Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Fathurrahman Kamal: Ambisi Tanpa Iman, Peradaban Kehilangan Arah

Iklan Landscape Smamda
Fathurrahman Kamal: Ambisi Tanpa Iman, Peradaban Kehilangan Arah
Ketua Majelis Tabligh PP Muhammadiyah Dr. Faturrachman Kamal menyampaikan tausiyah di di halaman SMA Muhammadiyah 1 Nganjuk. Foto: Istimewa
pwmu.co -

Di tengah pesatnya perkembangan peradaban dan kemajuan teknologi yang kian melesat, umat manusia dihadapkan pada kecenderungan baru: aktivitas yang semakin padat, prestasi yang terus dikejar, serta ambisi yang membumbung tinggi.

Namun di balik semua itu, ada kegelisahan mendasar, ketika Allah SWT tak lagi dihadirkan dalam orientasi hidup.

Kegelisahan inilah yang disampaikan Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Fathurrahman Kamal, Lc, M.Si, saat mengisi Kajian Pagi Fajar Mubarak di halaman SMA Muhammadiyah 1 Nganjuk, Ahad (8/2/2026).

Ratusan warga Muhammadiyah yang hadir tampak menyimak dengan khidmat paparan yang menyentuh sisi terdalam kehidupan spiritual umat.

Dalam tausiyahnya, Dr. Faturrahman menegaskan bahwa problem umat Islam hari ini bukan semata soal keterbatasan kemampuan, minimnya jabatan, atau ketertinggalan teknologi.

Persoalan yang lebih mendasar, menurutnya, adalah hilangnya kesadaran ketuhanan dalam menjalani kehidupan.

“Banyak manusia modern yang cerdas secara intelektual, unggul dalam sistem, dan kuat secara teknologi. Tetapi pada saat yang sama, mereka rapuh secara spiritual,” ujarnya.

Dia menjelaskan, ketika iman dan tauhid tidak lagi menjadi fondasi, kecerdasan justru bisa berubah menjadi alat pembenaran hawa nafsu.

Orang pintar bisa kehilangan kebijaksanaan. Orang berkuasa bisa kehilangan arah. Bahkan sistem yang tampak canggih dapat menjadi instrumen kezaliman jika tidak dituntun nilai ilahiah.

“Inilah yang membuat orang pintar bisa kehilangan kebijaksanaan, karena Allah tidak lagi dihadirkan dalam pikir dan tindakannya,” tegasnya.

Faturrahman kemudian mengaitkan fenomena ini dengan kegelisahan KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah.

Menurutnya, sejak awal, KH Ahmad Dahlan telah mengingatkan bahaya ketika manusia mempertahankan hawa nafsu dan mengagungkan akal tanpa tunduk pada wahyu.

Dia mencontohkan logika Fir’aun yang meniadakan Allah SWT—sebuah simbol kesombongan intelektual dan kekuasaan yang terlepas dari tauhid.

Dalam konteks kekinian, kesombongan itu bisa hadir dalam bentuk modern: teknologi tanpa moral, kekuasaan tanpa amanah, dan pendidikan tanpa ruh.

Iklan Landscape UM SURABAYA

“Pendidikan, dakwah, dan kepemimpinan tidak cukup hanya berbasis dalil dan rasionalitas. Semua itu harus dihidupkan oleh ruh, spirit, dan kesucian jiwa,” paparnya.

Menurutnya, kemajuan peradaban tidak boleh dilepaskan dari pembangunan karakter dan kesadaran ketuhanan. Tanpa itu, peradaban akan kehilangan arah, bahkan berpotensi merusak manusia itu sendiri.

Dalam konteks global, Faturrahman menyinggung mega kasus Jeffrey Epstein yang sempat mengguncang dunia.

“Kasus tersebut bukan sekadar skandal individu, melainkan potret nyata bagaimana kekuasaan, kekayaan, dan teknologi yang tidak dibingkai iman dapat melahirkan kejahatan sistemik,” tegasnya.

Ambisi tanpa batas, ketika dilepaskan dari nilai ilahiah, tidak hanya merusak pelakunya, tetapi juga melukai kemanusiaan secara luas. Struktur sosial yang tampak mapan pun dapat runtuh ketika moralitas tidak lagi menjadi penyangga.

Fathurrahman mengingatkan, orientasi hidup yang semata bertumpu pada materi, jabatan, dan kemajuan teknologi pada akhirnya akan menemui kehampaan.

Semua capaian duniawi memiliki batas. Sementara jiwa manusia membutuhkan makna yang melampaui angka, posisi, dan popularitas.

“Teknologi dapat mempermudah hidup, tetapi tidak mampu menggantikan fungsi iman sebagai penuntun moral,” ujarnya.

Dengan nada reflektif, ia mengutip firman Allah, “Fainā tazhhabūn”—ke mana kita akan melangkah? Pertanyaan itu, menurutnya, menjadi sangat relevan di tengah derasnya arus modernitas. Ke mana arah peradaban jika Allah tidak lagi dilibatkan dalam setiap keputusan hidup?

Faturrahman juga menekankan pentingnya menghadirkan Allah dalam seluruh aktivitas kehidupan: dalam kepemimpinan, pendidikan, dakwah, ekonomi, hingga kehidupan sosial sehari-hari.

“Tanpa kesadaran ketuhanan, manusia mudah terjebak pada kesombongan dan merasa paling benar. Perasaan superioritas inilah yang kerap menjadi pintu masuk berbagai krisis moral dan konflik kemanusiaan,” katanya.

Spirit yang diwariskan KH Ahmad Dahlan, tegasnya, bukan sekadar membangun amal usaha atau sistem organisasi, tetapi membangun peradaban dengan jiwa yang bersih, rendah hati, dan selalu terhubung dengan Allah SWT. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu