi ambisi dunia. Gunakan dunia sebagai jalan menuju akhirat, bukan sebaliknya. Dunia ini adalah ladang, bukan tempat tinggal.
Semoga kita tidak menghabiskan sisa hidup hanya untuk bersenda gurau dan bersenang-senang.
Hidup di dunia bagaikan seorang musafir yang sedang menempuh perjalanan panjang.
Ia berhenti sebentar di bawah pohon untuk berteduh, lalu melanjutkan langkah menuju tujuan sejatinya — kehidupan abadi di akhirat.
Insya Allah, semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala menerima amal ibadah kita, mengampuni dosa-dosa kita, dan mengaruniakan rahmat serta hidayah-Nya. Semoga kita diberi kesehatan, rezeki yang berkah, dan hati yang selalu terpaut kepada-Nya.
Aamiin aamiin yaa Rabbal ‘aalamiin. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments